
Menurut Iqna mengutip Sada el-Balad, Alaa Husni, cucu dari Syekh Mustafa Ismail, almarhum qari Mesir, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Selasa (23 Desember): "Keluarga mengenang qari Mesir ini setiap tahun."
“Periode terakhir ini sangat istimewa baginya, karena dia telah berhasil mengumpulkan rekaman tilawah dan warisan audio lengkap dari qari Mesir ini, baik radio maupun non-radio, di Mesir dan luar negeri, dan mengubahnya dari rekaman bacaan analog (suara alami yang diterima dari mikrofon dan kaset) menjadi digital dengan mengorganisir dan menyortirnya, sehingga menjadi arsip bagi komunitas Islam,” imbuhnya.
Alaa Husni menyatakan rekaman tilawah Alquran ini disumbangkan ke Radio Mesir dan disiarkan melalui media ini pada Ramadan lalu, dan kami berjanji untuk menyumbangkan lebih banyak rekaman bacaan Alquran agar warisan ini dapat tersedia bagi generasi mendatang.
Cucu Mustafa Ismail mengenang bahwa ia pernah bertemu dengan Ahmed Al-Muslimani, kepala Dewan Media Nasional Mesir, dan memintanya untuk menyumbangkan barang-barang pribadi dan warisan Syekh Mustafa Ismail untuk dilestarikan di Museum Para Qari Mesir.
Alaa Husni meriwayatkan pertemuan Syekh Mustafa Ismail dengan para qari besar Mesir dan menambahkan: “Salah satu dari mereka adalah Syekh Muhammad Al-Saifi, yang menggambarkan suara Syekh sebagai suara terindah yang pernah ia dengar dalam hidupnya. Status Syekh tersebut menyebabkan Raja Farouk (salah satu raja Mesir pada waktu itu) memperhatikannya dan menjamunya di istana untuk membacakan Alquran selama bulan Ramadhan”.
Cucu syekh tersebut menceritakan beberapa peristiwa penting dalam kehidupan kakeknya, termasuk dua mimpi yang dialaminya seminggu sebelum kematiannya. Dalam mimpi pertama, ia melihat dirinya berjalan di surga dan bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpi kedua, ia melihat tempat pemakamannya di kebunnya, yang, dengan izin presiden saat itu, terwujud dan sebuah masjid kemudian dibangun di sana.
Ia juga menyebutkan keinginan Syekh untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa, yang terwujud ketika ia diundang oleh Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, untuk memimpin salat Id di sana. Syekh menolak undangan dari Presiden AS Carter untuk mentilawah di Kongres karena ia sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem. (HRY)