IQNA mengutip laporan dari website ami, Presiden Mauritania Senin kemarin (23/1), pada upacara pembukaan Konferensi Internasional ‘Pemikiran Yang Benar dan Menghindari Perkataan Ekstremisme’ di Nouakchott (Mauritania), yang menegaskan pada kebutuhan untuk memerangi kekerasan dan ekstremisme, mengatakan bahwa sementara beberapa kaum ekstrimis Islam jauh dari ajaran yang benar dan menghasilkan tindak kekerasan, tugas ulama adalah menghadapi orang-orang seperti itu maka hendaklah mengenalkan Islam secara benar kepada masyarakat dan mencegah penyebaran pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.
Dia menambahkan bahwa Islam adalah agama damai, tenang, toleransi, dan semua muslim harus merupaya untuk menebarkan kemitraan, nilai-nilai ini dilembagakan dalam masyarakat.
Mauritania presiden pada bagian lain dalam sambutannya mengatakan, “Menjelaskan Islam secara benar kepada warga sebagai jawaban untuk semua ekstrimis. Karena itu, mengenalkan Islam dengan kekerasan dan aksi teroris maka bertentangan dengan para pengikut agama-agama samawi.”
Ia menekankan dalam konteks ini, peran sarjana muslim dan ulama maka akan membantu pemerintah dalam memerangi ekstremisme, dengan tidak mengizinkan keberadaan masjid dan pusat-pusat keagamaan di negeri ini dan menjadikan negeri ini sebagai tempat yang mempromosikan kekerasan.
Konferensi Internasional tentang ‘Pemikiran Yang Benar dan Menghindari Perkataan Ekstremisme’ oleh Departemen Urusan Islam Mauritania Senin kemarin dan dihadiri oleh para sarjana muslim, pemikir dari seluruh dunia, yang diadakan di Nouakchott.
939649