Ketua Lembaga Kebudayaan Islam Jakarta mengatakan hal itu dalam wawancara yang dilakukan oleh beliau dengan Iqna.
Perselisihan dan beda pendapat dalam hal-hal yang dicatat oleh para sejarawan berkenaan dengan kejadian Asyura tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali menambah sensitifitas dan perpecahan di tengan kaum muslimin.
Beliau menambahkan sebanarnya masalah itu tidaklah terbatas pada masalah Asyura saja, namun semua penukilan sejarah memiliki dampak yang sama.
Berkenaan dengan keakuratan buku “Alluhuf fi Qatlit Thufuf” beliau menegaskan, bahwa sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Imam Ali Khamenei, bahwa ia merupakan buku yang paling akurat dalam menukil riwayat Asyura dan Karbala, karenanya beliau menukilnya dalam khotbah Jumatnya.
Selain itu Ibnu Thawus terkenal di kalangan ulama sebagai seorang arif dan ulama besar yang tercerahkan dalam bukunya menulis, bahwa jika tidak menjadi kebiasaan orang-orang menangis dalam acara-acara duka, maka saya katakan di hari Asyura orang-orang haruslah bergembira. Sebab beliau telah meraih keberhasilannya, namun karena orang-orang menangis pada hari tersebut, maka saya menulis buku ini. Dari kata-kata beliau saya memahami, bahwa Ibnu Thawus hanya menulis yang disepakati dan membuang yang tidak disepakati tanpa harus mengiyakan atau menegasikannya. Dan ini patut bagi kita menjadikannya sebagai sebuah pegangan dan pelajaran.