IQNA

Kisah Seorang Abdi Masjid Al-Aqsa yang Diasingkan dari "Berbuka Jauh dari Mihrab"

10:39 - February 17, 2026
Berita ID: 3483392
IQNA - Di jantung Quds yang diduduki, di mana bulan Ramadhan setiap tahunnya selalu diwarnai dengan peningkatan ketegangan keagamaan oleh rezim Zionis, Nafisa Khwais, seorang abdi setia yang diasingkan, berbuka puasa setiap malam bukan di halaman Masjid Al-Aqsa, tetapi di pinggir jalan menuju tempat suci ini; ia menatap tangannya yang kosong dan berteriak: “Masjid ini adalah identitas kita; jangan serahkan kepada penjajah”. Pengasingan tidak mampu memisahkan jiwanya dari tempat suci ini; kini, dengan suara lantang, ia menyerukan kepada ribuan umat Muslim untuk menjaga benteng terakhir iman.

Menurut Iqna mengutip kantor berita Sanad, Ramadhan di Quds yang diduduki berbeda dari kota-kota lain di dunia Muslim. Di sini, bulan ini diukur dengan izin, pos pemeriksaan, dan perintah pengusiran. Kedamaiannya direnggut bahkan sebelum hilal muncul, ketika para abdi Masjid Al-Aqsa berdiri di gerbang dengan hati yang cemas dan pertanyaan yang mengkhawatirkan: “Bisakah kami shalat? Bisakah kami melakukan ritual I’tikaf bulan ini?” Di jalan-jalan Kota Tua Yerusalem, Nafisa Khwais berbuka puasa jauh dari masjid tempat tinggalnya, sebuah pemandangan yang menggambarkan perjuangan untuk identitas dan ibadah di kota suci ini.

نفیسه خویص در مواجهه با ایست‌های بازرسی

Nafisa, yang dikenal sebagai "Ibu Para Abdi", mengatakan bahwa ia datang ke Jalan Mujahidin dekat Masjid Al-Aqsa setiap hari untuk berbuka puasa karena ia dilarang memasuki tempat itu atas perintah rezim Zionis. Ia menekankan bahwa pengasingan tidak memutuskan hubungan spiritualnya dengan tempat suci ini.

Nafisa Khwais menyerukan peningkatan kehadiran umat Muslim di Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadhan, dengan mengatakan: "Masjid Al-Aqsa tidak boleh dikosongkan dan diserahkan kepada penjajah. Masjid ini adalah identitas dan keyakinan kita". Ia percaya bahwa kehadiran tentara Zionis di tempat ini disebabkan oleh kekeraskepalaan mereka untuk mengosongkan masjid dari barisan para jamaah.

حضور اشغالگران اسرائیلی برای محدودکردن حضور فلسطینیان در مسجدالاقص

Di sisi lain, Abdullah Marouf, seorang peneliti urusan Yerusalem, memperingatkan bahwa Ramadhan mendatang bisa menjadi salah satu periode paling tegang di Masjid Al-Aqsa dan kota Yerusalem sejak pendudukan. Marouf menyatakan bahwa langkah Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, untuk menunjuk temannya, Avshalom Peled, sebagai kepala Kepolisian Yerusalem, tepat sebelum Ramadhan, menunjukkan tren yang jelas menuju peningkatan langkah-langkah keamanan dan meningkatnya ketegangan di Masjid Al-Aqsa.

Ia mencatat bahwa bahaya yang akan datang diperparah oleh bertepatannya Ramadhan dengan hari raya Yahudi, terutama perayaan Purim di pertengahan bulan, dan tumpang tindihnya Idul Fitri dengan hari raya Ibrani yang memiliki makna keagamaan yang besar bagi kelompok-kelompok ekstremis. (HRY)

 

4334589

captcha