IQNA

15:55 - July 24, 2019
Berita ID: 3473298
NEW DELHI (IQNA) - Pertemuan keagamaan ke-32 dengan tema gaya hidup Islam khusus masyarakat Iran yang tinggal di New Delhi, diselenggarakan dengan pidato perwakilan dari Wali Faqih di India, di aula pertemuan atase kebudayaan Iran di New Delhi.

Menurut laporan IQNA dilansir dari organisasi kebudayaan dan komunikasi Islam, Pertemuan keagamaan ke tigapuluh dua dengan tema gaya hidup Islam khusus masyarakat Iran yang tinggal di New Delhi, diselengarakan dengan partisipasi para pejabat dan staf lembaga dan keluarga.

Dalam pertemuan ini, Hujjatul Islam Mahdi Mahdavipour, perwakilan Wali Faqih di India, memulai pidatonya dengan riwayat-riwayat dari buku Mafatih al-Hayat (Kunci Kehidupan) oleh Ayatullah Abdullah Javadi Amoli dan berkata: “Dalam konteks gaya hidup Islam, ada landasan dimana pertama-tama prinsip-prinsip ini harus diselesaikan. Pertama, kehidupan kita umat Islam, selain kebiasaan dan tradisi, menemukan peniruan. Mekanisme berinteraksi suami istri, orang tua dan anak-anak dan dalam seluruh kehidupan, kedudukan seni dalam kehidupan, dll, ada masalah di mana-mana.”

Dia menambahkan: "Ada pertanyaan tentang apa dasar gaya hidup Islam?" Tidakkah gaya hidup didasarkan pada sains dan pengetahuan, jadi di sini apa peran agama. Gaya hidup harus didasarkan pada pengetahuan dan sains, dan hari ini sains telah berkembang pesat, kehidupan telah berubah, dan apa perlunya kita mengambil pesan agama untuk gaya hidup. Jawabannya adalah tidak ada kontradiksi antara sains dan agama, keduanya saling melengkapi. Apa hubungan antara sains dan agama? Ilmu laksana lentera dan agama adalah pembimbing.”

Dia berkata: “Hari ini, kejahatan terburuk, perang dan penindasan terealisasi dengan alat ilmiah, yakni sains dengan sendirinya tidak dapat membawa kebahagiaan, dan ini adalah hasil dari mengambil jarak dari agama.”

Dia lebih lanjut dengan menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Ilahi dan moral yang tetap dengan tidak adanya perubahan padanya kendati dengan adanya perubahan sarana, mengatakan: "Salah satu ritual keagamaan adalah haji, yang merupakan perjalanan spiritual".

Perjalanan ini memiliki dampak politik dan memiliki koneksi spiritual dan politik dengan dua setengah juta orang dari berbagai negara dan bahasa serta ras.

Di penghujung, ia meriwayatkan dari Imam Ali (as): “Jika Anda ingin mengukur kebijaksanaan dan agama teman Anda, Anda dapat mengujinya di enam tempat. 1- Dalam bersosialisasi, 2-Dalam perdagangan dan transaksi. 3- Meraih jabatan dan kedudukan. Manusia saat meraih jabatan, apakah imannya masih utuh atau tidak. 4- Lengser dari jabatan, disini dapat diketahui seberapa besar manusia beragama. 5- Kekayaan, kekayaan adalah sebuah ujian yang memperlihatkan diri manusia itu sendiri, ketika manusia miskin, sangat religius dan banyak beribadah, tetapi ketika sudah kaya, ia menjauh dari agama. 6- Kemiskinan. Dalam enam situasi ini, manusia akan memperlihatkan jati dirinya.”

http://iqna.ir/fa/news/3829307

Kunci-kunci: New Delhi ، Pertemuan ، Gaya Hidup Islam
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\