Iqna: Pemburu berita dari Amerika dalam wawancaranya dengan beberapa orang yang Yahudi yang hadir menjelaskan, bahwa Bahardar Mikail, 26 tahun dan utusan Lembaga Yaran menyebutkan, bahwa sejak lima tahun mereka mempersiapkan terselenggaranya acara ini dalam rangka memperkuat jalinan persaudaraan dan kecintaan antar umat Yahudi Iran.
Pemuda Yahudi berdarah Iran ini juga menegaskan, bahwa dia bertekad untuk melaksanakan acara seperti itu setiap tahun, selain mempererat persaudaraan di kalangan umat Yahudi sekaligus mengagungkan Nabi Danial as.
Menurutnya, pemerintah juga bekerjasama dengan sangat baik demi terselenggaranya acara tersebut dan ini sebuah keberhasilan besar bagi umat Yahudi di Iran.
Farhad Aframiyan, Ketua Redaksi majalah bulanan Yahudi yang juga ikut hadir dalam acara tersebut mengatakan, bahwa penyelenggaraan acara tersebut memberikan kesempatan emas kepada umat Yahudi Iran untuk mempererat jalinan komunikasi dan koordinasi di antara mereka. Terlebih lagi tempat pelaksanaan pertemuan di kuburan Nabi Danial yang memiliki akar simbol keagungan dan kejayaan Persia kita, tambahnya.
Selain itu ia juga menganggap bahwa acara tersebut merupakan momen yang tepat untuk membuktikan, bahwa mereka telah eksis sejak zaman Iran kuno.
Umat Yahudi Iran yang jumlahnya mencapai 25 ribu orang dan merupakan jumlah yang terbesar di Timur Tengah selain Palestina dengan penuh kebebasan melaknsakan seluruh kegiatan dan upacara keagamaan mereka dengan tetap mematuhi aturan umum yang berlaku di Republik Islam Iran, seperti kewajiban kaum wanitanya untuk menggunakan kerudung sebagai penutup kepala mereka.
Pihak Asosiasi Press Amerika ini juga melaporkan, bahwa masyarakat Yahudi yang berhijrah ke luar Iran, baik ke Palestina, Amerika atau ke negara lainnya sangatlah kecil jumlahnya. Sesuai data yang ada hingga bulan Desember yang lalu hanya tercatat 40 orang yang nerhijrah ke Palestina dan mereka sama sekali tidak ada kerjasama dengan pihak pemerintah. Namun mereka lakukan secara personal, tegas pemimpin Yahudi di Iran.
Mereka juga melaporkan, bahwa mungkin saja mereka melakukan perjalanan itu dengan bantuan berbagai lembaga internasional Sosial dan Persaudaraan Yahudi dan Masehi.
Berkenaan dengan acara yang berlangsung, mereka menyebutkan, bahwa di dalam bangunan kuburan kaum wanita yahudi membaca Taurat dan kaum prianya dengan mengenakan topi khusus mereka melantunkan doa-doa berbahasa Ibrani dengan suara keras. Mereka menyatakan, bahwa ibadah mereka di kawasan ini menimbulkan ketentraman tersendiri bagi diri mereka.
Pada kesempatan itu Nasyl Fafer, dalam makalahnya yang diterbitkan dalam sebuah majalah Yahudi dengan judul Yerusalem dan babul menyebutkan, bahwa walaupun terdapat berbagai kemudahan dari Agen Internasional Yahudi untuk kaum Yahudi yang akan berhijrah dari Iran ke “negara” Israel, namun sangat sedikit dari mereka yang menerima tawaran dan kemudahan tersebut.
Dalam makalahnya itu ia juga menyebutkan keheranannya pada pemerintah Iran yang tidak melakukan pembatasan bagi pemeluk agama Yahudi untuk melakukan berbagai ritual keagamaannya. Karena itulah mungkin walaupun Agen Internasional Yahudi menyediakan iming-iming uang dalam jumlah besar, yakni 10 ribu dolar perkepala bagi yang melakukan hijrah ke Palestina, namun sangat sedikit yang siap menerima tawaran tersebut.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Yusiy Melman dalam makalahnya di surat kabar Hartesh, bahwa umat Yahudi di Iran mendapatkan perlakuan yang baik dan mereka dengan penuh kebebasan dapat beribadah sesuai dengan keyakinan dan ajaran agama Yahudi. Mereka pun dengan bebas bisa keluar-masuk Iran dan di saat pulang dari berlibur ke luar negri, mereka tidak pernah ditanya dimana mereka menghabiskan hari-hari liburnya? Walaupun para petinggi dIran mengetahui, bahwa mayoritas mereka berlibur ke Israel.
Asosiasi Umat Kalimiy (sebutan lain bagi umat Yahudi di Iran, yang berarti pengikut Nabi Musa yang mendapat gelar Kalimullah) di dalam situs resmi mereka menuliskan, bahwa mereka adalah orang-orang Iran di masa dulu, sekarang dan mendatang. Dengan penuh kecintaan mereka akan membela negaranya dan mengorbankan jiwanya demi negara yang mereka cintai. Permusuhan Republik Islam Iran dengan para petinggi Zionisme Israel tidak akan memperngaruhi sikap dan hubungan mereka dengan rakyat dan pemerintah Iran.