IQNA: Penyelenggaraan festival ini dihadiri oleh para pejabat kebudayaan Indonesia, diantaranta mentri urusan perempuan Indonesia, duta besar Iran, sejumlah diplomatik asing yang berada di Jakarta, para guru dan seniman utusan dari Iran, seniman perempuan Indonesia, anggota kesatuan perempuan Indonesia dan lembaga-lembaga perempuan lainnya.
Pada acara pembukaan festival ini Hj. Tuti Alawiyah pimpinan universitas As Syafiiyah pada sambutan yang menyampaikan tentang gerakan yang akan memperkuat hubungan dan kerja sama perempuan-perempuan dua negara besar dan umat Islam Iran dan Indonesia.
Dia menambahkan: Islam memiliki dua pilar iman dan perbuatan baik yang merupakan kriteria penilaian manusia secara umum laki-laki dan perempuan, dan suasana yang tumbuh dan keunggulan perempuan seperti yang ada pada lelaki didalam Islam lebih dari waktu yang lain dimana kebahagian dan kesempurnaan masyarakat tergantung pada peranan yang di penuhi oleh para perempuan negara tersebut.
Mentri luar negri Indonesia dalam pesan tertulisnya yang dibacakan oleh Ibu Mauludiyah menyebutkan, bahwa pelaksanaan Festival Kebudayaan Seni dan Perempuan Iran dan Indonesia merupakan langkah yang positif dalam memperkuat peranan perempuan dua negara untuk memperluas dan memperkuat dalam semua segi multilateral antara Iran dan Indonesia, diingatkan juga bahwa harus ada usaha yang lebih keras dalam memafaatkan yang lebih banyak dari kapasitas perempuan dua negara khususnya di bidang-bidang bersama yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan, membela hak-hak perempuan di konvensi internasional, begitu juga menghubungkan masyarakat dengan organisasi perempuan non pemerintahan.
Pada kelanjutan acara ini Mr. Mahmud Faro Zandeh, Duta besar Iran di Jakarta, mengacu pada fungsi dan peran agama sebagai barometer baik dan buruk serta baik dan tidaknya budaya dan tradisi sosial masyarakat, menegaskan, bahwa Islam adalah agama yang telah mengangkiat derajat perempuan dengan menentang dan melawan tradisi Arab jahiliah yang menganggap perempuan tidak bernilai dan mengubur hidup–hidup mereka.
Sejarah menjadi saksi bahwa para perempuan muslim di negri kami memiliki kemampuan dan mengalami perkembangan luar biasa dalam pergolakan kebudayaan dan sosial, tegasnya.
Dia juga menegaskan pentingnya pembahasan kondisi perempuan di dunia dengan mengatakan, bahwa hari ini perempuan merupakan obyek pertama dan utama dari invasi budaya Barat, ia menekankan bahwa ini penting demi kepenting kebudayaan dan pendidikan dalam perkara memberdayakan perempuan berdasarkan nilai-nilai dasar spiritual dan agama.
Selanjutnya dala acara ini Insiyah Khaz Ali, Guru besar universitas Imam Shadiq di Tehran, dalam ceramahnya memuji perempuan Indonesia dalam hal mementingkan nilai-nilai dan tradisi-tradisi Islam.
Beliau juga mengkritik pendangan budaya Barat dan modernitas Barat tentang perempuan dengan mengatakan, bahwa Islam telah meletakkan perempuan pada tempatnya dan jauh dari berbagai pandangan ekstrim dan jumud.
Selanjutnya pada acara ini Linda Amalia Sari mentri pemberdayaan perempuan Indonesia juga sebagai penceramah utama acara ini dengan menampakkan kepuasannya dengan datangnya kesempatan hadir dan kerjasama bersama perempuan Iran dan Indonesia dalam festival ini dan efek yang abadi pada transaksi dalam transfer pengalaman perempuan didua negara dan memberikan penjelasan kedudukan dan posisi perempuan didalam Islam dan Indonesia.
Dia menambahkan, bahwa para akademisi dan perempuan Indonesia telah memperkenalkan kedudukan dan posisi perempuan berdasarkan pemikiran dan ide para pemikir dan cendikiawan Iran seperti Imam Khomaini, Muthahhari dan Syariati.
746426