IQNA - Ditulis oleh Dr Rebecca Masterton, seorang profesor universitas, peneliti filsafat Syiah, dan direktur Centre for Shia and Cultural Studies di London.
Dalam memperingati Nabi Muhammad (saw), saya ingin merenungkan wahyu sebagai jendela menuju suatu kebenaran hakiki, serta bagaimana pesan, jalan, dan cara hidup ini pada dasarnya berpusat pada kebenaran tersebut yang hadir di tengah berbagai realitas lain yang palsu.
Oleh karena itu, pada intinya, pesan ini berbicara tentang kebenaran sejati versus realitas palsu. Pesan ini membahas tentang jenis persepsi tertentu.
Al-Quran membahas persoalan ini: tentang mereka yang melihat dan mereka yang tidak melihat; mereka yang mengetahui dan mereka yang tidak mengetahui.
وَ ما یَسْتَوِی الْأَعْمی وَ الْبَصِیرُ* وَ لَا الظُّلُماتُ وَ لَا النُّورُ* وَ لَا الظِّلُّ وَ لَا الْحَرُورُ* وَ ما یَسْتَوِی الْأَحْیاءُ وَ لَا الْأَمْواتُ
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati”. QS. Fatir: 19-22)
Nabi Muhammad (saw) sendiri merupakan pintu gerbang menuju alam-alam tempat wahyu itu diturunkan, saat beliau menyampaikannya. Wahyu ini berbicara tentang suatu kebenaran yang begitu transenden hingga tak terbayangkan.
Wahyu juga berbicara tentang alam-alam non-material di luar dunia ini, alam-alam yang melaluinya cahaya kebenaran harus menjangkau hati manusia. Ia juga berbicara mengenai penghuni alam-alam tersebut: para malaikat, serta roh para nabi dan imam yang berperan sebagai penunjuk jalan menuju wahyu dan di dalam wahyu itu sendiri
Oleh karena itu, Nabi Muhammad (saw) merupakan sebuah tanda bahwa sejarah tidak sekadar terdiri dari waktu yang bersifat linear - yakni momen-momen yang berlalu satu demi satu. Berbeda dengan anggapan umum, manusia tidak hanya hidup dalam sejarah yang berlangsung pada tataran ruang dan waktu ini, melainkan juga hidup secara simultan pada tataran ruang dan waktu yang lebih tinggi.
Wahyu, nubuwwah, dan wilayah -yang disempurnakan melalui Imam yang hidup di zaman kita (afj)- semuanya berbicara tentang suatu tingkatan waktu dan ruang yang melampaui tingkatan ini.
Jika Nabi Muhammad (saw) mampu meraih tingkat dukungan semacam itu, hal itu dikarenakan beliau sendiri memiliki kapasitas transformatif—sebuah kapasitas yang memberikan dampak bagaikan alkimia terhadap orang-orang di sekitarnya.
Jika umat Muslim hendak memahami hakikat-hakikat yang ditunjuk oleh wahyu dan kembali menjadi penganut tauhid -yakni mereka yang bersaksi atas keesaan Allah Yang Mahakuasa- maka mereka harus kembali pada cara berada dan corak eksistensi yang memungkinkan seorang Muslim untuk menangkap hakikat-hakikat tersebut. (HRY)