IQNA

Konsekuensi Kekuatan Sejati Sebuah Sistem adalah Bergandengnya Ilmu Pengetahuan dengan Semangat Keagamaan

21:43 - November 04, 2009
Berita ID: 1844925
Imam Ali Khamanei: Negara ini harus dipertahankan dengan ‎tekad kuat yang memancar dari keimanan kepada agama. Kekuatan hakiki bangsa Iran terletak ‎pada keberhasilannya di bidang ilmu dan riset.
Iqna merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Spiritual Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di hadapan ribuan pelajar, mahasiswa, dan keluarga syuhada kembali menekankan pentingnya ‎kearifan dalam mengenal arogansi. Beliau menyebut rezim Amerika Serikat (AS) sebagai arogan ‎dunia yang sesungguhnya. Beliau mengatakan, "Selama pemerintah AS masih mempertahankan ‎tabiat arogansinya dengan terus menebar ancaman, bangsa Iran tak akan pernah terkecoh ‎dengan kata-kata manis dan penampilan menarik yang ditunjukkannya. Bangsa Iran tak akan ‎pernah menutup mata dari kemerdekaan, kebebasan, kepentingan nasional dan hak-haknya."‎ Dalam pertemuan yang berlangsung hari Selasa (3/11) menjelang peringatan hari 13 Aban, hari ‎perlawanan terhadap arogansi dunia dan sekaligus hari pelajar, Rahbar menegaskan bahwa ada ‎sejumlah kelaziman dalam sebuah perjuangan yang benar, logis, dan tegas. "Dorongan yang ‎muncul dari iman adalah salah satu kelaziman dalam perjuangan. Sebab, tak ada satu pun ‎bangsa yang bisa dipertahankan tetap berada di tengah medan perjuangan dengan perintah dan ‎paksaan," jelas beliau. ‎ Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan, "Berkat pengalaman segudang yang didapat selama ‎tiga puluh tahun, para pemuda Iran hari ini memiliki dorongan keimanan yang sedemikian kuat, ‎yang jika tak lebih dari keimanan pemuda generasi awal revolusi pasti tidak kurang dari ‎keimanan mereka."‎ Beliau menekankan untuk memisahkan para pelaku revolusi yang telah menyesali partisipasi ‎mereka dalam perjuangan dari lautan rakyat dan para pemuda bangsa ini. "Jika hari ini peristiwa ‎seperti perang yang dipaksakan kembali terjadi di negara ini, gelombang pemuda yang mengalir ‎untuk menjadi bagian dari pasukan relawan melawan musuh akan jauh lebih besar dibanding ‎yang terjadi pada tahun 1359-1360 HS (1980-1981 Masehi)," imbuh beliau.‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan bahwa kelaziman kedua untuk perjuangan yang ‎benar, logis dan tegas adalah kearifan. Beliau menjelaskan, "Masalah kearifan sering saya ‎ungkapkan belakangan ini karena karena kondisi yang ada di dunia saat ini dan kedudukan ‎istimewa yang dimiliki Iran. Dalam kondisi seperti ini gerakan kolosal dalam bentuk apapun ‎memerlukan kearifan umum."‎ Menurut beliau, para pamuda di zaman ini jauh lebih arif dibanding dengan pemuda di awal ‎revolusi Islam. Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Dalam perjuangan melawan ‎arogansi, hal yang paling signifikan adalah mengenal arogansi itu sendiri."‎ Dijelaskan oleh beliau bahwa arogansi adalah kekuatan yang menggunakan sarana finansial, ‎militer dan propaganda untuk melakukan intervensi di negara-negara lain layaknya penguasa di ‎negara-negara tersebut. Seraya menyinggung sepak terjang rezim AS di sejumlah negara, ‎khususnya negara-negara Islam, beliau menyebut rezim AS sebagai manifestasi nyata dari ‎arogansi. ‎ Beliau mengatakan, "Setelah kemenangan revolusi Islam dan terungkapnya kekuatan bangsa ‎Iran yang diikuti dengan tergulungnya rezim monarkhi yang korup dan boneka kekuatan asing, ‎AS tidak meminta maaf kepada bangsa Iran dan berupaya menebus kesalahan atas tindakan-‎tindakannya yang merugikan bangsa ini, tetapi malah berpikir untuk memukul bangsa Iran. sejak ‎awal kemenangan revolusi Islam, AS selalu menyibukkan diri dengan berbagai agenda dan ‎konspirasi untuk mengganggu bangsa Iran dan pemerintahan Islam. AS menjadikan kedutaan ‎besarnya di Tehran sebagai sarang mata-mata dan pusat konspirasi anti Iran."‎ Kejahatan yang dilakukan AS terhadap bangsa Iran dalam tiga puluh tahun terakhir, kata Rahbar, ‎jika dibukukan akan menjadi buku yang sangat tebal. Beberapa tahun yang lalu, salah seorang ‎mantan Menteri Pertahanan AS mengungkapkan kata hati para pejabat tinggi Washington ‎dengan mengusulkan untuk menumpas bangsa Iran hingga ke akarnya. AS telah melakukan apa ‎saja yang bisa dilakukannya. Namun demikian, Imam Khomeini ra, insan yang sangat istimewa ‎itu tetap tegar menghadapi AS dan menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah mundur. ‎AS tak bisa berbuat apa-apa menghadapi bangsa ini. ‎ Rahbar menandaskan bahwa meski telah melakukan apa yang bisa dilakukannya terhadap ‎bangsa Iran namun AS tetap tak mampu menundukkan bangsa ini. "Pertarungan ini hanya ‎semakin membuat bangsa Iran terhormat, Republik Islam kian maju dan kekuatan negara serta ‎pemerintahan Islam kian kokoh," tegas beliau.‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung pernyataan sejumlah kalangan tentang adanya ‎sikap lunak dari AS untuk membuka perundingan dengan Iran. Beliau mengatakan, "Setiap kali ‎AS menyunggingkan senyum manis, dengan memerhatikan secara cermat dan seksama akan ‎nampak belati yang disembunyikan di balik punggung. Iktikad dan niat mereka tidak mengalami ‎perubahan apapun."‎ Senyum manis AS, menurut beliau tak lain dari sekedar taktik yang hanya bisa menipu anak-anak ‎kecil. Beliau menegaskan, "Jika ada sebuah bangsa yang besar dengan pengalaman segudang ‎dan para tokohnya bisa tertipu oleh senyuman itu, maka harus dikatakan bangsa itu sangat lugu ‎atau tenggelam dalam hawa nafsu sehingga mau berdamai dengan musuh."‎ Beliau menambahkan, "Jika para pemimpin negara memiliki kecerdasan, pengalaman, dan ‎kematangan yang cukup serta peduli kepada kepentingan bangsanya, mereka tak akan pernah ‎termakan oleh tipuan seperti ini."‎ Ayatollah Al-Udzma Khamenei lebih lanjut menyinggung sejumlah pernyataan dan pesan yang ‎terkesan manis dari Presiden AS baik secara lisan maupun tertulis, mengenai perundingan ‎dengan Iran dan idenya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Rahbar menandaskan, ‎‎"Republik Islam sejak awal telah mengambil sikap untuk tidak tergesa-gesa memutuskan tetapi ‎lebih memilih untuk menunggu realisasi slogan ‘perubahan' yang diserukan. Namun setelah ‎beberapa bulan berlalu, nampak bahwa dalam praktiknya, yang ada justeru hal yang ‎bertentangan dengan klaim yang diungkap lewat lisan."‎ Beliau mengingatkan kembali pidato beliau di kota suci Mashhad di awal Farvardin 1388 Hijri ‎Syamsi tentang uluran tangan AS dengan cakar tajamnya yang dibungkus dengan kain beludru ‎dan sikap Republik Islam yang tak akan pernah menerima uluran tangan itu. Ayatollah Al-Udzma ‎Khamenei mengatakan, "AS di satu sisi berbicara tentang perundingan, namun di sisi lain terus ‎menebar ancaman. AS menginginkan perundingan yang hasilnya sesuai dengan keinginannya. ‎Jika tidak, AS mengancam akan bertindak ini dan itu terhadap Iran."‎ Hal seperti itu, kata beliau, sama dengan persahabatan antara serigala dan domba, seperti yang ‎diungkap oleh Imam Khomeini. Iran tak menginginkan hubungan seperti itu. Rahbar ‎menambahkan, "Dulu ketika dunia dikuasai oleh dua kutub kekuatan yang sama-sama memusuhi ‎Republik Islam, bangsa Iran resisten menghadapi mereka dan kedua adidaya dunia itu dipaksa ‎bertekuk lutut. Fakta ini seharusnya menjadi pelajaran bagi AS, sebab AS saat ini tak punya ‎kekuatan sebesar kekuatannya di zaman itu sementara Republik Islam Iran saat ini berkali lipat ‎lebih kuat."‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa bangsa Iran menginginkan kemerdekaan, ‎kebebasan, kepentingan nasional dan kemajuan di bidang ilmu dan teknologi. "Jika ada yang ‎mengganggu hak-hak bangsa Iran, bangsa ini siap menghadapinya dengan kekuatan penuh dan ‎akan menundukkannya," tegas beliau.‎ Rahbar menyampaikan tokol ukur dalam menilai AS. Beliau mengatakan, "Selagi AS masih ‎mempertahankan tabiat arogansinya dan melakukan intervensi terhadap bangsa-bangsa lain, kita ‎tetap memandang AS seperti umumnya negara yang lain. Jika AS berambisi untuk memutar ‎kembali jarum jam dan kembali menguasai Iran, AS tak akan pernah mampu mengalahkan ‎bangsa Iran meski dengan cara apapun."‎ AS, tambah beliau, tak seharusnya merasa optimis dengan terjadinya rangkaian peristiwa pasca ‎pamilu di Iran. Sebab, Republik Islam Iran telah memiliki akar yang kokoh dan jauh lebih kuat ‎untuk digoyang dengan hal-hal seperti itu. Pemerintahan Islam ini berhasil mengatasi berbagai ‎masalah yang jauh lebih besar.‎ Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan, "Mungkin ada sebagian kalangan yang merongrong ‎Republik Islam karena niat jahat dan mungkin juga karena keluguannya, namun AS harus tahu ‎bahwa bangsa Iran tak akan pernah membuka pintu bagi AS untuk masuk ke negeri ini. Sebab ‎bangsa ini akan selalu resisten."‎ Di bagian lain pernyataannya beliau menekankan bahwa generasi muda negara ini adalah pemilik ‎masa depan dan negara ini. Beliau mengungkapkan, "Negara ini harus dipertahankan dengan ‎tekad kuat yang memancar dari keimanan kepada agama. Kekuatan hakiki bangsa Iran terletak ‎pada keberhasilannya di bidang ilmu dan riset."‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menggarisbawahi bahwa keberhasilan di bidang ilmu akan ‎menjadi kekuatan hakiki bangsa Iran jika diiringi dengan faktor keyakinan agama. Beliau ‎menambahkan, "Adidaya dunia dan para pengekornya di dalam negeri tak punya alternatif lain ‎kecuali mundur saat berhadapan dengan sebuah bangsa yang kuat dan beriman."‎ Di bagain akhir pidatonya, Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengimbau para pemuda untuk ‎senantiasa bersandar dan berbaik sangka kepada Allah Swt. "Ketahuilah bahwa kemenangan dan ‎pertolongan Allah akan selalu menyertai kalian. Dengan kekuatan, tekad membaja, penempaan ‎spiritual dan kesucian ilmiah teruslah bergerak maju," seru beliau.‎ 487366
captcha