IQNA

20:24 - September 22, 2019
Berita ID: 3473456
AMERIKA (IQNA) - Meskipun Donald Trump memandang Muslim sebagai prioritas terakhir dalam politik pemilunya, namun sejumlah statistik menunjukkan bahwa umat Islam telah memainkan peran penting dalam pemilu Amerika dalam berbagai periode.

Menurut laporan IQNA, pemilihan presiden AS tahun depan dapat dianggap sebagai pemilihan politik terbesar di tingkat internasional. Nampaknya mengingat kepekaan yang dibuat Donald Trump dan kinerjanya di kancah global, pemilihan ini tampaknya sangat penting bagi semua negara di dunia.

Di dalam kancah politik, dalam negeri Amerika Serikat, ada berbagai isu yang diangkat dalam debat dan jajak pendapat pemilihan yang membahas berbagai masalah seperti ras, etnis, dan agama yang termasuk di antara masalah sosial paling penting di samping masalah lain seperti pajak dan sistem perawatan kesehatan.

Secara umum, peran minoritas etnis dan ras dalam pemilihan Amerika, sebagai tanah imigran dan pelbagai kebangsaan, sangat penting dalam kancah kebijakan domestik dan luar negeri negara ini. Berbagai lobi dibentuk oleh berbagai etnis dan agama dalam politik Amerika, yang kadang-kadang memiliki pengaruh yang lebih signifikan dari perwakilan parlemen dan majelis senat AS. Lobi-lobi Amerika yang paling penting termasuk American Jewish Committee (AJC), The Armenian National Committee of America, dan Cuban-American lobby.

Tetapi populasi Muslim di Amerika Serikat, yang jumlahnya mencapai 9 juta orang, secara umum tidak memiliki lobi yang koheren yang mencakup semua Muslim. Lobi terbesar dan komunitas Muslim Amerika hanya mencakup lobi Arab Amerika, yang menganggap dirinya paling peduli dengan hubungan AS-Arab dan bukan dengan Muslim Amerika.

Kinerja Donald Trump sebagai calon dari Partai Republik pada tahun 2016 telah mencapai kemenangan, sampai-sampai sangat berbeda dari rekan-rekan sebelumnya tentang masalah internasional sehingga beberapa orang percaya bahwa Trump, meskipun merupakan kandidat dari Partai Republik, namun dianggap sebagai perwakilan aliran ketiga dalam politik domestik AS, yang contoh serupanya dapat ditemukan di negara lain seperti Brasil, Inggris, Filipina dan beberapa negara Eropa lainnya.

Salah satu masalah yang memicu komentar kontroversial dari Trump sejak kampanye presiden 2016 adalah perdebatan tentang hak-hak minoritas ras dan agama di Amerika. Dalam kampanye kepresidenan dan setelah menjadi Presiden Amerika Serikat, Trump selalu memiliki pandangan yang sangat negatif dan sepihak tentang etnis minoritas dan ras di Amerika Serikat, terutama Muslim, dan puncak dari tindakan ini dapat dilihat dalam perintah larangan masuknya beberapa warga negara Muslim ke negara ini; kinerja yang sangat dikritik oleh para pengacara dan aktivis hak asasi manusia.

Pendekatan Trump terhadap Muslim

Namun, background Donald Trump menunjukkan bahwa pernyataan Islamofobiknya tidak terbatas pada kursi kepresidenan, dan Trump memiliki sejarah panjang tentang Islamofhobia. Menurut data penelitian Universitas Georgetown, antara 2010 - April 2018, Trump telah membuat setidaknya 86 pernyataan penuh kebencian tentang Islam dan Muslim.

Pada 2011, misalnya, selama wawancara televisi dengan Fox News, Trump menjawab pertanyaan tentang apakah Muslim pembuat masalah, Ia mengatakan: Maksudku, aku tidak melihat warga Swedia menghancurkan World Trade Center. Ada masalah dengan nama seorang Muslim di dunia, dan Anda dan saya tahu itu.

Islamofhobia Trump dan Peran Muslim dalam Pemilu Amerika Mendatang

Pada Mei 2015, ketika Trump sedang mempersiapkan untuk memulai kampanye pemilihannya, ia menghadiri pertemuan Iowa National Security Action Summit. Di sana, salah satu hadirin bertanya kepadanya, "Kebohongan propaganda apa yang paling menonjol yang telah diberikan kepada rakyat Amerika tentang keamanan nasional?" Tanggapan Trump adalah isyarat ke imigrasi. "Orang-orang Muslim bisa masuk tetapi orang lain tidak bisa; orang Kristen tidak bisa memasuki negara ini, tetapi orang-orang Muslim bisa. Sesuatu dari bawah sedang naik ... Muslim tidak dalam bahaya, namun orang-orang Kristen."

Sejatinya, dapat dikatakan bahwa homogenisasi sistematis berbasis ras, agama, etnis, dan sosial ekonomi, dari satu sisi Trump merupakan ancaman besar bagi wacana politik dan kewarganegaraan Amerika. Stereotip yang awalnya dibuat untuk teroris 9/11 telah menyebar ke semua Muslim Amerika karena homogenisasi berbasis ras, bahkan telah merambah kedelegasi kongres seperti Perwakilan Ilhan Omar. Muslim Amerika terus menjadi sasaran serangan rasis oleh media dan politisi.

Setelah Trump berkuasa, selain undang-undang larangan Muslim ke Amerika Serikat, Muslim di negara itu juga menghadapi pembatasan dan tekanan peraturan yang lebih besar. Selain itu, berbagai laporan serangan kebencian terhadap Muslim dan pusat-pusat Islam di Amerika Serikat telah meningkat sejak Trump berkuasa.

Peran Muslim dalam Pemilu Amerika

Namun dengan itu semua, umat Islam, seperti minoritas Amerika lainnya, memiliki peran besar dalam pemilihan. Contoh yang mencolok dari ini dapat dilihat dalam pemilihan jangka menengah tahun lalu. 80% pemilih Muslim pada 2018 memilih Demokrat dan 17 % untuk Partai Republik. Contoh yang lebih penting dari pengaruh umat Islam dapat dilihat dalam pemilihan George W. Bush. Dalam pemilihan presiden 2000, pemilih Muslim di Florida membantu George W. Bush memenangkan pemilihan, yang hanya memenangkan 537 suara.

Sejatinya, pendapat komunitas Muslim Amerika sangat beragam. Muslim Amerika terdiri lebih dari 90 negara dan dari tujuh benua, termasuk Muslim Afrika-Amerika, yang memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Amerika Serikat. Sebagian besar pemilih Muslim memiliki berbagai status sosial ekonomi dan ras dan sangat beragam dalam preferensi suara dan keberpihakan politik.

Mungkin komentar dan pendapat terbaik tentang pemilihan presiden 2020 adalah dari kata-kata aktivis Islam Amerika Ghazala Salam yang mengatakan: Sudah waktunya bagi pemilih Muslim Amerika untuk menggunakan alat demokrasi tidak hanya di kotak suara, tetapi di media, publik dan masyarakat. Gunakan jejaring sosial untuk memastikan bahwa suara mereka didengar dan diperhatikan. Suatu hal yang tampaknya Donald Trump belum menjadikan dalam prioritasnya.

 

http://iqna.ir/fa/news/3843470

 

 

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\