IQNA

Pilar-Pilar Kebangkitan Islam di Berbagai Negara Kawasan Diambil dari Ajaran Islam dan Al Quran

5:41 - September 21, 2011
Berita ID: 2190969
Imam Ali Khamenei: Pilar-pilar kebangkitan Islam saat ini seperti kebebasan, kemerdekaan, keadilan, anti kedhaliman dan imprealisme serta anti zionis merupakan ajaran Islam dan Al Quran.
IQNA merilis dari situs resmi kantor pemimpin spiritual tertinggi Republik Islam Iran, Imam Ali Khamenei, bahwa beliau menyampaikan hal itu dalam Konferensi Pertama Kebangkitan Islam yang diselenggarakan di Tehran, 17-18 September 2011 di hadapan ratus ulama, intelektual, sejarawan dan sosiolog dari berbagai dunia. Dalam Konferensi yang membahas berbagai dimensi Kebangkitan Islam itu Imam Ali Khamenei juga menjelaskan tentang identitas kebangkitan islam yang kita saksikan beberapa bulan terakhir di beberapa negara Timur Tengah serta menyebutkannya sebagai sebuah gerakan yang membongkar tembok kediktatoran dan imprealisme. Namun beliau juga mengingatkan berbagai problema dan kendala yang akan merusak dan meruntuhkan kekuatan kebangkitan ini, karenanya menurut beliau setelah bertawakkal kepada Tuhan hendaklah semuanya waspada dan jangan sampai lengah termakan oleh tipuan setan baik yang ada di Timur Tengah ataupun dunia sengan terus menelaah dan mengambil pelajaran dari sejarah kontemporer dunia Islam dan selalu berpegang tegug dengan akal, keberanian dan tekad. Imam Khamenei dengan berlandaskan pada perubahan sosial besar yang terjadi dalam sejarah peradaban Islam menganggap kehadiran para ikon pemikir dan pejuang Islam dalam kurun waktu 150 tahun serta tidak berhasilnya beberapa negara yang bergantung pada Barat dan Timur merupakan faktor penting yang menyebabkan munculnya kondisi seperti saat sekarang ini. Dalam hal ini kemenangan revolusi Islam di Iran yang melahirkan sebuah pemerintahan yang kuat, berani dan berdiri di atas kerakyatan dan Islam tentu merupakan sebuah bab penting bagi para analis dan sejarawan dunia Islam kontemporer dalam menganalisa dan mengukir sejarah kontemporer dunia Islam. Hal lain yang merupakan faktor penting adalah kehadiran rakyat dan keikutsertaan mereka secara aktif di medan kebangkitan, karena sangat beda antara kebangkitan serta gerakan yang diikuti oleh lapisan grass root dengan gerakan-gerakan lainnya, tegasnya. Gerakan yang diikuti oleh rakyat dari berbagai lapisan adalah seperti pohon yang baik (syajarah Thayyibah) yang pasti menghasilkan dan tidak mudah mengalami penyelewengan dan infiltrasi musuh, tambahnya. Imam Ali Khamenei juga menyebutkan, bahwa karunia Tuhan yang meliputi para pejuang di Mesir yang turun di Bundaran Tahrir dan beberapa tempat lainnya dengan kekuatan tekad dan motivasi merupakan karunia yang juga mendominasi para pejuang Tunisia, Yaman, Libia dan Bahrain. Menurut beliau slogan dan tindak-tanduk warga Timur Tengah merupakan simbol dan penjelas dari berbagai dasar, nilai dan tujuan gerakan-gerakan itu. berdasarkan realitas ini, beliau menekankan yang menjadi prioritas untuk diperjuangkan adalah dihidupkan nya kembali kemuliaan dan jati diri yang telah diinjak-injak oleh para diktator yang bergantung pada kekuatan Amerika dan Barat. Selain itu menurut beliau slogan-slogan yang mereka teriakkan juga merupakan cerminan dari keyakinan yang mendalam yang menginginkan terealisasinya kedamaian, keadilan dan kemajuan yang tidak bisa terealisasi kecuai di bawah syariat Islam. Berdiri kokoh menghadapi hegemoni dan penghinaan Amerika dan Eropa serta melawan agresor zionis juga pondasi penting lain yang menguatkan kebangkitan Islam di berbagai negara ini, tambahnya. Barat dan Zionis berusaha sekuat tenaga untuk menegasikan berbagai pondasi penting tersebut dalam rangka memperoleh kepentingan mereka, namun realitas itu tidak bisa berubah dengan penegasian dan pengingkaran mereka, tegas beliau. Ayatullah Khamenei dalam ceramahnya itu mengkritik dengan keras campur tangan asing dalam berbagai gerakan dan kebangkitan tersebut dengan mengatakan, bahwa para pencari kekuasaan dan hegemoni yang berusaha sekuat tenaga untuk melanggengkan para pemimpin diktator dan korup serta mengekor saja, saat ini tidak berhak untuk campur tangan dan merasa punya andil dalam kemenangan ini. Begitu juga beliau mengecam campur tangan Nato dan Amerika pada perjuangan rakyat Libia dengan mengatakan, bahwa andaikan mereka tidak campur tangan, maka bisa jadi perjuangan mereka lebih lama, namun infrastruktur Libiya tidak banyak yang rusak dan tidak banyak rakyat sipil yang tak berdosa jatuh menjadi korban. Bagian kedua dari ceramah beliau adalah berkenaan dengan problema dan tantangan yang akan dihadapi pasca kebangkitan islam ini. Menurut beliau mengingat pengalaman Republik Islam Iran dalam hal ini, maka problema dan tantangan itu dapat digolongkan pada dua kategori; yang pertama diakibatkan oleh kelemahan internal kita dan yang kedua disebabkan oleh program langsung yang memang direncanakan oleh musuh. Problema internal menurut beliau diantaranya adalah perasaan menang dan aman dari musuh yang kemudian akan berakibat dengan lemahnya tekad. problema ini akan semakin nampak bahaya dan efeknya di saat para ikon pejuang sedang sibuk membagi kue kemenangan di antara mereka. Selain itu juga termasuk problema internal adalah ketakutan menghadapi bentuk lahiriah hegemoni para imprealis, percaya pada tipu daya musuh, masuk dalam perangkap senyuman dan janji-janji musuh, munculnya perselisihan dan perpecahan di kalangan para revolusioner serta menggerogoti kekuatan dari dalam. Karenanya semua kekuatan harus digunakan untuk menghindari berbagai problema internal yang telah disebutkan itu, tegas beliau. Semua harus memadukan keberanian dan manejerial yang baik guna dapat melestarikan karunia besar Tuhan yang telah didapatkan, yakni kemenangan Kebangkitan Islam, tambah beliau. Adapun problema eksternal yang diprediksi oleh beliau yang akan dilakukan oleh para musuh adalah didatangkannya ikon-ikon yang bergantung pada Amerika dan Barat untuk kemudian menawarkan berbagai metode pemerintahan, konstitusi yang tidak berdaulat secara sempurna serta berbagai penyelewengan. Begitu juga mereka akan menawarkan bantuan keuangan, penguatan media, pengalihan isu penting ke berbagai isu tidak penting dan murahan, semuanya dengan satu tujuan kembali menguasai dan memegang kendali, lanjut beliau. Karenanya pesan beliau kepada para ulama, intelektual dan para pakar dunia Islam hendaknya mereka sangat waspada pada berbagai taktik para musuh dan jangan sampai mereka masuk dalam perangkap seperti terlibat dalam berbagai perselisihan, keributan, teror, pertentangan agama, suku, bahkan keributan di negara tetangga hingga pembunuhan karakter. Para ulama dan intelektual muslim hendaknya mereka menaikkan sensitifitas mereka dan saya mengajak semuanya -kata beliau- untuk tidak tertipu oleh rayuan, senyuman Amerika, Nato dan hendaklah mereka tidak percaya pada janji-janji para negara kriminal seperti Inggris, Prancis dan Itali. sebaliknya mereka hendaknya mencari penyejuk kehausan dari mata air Islam yang kaya akan solusi. Beliau juga mengingatkan pada para ulama dan pemikir Islam untuk waspada atas upaya pemecah belah umat atas nama madzhab dengan mengatakan, bahwa hendaknya kita menerima berbagai perbedaan pemahaman namun wajib kita arahkan kepada saling memahami, karena itulah kunci keselamatan kita. Mereka yang mengetengahkan isu perpecahan dan pengkafiran kelompok lain, disadari atau tidak mereka adalah orang-orang bayaran dan antek-antek setan, tegas beliau. Imam Khamenei di akhir ceramahnya menyebutkan, bahwa di antara hal yang perlu terus dilakukan untuk keberlangsungan Kebangkitan Islam adalah melawan berbagai pemikiran yang dipaksakan, seperti sekularime, liberalisme barat, Nasionalisme ekstrim dan paham kiri Makrsisme. Yang harus diperjuangkan oleh kita adalah persatuan umat Islam, membangun kembali peradaban Islam yang berdiri di atas rasionalitas, ilmu dan akhlak. Di akhir ceramahnya beliau meminta seluruh yang hadir memahami dengan benar perbedaan antara Kelompok yang memperjuangkan Islam dengan kelompok Puritan, Jumud dan Ekstrim. Begitu juga kita harus memilah dengan baik antara demokrasi dengan kerakyatan islam, yakni sistem yang berdiri di atas aspirasi rakyat yang karena mereka adalah muslim maka mereka berdiri di atas nilai-nilai dan dasar-dasar Islam, yang dominan di tengah masyarakat adalah berdasarkan pengetahuan mereka atas Islam serta ajarannya. dan pada saat yang sama para pemimpin mereka memperjuangkan nilai-nilai dan dasar-dasar Islam yang mereka juga dipilih oleh rakyat. 861859
captcha