IQNA

Klaim Mereka yang Menggaapai Alam Irfan dan Spiritual tanpa Syariat adalah Kebohongan yang Nyata

18:28 - May 12, 2008
Berita ID: 1651438
Ali Syaikhul Islam: Irfan atau Spiritual dalam Islam berporos pada syariat, karenanya klaim mereka akan capaian alam spiritual dan irfan tanpa syariat adalah kebohongan semata
Iqna: Hojjatul Islam Wal Muslimin Ali Syaikhul Islam dalam presentasinya dalam loka karya tentang Nabi Muhammad SAW, Irfan dan Spiritualitas menyampaikan hal itu dan menambahkan, bahwa klaim seperti itu muncul hanya karena kesombongan semata. Menurutnya, mereka yang memperbincangkan esensi Irfan dan yang mana yang disebut dengan Irfan sejati? haruslah dikatakan, bahwa wacana tentang tentang Irfan dan perkembangannya melalui empat fase. Sebab kadang-kadang yang disebut Irfan adalah bagian pengetahuan yang didapatkan dengan cara kasyaf dan syuhud (intuitif) dan ini definisi umum dari Irfan, disamping ilmu lain seperti Filsafat, seni, sains dan lainnya. dengan kata lain Irfan sebagai salah sati ilmu humaniora, tegasnya. Namun, tambahnya Irfan dalam dunia Islam memiliki makna yang berbeda dengan definisi pertama, sebab para ulama sebelum kita menerima Irfan dengan makna ke dua ini hanyalah di sebagai Irfan Islami saja. yakni Ilmu tentang Allah dari sisi sifat, nama dan tindakan. Fase ke tiga adalah bagian Irfan Praktikal yang sering disebut dengan Sair wa Suluk. fase ini dimulai dari zaman Qaisariy sebab sebelum itu tidak ada pemisahan antara teori dan amali. Adapun makna ke empat adalah makna yang sering kita gunakan pada zaman ini adalah yang berhubungan dengan alam maknawiyah atau spiritualitas. di saat kita katakan bahwa Imam Khomeini dan Allamah Thabathabai adalah seorang arif yang kita maksudkan adalah makna ini, dimana maknawiyah dan metode ketuhanan telah bercahaya dan berkembang di dalam diri beliau, jadi bukan sekedar teori dan bukan sekedar ritualitas. Selanjutnya menurutnya Nabi adalah seorang pribadi yang sangat sempurna dan mencakup dan itulah salah satu makna dari KHATAM, dimana beliau tidak memiliki kekurangan dan cela sedikitpun dalam perjalanan maknawiyah kepada Allah dan setelah beliau para Imam Ahlul Bayt berada dalam urutan selanjutnya. Karena itu sangat disayangkan mereka yang berusaha memisahkan antara syariah, thariqah dan hakikat. sungguh kebohongan dan kesombongan semata mereka yang mengklaim telah mencapai hakikat dengan meninggalkan syariat, sebab tiga hal itu tidak bisa dipisahkan, tegasnya. 250233
captcha