Iqna menukil dari situs resmi Pemimpin Spiritual Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, bahwa beliau dalam pertemuan dengan Dewan Koordinator Tabligh Islam dan Panitia Peringatan HUT kemenangan Revolusi menekankan bahwa ciri khas yang paling menonjol pada revolusi Islam dan dalam peringatan kemenangan revolusi Islam selama tiga puluh tahun terakhir adalah partisipasi kolosal dan serentak rakyat sebagai unsur utama yang membentuk revolusi Islam. "Rakyat tetap loyal dengan slogan-slogan asli revolusi Islam," tegas beliau.
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyinggung partisipasi rakyat dalam pawai kemenangan revolusi Islam 22 Bahman setiap tahunnya. Beliau menyebutnya sebagai bukti bahwa revolusi Islam bersandar pada keimanan rakyat. Beliau mengatakan, "Makna partisipasi dan kekompakan yang disaksikan setiap tahun ini adalah bahwa revolusi Islam dan pemerintahan Islam bersandar pada rakyat dan keimanan rakyat. Ini pulalah yang menjadi faktor kegagalan musuh dalam upayanya merongrong sendi pemerintahan Islam ini."
Mengenai kecemasan musuh terhadap partisipasi besar rakyat -dengan berbagai latar belakangan dan pandangan yang berbeda- dalam setiap moment khususnya pada pawai kemenangan revolusi 22 Bahman, beliau mengatakan, untuk menutupi fakta ini musuh mengerahkan segenap kekuatan termasuk anasirnya di dalam negeri untuk mengesankan adanya perselisihan tajam di tengah rakyat."
Beliau mencontohkan aksi yang dilakukan musuh dalam pawai hari Al-Quds Sedunia. Pada peringatan hari itu yang dikhususkan untuk menyatakan pembelaan kepada Palestina dan penolakan terhadap Rezim Zionis Israel, musuh menggerakkan segelintir oknum yang lalai dan tertipu di dalam negeri untuk mengusung slogan-slogan yang justeru menguntungkan Israel. Demikian pula pada pawai peringatan hari Anti Arogansi Dunia tanggal 13 Aban, anasir-anasir tadi justeru turun ke jalan-jalan meneriakkan yel-yel yang berlawanan dengan semangat anti arogansi AS. Mereka bahkan menyuarakan slogan yang menolak Islam dan pemerintahan Islam. Namun, rakyat Iran tetap loyal dengan slogan-slogan asli revolusi Islam dan partisipasi rakyat inilah yang memberikan kebesaran kepada bangsa Iran. "Republik Islam berdiri berkat keinginan dan keimanan rakyat, dan sampai kini tekad dan keimanan berjalan seiring dengan kekuatan penuh dan rasa kehormatan. Dan ke depan, negara ini akan maju dengan kuat dan kehormatan penuh," kata beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa salah satu hal terpenting adalah kemampuan mengenal waktu dan tuntutan masa. Salah satu contohnya adalah warga Kufah yang beberapa bulan setelah syahidnya Imam Husein as bangkit melakukan perlawanan bersenjata. Mereka semua gugur syahid dan semoga Allah memberi pahala yang besar kepada mereka. Namun, kata beliau, mereka tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajiban di atas pundak mereka pada hari Asyura.
Lebih lanjut beliau menyinggung pawai akbar rakyat Iran 30 Desember lalu dan menyebutnya sebagai kearifan dalam mengenal waktu yang tepat. Beliau menandasakan, pawai 30 Desember adalah kematangan dalam mengenal waktu dan tuntutan. Dewan Koordinasi Tabligh telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, sementara rakyat juga tepat dalam menentukan langkah. Pawai hari itu telah menjadi salah satu puncak kebanggaan dalam sejarah revolusi Islam.
Rahbar juga mengingatkan kembali pawai akbar rakyat pada tanggal 23 Tir tahun 1387 HS yang merupakan manifestasi nyata dan langkah tepat mengenal waktu dan tuntutan. "Pawai tanggal 22 Bahman setiap tahun dengan segala kebesarannya adalah pawai yang memang sudah terprogram dan menjadi rutin. Tetapi pawai 23 Tir tahun 1387 dan 9 Dey tahun ini adalah pawai yang tidak biasa," jelas beliau.
Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyinggung masa-masa sulit seperti kala munculnya fitnah seraya menegaskan, "Kala muncul fitnah semua pihak khususnya kalangan elit harus transparan dan bersikap." Sebab, jelas beliau, musuh memanfaatkan setiap peluang di saat fitnah untuk bekerja mengejar targetnya. Karena itu, seluruh kubu politik di dalam negeri harus memperjelas garis batasnya dengan musuh.
Pemimpin Besar Revolusi Islam mengimbau kubu-kubu politik khususnya kalangan elit untuk bersikap transparan dan menghindari pernyataan dan sikap dualisme. Menurut beliau sikap seperti itu justeru membantu musuh.
Beliau mengatakan, "Ketika seklompok orang di tengah fitnah menafikan keislaman lewat lisan dan menolak kerakyatan pemerintahan ini lewat tindakan serta terus mempersoalkan keabsahan pemilihan umum, kalangan elit dituntut untuk memperjelas sikapnya."
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyinggung berbagai konspirasi dan makar musuh-musuh revolusi dalam merongrong pemerintahan Islam dalam 30 tahun terakhir. "Berkat inayah Allah, bangsa Iran berhasil melalui segala hambatan ini dengan baik dan ke depan pun semua hambatan akan terlewati," imbuh beliau.
526244