IQNA - Hal yang membedakan aliran tilawah Mesir dari gerakan tilawah lainnya -terutama gaya yang umum di kawasan Teluk Persia- adalah keterkaitan erat yang dibangun oleh para qari Al-Quran asal Mesir antara prinsip serta kaidah pembacaan Kitab Suci Al-Quran dengan pemahaman yang presisi mengenai nagham musik.
Menurut Iqna, meskipun Mesir merupakan tempat kelahiran seni tilawah di dunia Islam, dalam lanskap media kontemporer saat ini kita menyaksikan "terlupakannya aliran-aliran autentik secara bertahap" serta "terputusnya hubungan antara generasi baru qari Al-Quran dengan warisan para pendahulu mereka". Saat ini, sejumlah tilawah komersial dan dangkal telah menggantikan tilawah yang artistik dan penuh perenungan, sementara itu teknik-teknik presisi terkait waqf dan ibtida, nada, dan tajwid -yang merupakan hasil pengalaman selama berabad-abad dari para ahli Mesir- tidak didokumentasikan dan diperkenalkan sebagaimana mestinya.
Melalui serangkaian laporan, IQNA berupaya menelusuri kembali evolusi seni ini—mulai dari gaya "klasik" hingga munculnya para "jenius seni tilawah"—sembari menganalisis situasi terkini dan menjembatani teknik-teknik orisinal Mesir dengan kebutuhan artistik audiens Al-Quran masa kini. Tujuannya adalah agar seni tilawah kembali menjadi sebuah "aliran yang hidup dan dinamis", bukan sekadar "ritual yang bersifat meniru". Hal ini penting karena gaya tilawah yang memukau saat ini berakar pada tradisi Mesir, sehingga memahami proses sejarah tersebut menjadi kunci untuk mengapresiasi keaslian seni tilawah. Selain itu, dalam kerangka pengembangan artistik, memperkenalkan gaya dan inovasi para pelopor asal Mesir merupakan model terbaik bagi para qari muda untuk meningkatkan standar teknis maupun spiritual dalam seni tilawah.

Muhammad Rif'at
Al-Mayadeen menulis dalam sebuah laporan mengenai topik ini: "Maktab/ aliran tilawah Al-Quran Mesir merupakan sebuah bangunan agung yang dibangun oleh para qari terkemuka lintas generasi. Hal yang membedakan maktab tilawah Mesir dari tren tilawah lainnya -khususnya gaya yang lazim di kawasan Teluk Persia yang kian populer dalam satu dekade terakhir berkat bantuan media sosial dan satelit- adalah keterikatan mendalam yang dibangun oleh para qari Mesir antara prinsip serta ajaran tilawah Al-Quran dengan pemahaman yang presisi mengenai nagham-nagham musik."
Hal ini tidak ada kaitannya dengan seni tarik suara atau keterampilan memainkan alat musik, melainkan lebih pada pemahaman qari mengenai potensi suara dan laringnya serta kemampuannya menyesuaikan hal tersebut dengan makna ayat-ayat Al-Quran. Proses ini disertai dengan rasa hormat, rasa takut, dan harapan akan pembukaan (ilham) ilahi, kemenangan, serta surga saat melantunkannya—sesuatu yang dipahami dengan baik dan bahkan dikuasai secara luar biasa oleh para maestro aliran tilawah Mesir, baik karena bakat alami maupun hasil pembelajaran.
Mengenal Syekh Abdul Wahab dan Muhammad Rif’at
Sebagian besar qari Al-Quran terkemuka asal Mesir mencintai musik dan mempelajarinya secara profesional.
Sebagai contoh, Syekh Muhammad Rif’at memiliki karya-karya Beethoven dan Mozart, sementara Syekh Mahmoud Al-Banna mempelajari nagham-nagham musik secara profesional di bawah bimbingan Syekh Darwish Al-Hariri, yang juga merupakan guru musik Muhammad Abdul Wahab.

Pembacaan Quran oleh Mustafa Ismail di hadapan Raja Farouk.
Namun, Abdul Wahab atau Umm Kulthum mencari para qari ayat (qari) untuk mempelajari seni vokal dan nagham musik dari mereka, serta menjalin hubungan erat dengan beberapa syekh. Taha Muhammad Abdul Wahab -seorang pakar nagham dan vokal yang juga merupakan juri internasional di Mesir dan dunia Arab serta memiliki gelar doktor di bidang nagham Al-Quran- pernah menjadi guru bagi sejumlah qari terkemuka.
Syekh Muhammad Mutawali al-Sha’rawi memberikan klasifikasi yang indah mengenai aliran seni tilawah di Mesir dengan berkata: "Siapa pun yang menginginkan penguasaan teknik tilawah hendaknya mendengarkan Syekh Al-Hussari; siapa pun yang menginginkan kemurnian suara hendaknya mendengarkan Syekh Abdul Basit; siapa pun yang menginginkan kerendahan hati hendaknya mendengarkan Al-Minshawi; siapa pun yang menginginkan nilai seni dalam tilawah hendaknya mendengarkan Syekh Mustafa Ismail; dan siapa pun yang menginginkan semua itu sekaligus hendaknya mendengarkan Syekh Muhammad Rif’at, karena beliaulah 'maktab' musik itu sendiri". (HRY)