IQNA

7:14 - February 03, 2020
Berita ID: 3473901
AFGANISTAN (IQNA) - Sejumlah penelitian yang dilakukan di kalangan para pelajar dan akademisi Afganistan menunjukkan bahwa masalah utama dalam masyarakat saat ini adalah pertumbuhan ekstremisme agama.

Menurut laporan IQNA, Radikalisme agama telah muncul dalam perjalanan dua abad setelah munculnya modernitas di dunia Muslim. Secara prinsip, para pengikut ide ini menyerukan tindakan keras, radikal dan ekstrem yang mereka yakini dengan menggunakan doktrin ini akan memperbaiki komunitas.

Harus dikatakan bahwa ekstremisme agama berasal dari cara dan perilaku radikal yang berdasarkan kepercayaan yang keliru terhadap agama. Para pengikut doktrin ini memberi diri mereka hak untuk melakukan kekerasan dalam rangka menjalankan fondasi dan doktrin-doktrin keagamaan mereka.

Ekstremisme Agama; Dilema Masyarakat Afganistan Saat Ini

Orang-orang yang percaya pada radikalisme agama mencoba menggulingkan pemerintah dan merebut kekuasaan. Dalam hal ini, mereka mencoba memaparkan kepada orang lain apa yang mereka pahami tentang Islam.

Radikalisme

Ramin Kamangar, seorang peneliti Afganistan yang telah melakukan penelitian tentang masalah ini, mengatakan bahwa apa yang diajarkan dalam bentuk pembahasan pelajaran sistem politik Islam di universitas telah membuat siswa menjadi ekstrimis.

Dia percaya bahwa materi yang diajarkan dalam bentuk pelajaran-pelajaran agama di universitas di negara ini memiliki pendekatan ekstremis dan ini menyebabkan mahasiswa menjadi radikal dan ekstremis.

Menurut peneliti, apa yang diajarkan sebagai ilmu-ilmu Islam di universitas-universitas Afganistan adalah hasil dari persetujuan yang disetujui oleh Komisi Departemen Pendidikan Tinggi pada 9 Maret 2007.

Kamangar mengatakan; orang khawatir tentang hal ini dikarenakan masyarakat mengalami banyak problem dan masalah akibat pendekatan semacam itu dan menghentikan pembangunan dan perkembangan. Sistem pendidikan seperti itu akan mendidik kaum radikal, yang merupakan salah satu masalah yang dihadapi masyarakat Afganistan saat ini.

Ekstremisme Agama; Dilema Masyarakat Afganistan Saat Ini

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa perhatian terhadap perubahan drastis dan cepat, yang bahkan dapat dikaitkan dengan perilaku provokatif dan kekerasan, adalah salah satu ciri khas radikalisme agama. Demikian juga, perfeksionisme dan kecemburuan, serta dari satu sisi menilik diskriminasi budaya, adalah fitur lain dari pemikiran ini.

Kamangar menyatakan: Fitur lain dari ideologi ini adalah menolak atau menghapus orang. Jelaslah bahwa menemukan sifat-sifat etis semacam itu menyebabkan munculnya masalah di masyarakat dan merupakan gejala ketidaknyamanan di antara orang-orang yang hidup berdampingan dan kadang-kadang hal tersebut menyebabkan ketegangan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti, apa yang disajikan kepada para mahasiswa dalam format konten ini membuat mereka memilih pendekatan Taliban atau ISIS. Wawancara dengan delapan profesor di Departemen Ilmu Pengetahuan Islam dan mahasiswa di tiga universitas di Herat, Nangarhar dan Kabul telah menghasilkan beberapa dokumentasi yang mengisyaratkan pada hal ini.

Koeksistensi dengan Para Penganut Agama Lain

Penelitian tentang perlakuan Muslim terhadap agama lain yang tinggal di Afganistan menunjukkan bahwa 79% mahasiswa Universitas Herat, 60% mahasiswa Universitas Kabul, dan 72% mahasiswa Universitas Nangarhar tidak memiliki jawaban untuk hal ini.

Ekstremisme Agama; Dilema Masyarakat Afganistan Saat Ini

Tentang hal ini, antara 2 - 8% mahasiswa universitas tersebut mengatakan bahwa mereka harus mengenakan pajak kepada pengikut agama lain. Demikian juga, 4% mahasiswa Herat, 6% mahasiswa Kabul dan 15% mahasiswa Nangarhar percaya bahwa jika agama lain menolak untuk menerima Islam, mereka harus dihilangkan secara fisik, dimana pandangan semacam ini adalah pandangan yang berbahaya.

Di Nangarhar, 10%, Kabul 18% dan Herat 16% mahasiswa juga percaya mengajak pengikut agama lain kepada Islam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8-16% mahasiswa di tiga kota Nangarhar, Herat dan Kabul sangat setuju untuk hidup berdampingan dengan agama lain. Dalam hal ini, 32, 42 dan 55% dari mahasiswa di Nangarhar, Herat dan Kabul, masing-masing setuju dan 13-32% juga tidak memiliki pandangan dalam hal ini. Dalam hal ini, 7-13% mahasiswa menentang koeksistensi dengan agama lain.

Ekstremisme dalam Masyarakat

Pelajaran yang diajarkan di universitas dalam format ini selama delapan semester membawa perubahan mendasar dan cepat pada individu, sampai-sampai hanya satu karakteristik yang tidak menerima individu selain diri mereka sendiri yang menyebabkan ekstremisme dalam masyarakat.

Sebagai contoh lain, salah satu konsep yang dipaparkan dalam kursus ini di universitas Kabul adalah mengupas demokrasi dan Islam; gagasan seperti itu memandang demokrasi sebagai jahiliyyah (ketidaktahuan) dan pengikut gagasan ini percaya bahwa masyarakat yang membahas Demokrasi, maka telah memperhatikan masalah jahiliyyah, yang hal ini juga memiliki konsekuensi dan masalah tersendiri.

Ekstremisme Agama; Dilema Masyarakat Afganistan Saat Ini

Mayoritas mahasiswa Afganistan percaya bahwa Islam adalah agama yang paling lengkap dan orang harus mengikutinya. 14% mahasiswa universitas Herat, Nangarhar dan Kabul percaya bahwa sistem saat ini di Afganistan tidak Islami. Dalam hal ini, setengah dari mahasiswa percaya bahwa sistem ini nampaknya didasarkan pada pendekatan Islam.

 

https://iqna.ir/fa/news/3871153

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\