IQNA - Seratus cendekiawan dari 50 negara Islam menghadiri Forum Internasional Cendekiawanan Islam ke-9 di Masjid Imam Hussein, Kairo.
Menurut Iqna melansir Sada el-Balad, Masjid Imam Hussein di Kairo menjadi tuan rumah Forum Internasional Cendekiawanan Islam ke-9 pada hari Minggu, 13 September. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf Mesir dan Dewan Tertinggi Urusan Islam, serta mempertemukan lebih dari 100 cendekiawan agama dan pejabat dari lebih dari 50 negara, bersama dengan sejumlah ulama, cendekiawan, profesor universitas, dan mahasiswa.
Forum ini diselenggarakan dengan tujuan mempererat hubungan antar ulama di seluruh dunia, mengkaji berbagai persoalan intelektual dan keagamaan, mempromosikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, kebajikan moral, dan moderasi, serta mendukung upaya memerangi perpecahan, ekstremisme, dan stagnasi.
Syekh Usamah Al-Azhari, Menteri Wakaf Mesir sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam menegaskan, dalam acara tersebut bahwa pertemuan ini menjadi wadah komunikasi bagi para ulama umat Islam, yang berupaya menjembatani kesenjangan dan mengatasi hambatan, memfasilitasi pertukaran pengalaman, serta menawarkan gagasan terkait berbagai isu yang menjadi perhatian umat Islam.
“Partisipasi luas dari lebih dari 50 negara menegaskan pentingnya dialog dan pertukaran ilmiah di antara lembaga keagamaan serta para cendekiawan di seluruh dunia,” jelasnya.
Menteri Wakaf Mesir juga mengumumkan peluncuran proyek "Buah Forum Internasional Cendekiawanan Islam", yang mencakup kumpulan buku yang diterjemahkan ke dalam sekitar 20 bahasa, serta penelitian khusus mengenai Ateisme yang dilakukan baik di dalam maupun di luar Mesir.
Buku-buku ini akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai satu kesatuan dan diterbitkan oleh Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir.
Acara tersebut menekankan pentingnya memperbarui diskursus keagamaan serta memperkuat nilai-nilai perdamaian dan hidup berdampingan; para peserta menyatakan bahwa adab kenabian merupakan pilar fundamental dalam membangun jembatan komunikasi antar-masyarakat.
Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah ulama, mufti, dan cendekiawan terkemuka dari negara-negara Arab, Afrika, Asia, dan Eropa, serta peserta dari Australia. (HRY)