Hojjatul Islam Wal Muslimin Dr. Syd Shadrudin Syariati, Rektor Universitas Allamah Tabatabai pagi kemarin dalam ceramahnya pada acara seminar “Analisa dan Kritik atas karya Maulana Matsnawi” mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa ajaran Islam baik dalam teologi atau lainnya yang disampaikan dengan contoh dan kisah –dalam teori pendidikan modern- adalah lebih efektif.
Hal itu tidak sama dengan kebanyakan buku-buku ulama klasik kita yang menggunakan terminologi khusus yang kerap kali tidak dipahami oleh para pembaca, tegasnya.
Menurutnya tidak semua apa yang ada dalam buku Matsnawi itu benar dan sesuai dengan ajaran Al Quran, namun saya juga tidak setuju dengan penilain ekstrim atasnya dalam menyalahkan. Apa yang beliau tulis dalam buku itu harus kita pahami sesuai dengan konteks zaman, tempat dan masyarakat beliau saat itu.
Di dalam analisa tentang hakikat manusia terdapat empat paradigma, keburukan mutlak, bercampur antara baik dan buruk, tidak baik dan tidak buruk namun lingkungan dan warisanlah yang memberinya warna dan pandangan ke empat adalah fitrah manusia itu bersih dan suci namun memiliki potensi untuk terjangkit penyakit dan kerusakan moral.
Mereka yang menganggap bahwa maulawi dalam bukunya mengikuti apa yang ada di dalam Al Quran menjelaskan, bahwa Maulwi memilih paradigma ke empat. Karenanya ia selalu menyebutkan, bahwa manusia itu wujud kebaikan dan melahirkan kebaikan. Maulawi selalu menekankan untuk mencari benang merah antara air dan fatamorgana, antara akal dan asumsi (wahm) .
Di dalam Al Quran Allah menyebutkan, bahwa Dia menciptakan manusia sebagai khalifah yakni duta-Nya di atas muka bumi dan karena itulah manusia bisa mengalahkan malaikat.
Namun di dalam Al Quran juga disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang dilukiskan dalam syair, bahwa manusia adalah makhluk yang terlambat untk sampai kepada tujuan, karena semua sudah sampai kepada kesempurnaan, di saat itulah manusia baru diciptakan. Di ayat lain Allah menyebutkan, bahwa Dia memuliakan manusia.
191684