IQNA

18:29 - July 23, 2019
Berita ID: 3473296
AFGANISTAN (IQNA) - Menjelang penyelenggaraan pemilihan presiden Afganistan, munculnya beberapa kelompok, termasuk Dewan Koordinasi Syiah Afganistan, telah menciptakan harapan di tengah-tengah masyarakat di negara itu, termasuk kaum Syiah, sementara para pendiri organisasi-organisasi ini berusaha untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri dan memperkuat status sosial mereka.

Menurut laporan IQNA, bulan Juni lalu dipublikasikan berita penyelenggaraan kongres pertama Dewan Koordinasi Syiah Afganistan di Aula Loya Jirga. Kongres ini diselenggarakan dengan dihadiri oleh ratusan warga dan berfokus pada masalah perdamaian, keamanan dan status suku. Di antara masalah yang diangkat oleh penyelenggara kongres adalah bahwa kami tidak lagi mengizinkan siapa pun untuk mengambil keputusan menggantikan kami dan melihat kami dengan pandangan kotak suara.

Pemilu Afganistan, Keuntungan Organisasi dan Harapan yang Pudar

Para peserta kongres menggambarkan situasi di Afganistan sangat mengkhawatirkan dan menekankan, keadilan sosial harus disediakan untuk menerapkan perdamaian di Afganistan. Menurut pernyataan dewan ini, empat puluh tahun perang paksa telah menghancurkan struktur sosial, ekonomi, budaya dan politik negara itu, dan perang saudara yang meluas ini juga telah melemahkan tatanan sosial karena meluasnya kekerasan, ketidakadilan dan pembatasan partisipasi dalam pemilihan.

Membeli Suara Kelompok

Pada awalnya, masalah penting, dan tentu saja, tampaknya menjadi pendekatan positif bahwa diselenggarakannya sebuah kongres dengan poros kaum Syiah di negara ini, yang mayoritas masyarakat bermazhab Syiah menghadapi pelbagai problem, namun tinjauan sejarah pembentukan kelompok-kelompok semacam itu menjelang pemilihan Afghanistan, yang akan diadakan pada bulan Oktober, telah mendorong kami untuk melihat masalah ini lebih dalam.

Pemilu Afganistan, Keuntungan Organisasi dan Harapan yang Pudar

Sebelum memasuki sejarah pembentukan berbagai kelompok menjelang pemilihan, ada baiknya berbicara tentang budaya rakyat negara itu, yang merupakan dasar dari tindakan tersebut. Seperti di masa lalu, kepala suku atau tetua suku di Iran memutuskan dan anggota suku lain mengikuti pelaksanaan keputusan, kita sekarang ini dihadapkan dengan pendekatan semacam itu di Afganistan.

Dalam artian bahwa kepala suku dan kelompok memutuskan pada subyek yang berbeda dan anggota suku lainnya akan mengikutinya. Tetapi relevansi masalah ini dengan pemilihan dan pembentukan kelompok-kelompok sekarang nampaklah jelas, dengan penjelasan bahwa ketika kepala suku pergi ke salah satu kandidat presiden dan mengumumkan untuk beberapa poin, secara otomatis anggota kelompoknya juga memberikan suara untuknya.

Masjid Dhirar

Dalam hal ini, Dewan Koordinasi Syiah Afganistan telah didirikan yang mana para pendirinya tidak memiliki catatan gemilang dan kinerja sukses dalam raportnya, dan seperti banyak kelompok lain yang telah muncul untuk mengambil keuntungan dari situasi seperti itu, yang nantinya akan menjadi sejarah.

Dalam hal ini, Sayyid Mohammad Mousavi, seorang ahli masalah politik Afganistan, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan IQNA bahwa organisasi itu, menurut para pakar politik negara ini sama dengan pembangunan masjid Dhirar di era awal Islam. Masjid ini dibangun dengan tujuan untuk memecah belah kaum mukminin, memublikasikan kekufuran dan basis bagi orang-orang munafik, tetapi para pembangunnya mengklaim bahwa masjid tersebut dibangun untuk orang-orang yang sakit dan terkena musibah yang tidak mungkin hadir di masjid Quba. Ayat 107 dan 108 surah at-Taubah diturunkan terkait hal ini.

Pemilu Afganistan, Keuntungan Organisasi dan Harapan yang Pudar

Dia mengatakan: "Persepsi saya tentang pembentukan dewan semacam itu adalah akan menyebabkan komunitas Syiah tercerai-berai. Orang-orang ini seringkali adalah orang-orang yang kehilangan kekuasaan dalam permainan politik dan berusaha mendulang keuntungan untuk dirinya dalam pemilihan presiden berikutnya.”

“Orang-orang ini telah melalaikan, dengan kinerja semacam ini telah membagi komunitas Syiah menjadi bagian-bagian kecil. Populasi Syiah Afganistan menyumbang 20% dari total populasi, dan jumlah orang-orang ini adalah minoritas dibandingkan dengan Ahlussunnah dan secara eksekutif mereka tidak dapat berbuat sesuatu dalam pemilihan,” tegasnya.

Pembagian Komunitas Syiah

Dia mengatakan bahwa partisipasi Syiah dalam kekuasaan politik saat ini kurang dari 5 persen. Bagaimana masyarakat Syiah dapat meraih poin jika dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil?

Pakar politik ini menegaskan, di satu sisi, pembentukan dewan dan kelompok seperti itu dengan nama Syiah tidak memiliki kepentingan untuk kondisi Syiah, dan itu semata-mata untuk kepentingan mereka yang berusaha menciptakan posisi untuk diri mereka sendiri, dan sering kali mereka tidak memiliki basis sosial yang kuat.

Pemilu Afganistan, Keuntungan Organisasi dan Harapan yang Pudar

Penjelasan dan rancangan beberapa poros dan isu-isu penting bagi orang-orang Syiah di kongres dewan ini, yang telah memberikan beragam diskriminasi sepanjang pemilihan Presiden Ashraf Ghani dan Hamid Karzai adalah titik harapan bagi kelompok orang di Afganistan ini, sehingga mereka berasumsi bahwa mereka dapat berpartisipasi dalam menentukan masa depan negara dan menyelesaikan masalah, mereka berpartisipasi dalam pertemuan dan keputusan dewan ini, mereka tidak menyadari bahwa sebelumnya keputusan mereka didasarkan pada sistem persuasif dan hegemoni budaya, dan dalam rangka untuk mengamankan kredibilitas para pendiri dewan ini.

 

http://iqna.ir/fa/news/3828801

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\