
Seyed Yasser Sajedi, Direktur Bagian Kecerdasan Buatan dan Pengetahuan Alquran di Pameran Alquran Internasional ke-33, dalam sebuah wawancara dengan IQNA, saat memperkenalkan bagian ini, menyatakan: "Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem berbasis pengetahuan Alquran telah terbentuk di negara ini dan telah mencapai kapasitas yang signifikan. Upaya kami selama periode pameran ini adalah untuk membuat kapasitas ini nyata dan untuk memperkenalkan produk dan layanan berbasis pengetahuan Alquran."
Merujuk pada jumlah perusahaan berbasis pengetahuan Alquran yang terbatas, ia menambahkan: "Dari empat hingga lima ribu lembaga Alquran yang aktif di negara ini, kurang dari 20 kelompok yang berhasil memenuhi syarat untuk berpartisipasi".
Yasser Sajedi menyatakan bahwa beberapa kelompok juga diperkenalkan secara tidak langsung.
Ia melanjutkan: "Aktivitas kecerdasan buatan di sektor ini dijalankan dalam dua poros; pertama, produksi produk kecerdasan buatan untuk menyediakan layanan di bidang Alquran, seperti chatbot Alquran khusus yang telah dirancang oleh beberapa kelompok dan yang memberikan kemungkinan respons cerdas terhadap pertanyaan-pertanyaan Alquran. Bidang ini mengawasi desain alat-alat praktis berbasis kecerdasan buatan."
Yasser Sajedi menganggap poros kedua adalah penggunaan "kecerdasan buatan generatif" untuk menghasilkan konten dan menyatakan: "Dalam hal ini, telah diadakan acara produksi konten Alquran di mana para remaja berpartisipasi dalam tim yang terdiri dari empat hingga lima orang setiap malam dari pukul 19.00 -22.00. Rata-rata, 60 - 70 orang berpartisipasi dalam kompetisi ini dalam sekitar 15 tim."
Dia menambahkan: "Dalam acara ini, akan dilakukan pendampingan teknis dan konten yang aktif, dan tim akan menghasilkan konten yang berpusat pada ayat-ayat dari proyek "Hidup dengan Ayat" dan dengan pendekatan gaya hidup Islami. Pada akhirnya, karya-karya yang dihasilkan akan dievaluasi oleh juri internasional, dan para pemenang akan mendapatkan hadiah uang tunai hingga 20 juta Toman."
Di penghujung Yasser Sajedi menekankan: "Tujuan utama kami adalah untuk menunjukkan bahwa teknologi modern, khususnya kecerdasan buatan, dapat melayani Alquran dan ajaran Ahlulbait (as) serta menyediakan dasar untuk inovasi, produksi konten, dan penyebaran budaya Alquran di kalangan generasi muda". (HRY)