IQNA - Direktur Departemen Studi Bahasa Arab di Universitas Houston, AS, yang telah mengkaji peran dan pengaruh Sayyidah Khadijah (sa) -istri Nabi Muhammad (saw)- dalam pembentukan masa awal Islam, menyatakan, saya meyakini bahwa Sayyidah Khadijah (sa) -dan bukan pamannya, Abu Thalib- memainkan peran yang lebih penting dalam mendukung serta melindungi Nabi Muhammad (saw).
Tanggal 10 Rabiul Awal, bukan sekadar kebetulan dalam kalender sejarah; hari itu juga merupakan titik awal bagi salah satu ikatan terpenting dalam sejarah umat manusia. Pada hari itu, ikatan antara sang Khatamul Anbiya (saw) dan Sayyidah Khadijah (sa) bukan sekadar sebuah pernikahan, melainkan sebuah aliansi strategis yang meletakkan fondasi awal peradaban Islam di tengah situasi sulit di Makkah. Sebuah ikatan di mana kekayaan dan kedudukan Sayyidah Khadijah (sa) menjadi penopang bagi misi Nabi (saw), sehingga beban berat wahyu -di tengah kesendirian dan keterasingan Islam- dapat memulihkan hati orang-orang yang beriman.
Dalam bukunya yang berjudul "Queens and Prophets: How Arabian Noblewomen and Holy Men Shaped Paganism, Christianity and Islam", Emran Iqbal Al-Badawi -direktur Departemen Studi Bahasa Arab di University of Houston- menantang narasi tradisional mengenai Sayyidah Khadijah (as) dan menampilkan sosoknya sebagai tokoh kunci dalam perkembangan keagamaan serta budaya di Jazirah Arab pada abad ke-6 dan ke-7 Masehi.
Berikut ini adalah transkrip wawancara International Quran News Agency (IQNA) dengan Emran Iqbal Al-Badawi:
Iqna – Dalam salah satu bab buku Anda, sosok Sayyidah Khadijah (as) ditampilkan bukan sekadar sebagai istri yang suportif, melainkan juga sebagai tokoh sejarah yang membawa perubahan transformatif. Bagaimana penggambaran ini menantang atau memperluas narasi Islam tradisional mengenai peran beliau?
Saya memiliki dua tujuan utama dalam menampilkan sosok Sayyidah Khadijah (as) dengan cara demikian.
Pertama, ia berasal dari garis keturunan kuno perempuan ningrat yang membentuk sejarah, budaya, dan agama di Arabia serta Timur Dekat. Para perempuan ini mencakup ratu, pendeta perempuan, pejuang, pemimpin suku, dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya. Beberapa di antara mereka dikaitkan dengan sosok-sosok ilahi yang kemudian diadopsi dan dimaknai ulang oleh agama-agama Ibrahimi.
Kedua, sumber-sumber berbahasa Arab -termasuk riwayat-riwayat Siroh- tidak memberikan gambaran yang adil mengenai sosok Sayyidah Khadijah (as). Ia merupakan pihak yang lebih dominan dalam hubungan profesional maupun pribadinya dengan Muhammad (saw), baik sebelum masa kerasulan maupun pada awal masa kenabian.
Selain itu, sumber-sumber ini tidak seimbang karena mengecilkan latar belakang Kristen dan Hanif keluarga Sayyidah Khadijah (as), sementara pada saat yang sama menyucikan dan memuji keluarga Muhammad (saw), yang merupakan penyembah berhala.
Saya meyakini bahwa Sayyidah Khadijah (as), istri Nabi -dan bukan pamannya, Abu Thalib- memainkan peran yang lebih penting dalam mendukung dan melindungi beliau.
Iqna – Mengingat semakin besarnya minat untuk meninjau kembali peran perempuan dalam sejarah agama, apa yang Anda harapkan dapat dipetik oleh audiens -khususnya umat Muslim- dari penuturan ulang Anda mengenai sosok Sayyidah Khadijah (as)?
Pertama-tama, perlu dicatat bahwa pendiri Islam memiliki hubungan emosional terlama dan kemitraan bisnis paling erat dengan seorang perempuan, yakni Sayyidah Khadijah (as).
Orang-orang lupa bahwa Muhammad (saw) lebih dekat dengan Sayyidah Khadijah (as) dibandingkan dengan Abu Thalib, Abu Bakar, atau Umar; dan beliau menghabiskan lebih banyak waktu dalam hidupnya bersama Khadijah dibandingkan dengan Aisyah atau istri-istri beliau yang lain.
Dan di penghujung, yang terpenting, relasi gender dalam Islam saat ini bukanlah sesuatu yang tak terelakkan atau sudah ditentukan sebelumnya. Di manakah tradisi pernikahan ala Khadijah dalam Islam saat ini? Tentu saja, tradisi pernikahan Syiah lebih menyerupai tradisi kuno ini dibandingkan dengan model Sunni. (HRY)