Realisasi persatuan kaum muslimin dalam satu barisan, bukanlah suatu gerakan perubahan budaya, melainkan upaya suatu kelompok untuk memenuhi kemestian-kemestian logis.
Iqna melaporkan dari lokasi penyeleggaraan konferensi internasional ”Wahdah Al-Islamiyah” Sadruddin Qabanji, Imam Jumat Najaf pada keterangannya kemarin, tanggal 15 Maret pada acara penutupan konferensi ini mengatakan bahwa masyarakat Irak dalam pemilihan umum terakhir kemarin, mampu mendatangkan suatu perubahan besar dalam perjalanan sejarah negara ini dan warga syiah-sunni telah melaksanakan pemilihan umum ini secara tertib.
Qabanji menambahkan bahwa data statistik setelah pemilihan umum di Irak menunjukkan bahwa jumlah kaum muslim ahlussunnah yang ikut serta dalam pemilihan umum melebihi dari kaum syiah. Ini adalah suatu fakta sejarah yang belum pernah terjadi di negara manapun.
Imam Jumat Najaf selanjutnya menambahkan bahwa hari ini, bangsa Irak berjuang melawan penguasa asing dan pasukan Amerika masuk ke negeri ini, dengan slogan demokrasi. Namun nyatanya, mereka menghadapi berbagai krisis dan masalah.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan akhir dari bangsa Irak adalah melaksanakan pemilihan umum untuk memantapkan stabilitas politik yang mandiri, mengakhiri penjajahan, menghindari perang saudara dan penetapan undang-undang dasar.
Sadruddin Qabanji pada bagian lain menyatakan bahwa ribuan para peziarah hadir di Samarra’ merupakan wilayah yang dihuni oleh mayoritas kaum sunni, mereka (syiah) berbondong-bondong datang ke tempat-tempat suci Samarra’ dalam suatu acara Islami dan kaum sunni menyambut kedatangan mereka. Ini menunjukkan terciptanya persatuan dan kesatuan antara sunni dan syiah.
Qabanji dalam akhir keterangannya menyatakan bahwa persatuan adalah suatu keinginan untuk suatu perubahan dan persatuan haruslah diawali dengan kehendak hingga dapat direalisasikan. Di Lebanon ingin menciptakan suatu perubahan, dengan terciptanya persatuan kaum muslimin Lebanon maka terwujudlah sebuah kemenangan.
378506