IQNA

Taqwa Adalah Panduan Al Qur’an Untuk Meraih Kehidupan Teladan

12:45 - August 18, 2010
Berita ID: 1976260
Hujjatul Islam Haidari por adalah salah seorang guru hauzah dan universitas hari ini pada seminar “ Al Qur’an adalah tuntunan kehidupan”, beliau menjelaskan bahwa taqwa adalah panduan Al Qur’an untuk mencapai kehidupan teladan.
IQNA melaporkan: Bahwa seminar kedua adalan serangkaian dari seminar-seminar ilmiah “Al Qur’an adalah tuntunan kehidupan” dan merupakan upaya bidang hauzah pameran Internasional Al Qur’an Al Karim ke-18, yang telah diselenggarakan sore hari ini, kamis bulan agustus dengan di hari oleh hujjatul Islam Majid Haidari Por guru hauzah dan universitas, di ruangan pameran Al Qur’an syahid Muffattih. Beliau menyebutkan dengan tiga variable Qur’an, kitab dan kehidupan dengan sebuah ayat:” Bahwasanya Al Qur’an ini memberi petunjuk kepada sebuah kaum dan member kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh, sesungguhnya bagi mereka pahala yang besar” . beliau mengisyaratkan dan berkata: memberi petunjuk adalah salah satu keistimewaan Al Qur’an, akan tetapi dalam ayat ini juga memperkenalkan akan Mahdisme, sebagaimana yang dikatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab hidayah, karena hidayah bukanlah satu-satunya pemberi petunjuk bahkan sebenar-benar jalan petunjuk, panduan yang benar, pusat panduan dan tujuan yang diinginkan, oleh karenanya jika kita katakana bahwa Al Qur’an berpaling dari petunjuk maka kita telah menzalimi kita kitab suci ini. Haidari Por dalam penjelasannya, kita memiliki dua jenis kitab; tadwiny dan takwiny, beliau menegaskan: Bahwa para wali Allah dan para Imam as adalah kitab takwiny Allah, demikian juga kita memiliki sebuah kitab panduan yang berupa lafadz, akan tetapi dua kitab ini berada dibawah himpunan kitab yang haqiqi “bahwasnya Ia adalah Al Qur’an Al Karim dalam kitab yang tersimpan” Guru besar hauzah dan universitas ini menunjukkan adanya point bahwa kitab yang tersembunyi (kitabun Maknun) adalah untuk menemukan kitab tadwiny dan takwiny, pada pembahasan bagian ketiga yaitu kehidupan yang berserah dan beliau mengatakan: kami disini berhadapan dengan dua pandangan hidup; yaitu dua pandangan hidup, materi dan spiritual, pandangan hidup materi memiliki uunsur tumbuh, berkembang, bergerak dan hidup, akan tetapi pandangan hidup spiritual berada dibawah penjagaan Al Qur’an, adalah keyakinan gerakan ini harus bergantung pada petunjuk dan tujuan.. Haidari por membacakan ayat 70 surat Yasin; “ untuk memberi peringatan bagi yang hidup dan….” Beliau menegaskan, bahwa sebaik-baik jalan untuk gerakan ayat diatas. Dan dalam ayat ini ada bentuk sastra yang dibuang dengan menggantikannya dengan qorinah,pada kelanjutan penjelasannya, akan tetapi pembahasab tentang mati tidak dijelaskan, pada bagian kedua menyebutkan orang kafir akan tidak menyebutkan sebutan mukmin. Beliau menambahkan: hasil dari perbuatan ini berlandaskan Al Qur’an Al Karim, jika seseorang memenuhi gerakan dari mana dan kemana kembalinya, dan dengan undang-undang yang telah diatur penerapannya dari permulaan adalah hidup, oleh karenanya berlandaskan budaya Al Qur’an semua manusia yang tertimpa kesulitan, kesusahan, tidur dan makan , kehidupan mereka binatang. Guru besar hauzah dan universitas menjelaskan bahwa dalam budaya Al Qur’an kita memiliki dua jenis kehidupan: hewani dan insani, dengan adanya pertemuan ini ( al qur’an, kitab kehidupan), dan dengan menunjukkan permulaan ayat surat “Al Baqoroh” berkata: Al Qur’an adalah hakikat yang tidak diragukan dan petunjuk yang tidak ada bandingannya. Haidari Por menekankan: Manusia jika ingin mencoba untuk sebaik-baik teladan hidup maka tidak ada acara selain mendekatkan diri dengan Al Qur’an, dan menyatu dengan kitab suci ini. Menurut ucapan peneliti hauzah ini, bahwa ketaqwaan adalah syarat utama yang mengambil dari petunjuk Al Qur’an untuk sampai kepada hidup yang teladan. Beliau menyatakan bahwa taqwa adalah obat mujarab yang agung yang dapat memenuhi semua yang diingini, diingatkan: untuk manusia Al Qur’an terdiri tiga tingkat, wawasan, pengetahuan, dan kecenderungan, tindakan, reaksi, program dan perencanaan dan jika kita bisa memenuhi tiga tingkat ini, bisa menjaganya maka kita akan mendapatkan kehidupan telada Qur’ani. Haidari Por menyimpulkan semua pembahasan yang telah disampaikan: bahwa Al Qur’an adalah kitab kehidupan, bisa dikataka untuk mukmin dengan kehidupan budaya Qur’ani, tentang mukmin juga banyak digunakan didalam lafaz-lafaz Al Qur’an yang melebihi taqwa dan muttaqi (orang yang bertaqwa). 631957
captcha