IQNA

Menelaah Kembali Tanda-tanda Tatanan Ilahi dalam Surah Yasin; dari Perputaran Langit hingga Pergerakan Kapal

12:06 - March 03, 2026
Berita ID: 3483450
IQNA - Kajian ayat 37 - 44 surah Yasin menunjukkan bahwa Alquran, dengan merujuk pada urutan yang tepat dalam siklus siang dan malam, pergerakan matahari dan bulan, dan bahkan mengapungnya kapal di laut, mengajak manusia untuk merenungkan sistem penciptaan yang bijaksana dan memahami manifestasi kekuasaan, pengetahuan, dan rahmat Tuhan.

Dalam serangkaian percakapan pada kesempatan bulan ini, koresponden IQNA berdiskusi dengan Ali Akbar Tohidian, seorang peneliti Alquran dan PhD dalam ilmu Alquran dan Hadis, tentang bukti keteraturan dalam perputaran malam, siang, dan benda-benda langit, hubungan antara keteraturan kosmik dan bukti kebijaksanaan serta kekuasaan Ilahi, dan peran hukum alam serta nikkmat transportasi maritim dalam petunjuk ilahi, berdasarkan tafsir Hujjatul Islam wal Muslimin Mohsen Qaraati.

Iqna - Apa saja poin yang diketengahkan ayat 37 sampai 40 Surah Yasin mengenai malam, siang, matahari, dan bulan untuk memahami Tuhan dan membuktikan keteraturan?

Ayat 37 Surah Yasin Allah swt telah berfirman:

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

 “Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.”

Yakni, malam juga merupakan pertanda bagi manusia. Malam terpisah dari siang “Naslakhu min-hun-nahâra” mengacu pada siang yang berubah menjadi kegelapan malam. Kata “Naslakhu” berasal dari akar kata “Salakha” sebagaimana dalam tindakan menguliti hewan. Proses ini menunjukkan kendali Tuhan yang tepat atas fenomena alam dan keteraturan yang sistematis dan terencana di alam semesta. Dengan memperhatikan fenomena-fenomena ini, semangat teologis seseorang akan meningkat.

Ayat 38 berbicara tentang matahari, dimana Allah swt berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“(Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui”.

Matahari berjalan menuju tempat peredarannya, bertentangan dengan kepercayaan lama bahwa matahari itu tetap. Alquran mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di alam semesta yang diam dan seluruh alam semesta bergerak.

Gerakan ini disebut “Ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui”yakni, gerakan ini didasarkan pada keperkasaan Tuhan, yang Maha Mulia dan Maha Tak Terjangkau serta tidak dapat diganggu oleh kekuatan apa pun, dan yang juga Maha Mengetahui dan dianggap sempurna dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dalam ayat 39, bulan diperkenalkan dan dikatakan:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

“(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua”. Bulan juga memiliki tempat-tempat peredaran dan pergerakan tertentu.

Ayat 40 Allah swt berfirman:

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya”.

Tuhan menciptakan matahari dan bulan dan menetapkan batasan serta pergerakan khusus untuk masing-masing; keduanya tidak dapat saling mendahului atau mengganggu. Semua benda langit mengapung dalam orbitnya masing-masing: “Masing-masing beredar pada garis edarnya”. Mengapung, atau “sabaha”, ini berarti pergerakan yang cepat dan teratur. (HRY)

4337314

captcha