IQNA

8:51 - March 30, 2009
Berita ID: 1758822
Ahmad Khatami menilai bahwa kelemahan-kelemahan dasar bagi para penafsir Al-Quran adalah tidak relevan dengan kebutuhan perkembangan dan dinamika masyarakat serta bahasa yang kurang merakyat.
Ahmad Khatami, penulis ”Kajian Tematik Ayat-ayat Al-Quran” dalam wawancara dengan wartawan Iqna, menyatakan bahwa penafsiran Al-Quran dalam berbagai pandangan, haruslah dikaji ulang. Oleh karena itu, mereka yang menghabiskan waktunya di pusat-pusat kajian dan penelitian Al-Quran, berpotensi lebih dapat diterima oleh masyarakat umum.


Ia menambahkan bahwa terkadang dari para audiens dari kalangan remaja dan anak-anak, maka upaya ini telah dijalankan. Namun dengan memperhatikan permasalahan secara universal dari tingkat sekolah, pendidikan dan pergembangan, maka belum tercapai tujuan yang diinginkan. Juga hasil yang sangat minimal dalam upaya menyampaikan pesan tentang Al-Quran dalam aspek pemahaman budaya dan sosial kepada para generasi muda.


Penulis ”Kajian Tematik Ayat-ayat Al-Quran”, juga menyatakan, haruslah dimulai dari pengenalan para audiens dan memulai mendefinisikan budaya Al-Quran secara luas serta menunjukkan perhatian yang besar terhadap budaya Al-Quran. Hal ini disebabkan, jika ia si penyusun Al-Quran mengungkapkan pemahamannya tentang Al-Quran kepada para audiens berdasarkan tinjauan pribadinya, maka ia tidak akan meraih tujuannya secara maksimal.

Penulis kitab “Majlis Duka, Sanggahan dan Pemecahannya” menyatakan bahwa pejabat Kementerian Budaya, Instansi-instansi pemerintah yang terkait, Departemen Pendidikan dan Budaya pada tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Budaya pada tingkat Perguruan Tinggi dan Departemen Pendidikan dan Budaya dan Pengembangan Islam pada tingkat umum, Stasiun Radio dan Televisi Republik Islam Iran hingga dari berbagai penyebaran media, mampu mengenal kebutuhan dari para audiens dan menetapkan hasil-hasil penelitian atas wewenang dari yayasan-yayasan terkait, hingga yayasan-yayasan ini memberikan gambaran secara keilmuan dalam upaya penelitian di bidang ini.

Bila tida memperhatikan langkah-langkah ini, maka tidak dapat memberikan solusi bagi kebutuhan pada generasi muda dan kebanyakan dari para penafsir menjawab permasalahan dari para audiens, tidak lagi menjadi kebutuhan bagi masyarakat umum.

Khatami menambahkan bahwa di masyarakat muslim, banyak kita jumpai para audiens, kita tidak ingin segera membangun pemikiran dari para audiens untuk dapat menafsirkan Al-Quran dan agama, namun yang kita butuhkan pengenalan terhadap para audiens. Berdasarkan hal ini, kita dapat membumikan makna Al-Quran.

379734
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\