IQNA

Al Jazeera:
5:10 - February 16, 2020
Berita ID: 3473939
IRAN (IQNA) - Rezim Zionis, dengan dukungan keuangan dari pembuat serial televisi Amerika, menggunakan alat media visual untuk melawan perlawanan Islam di Palestina.

Menurut laporan IQNA dilansir dari Al Jazeera, contoh terbaru dari perang propaganda lunak Israel melawan identitas nasional Palestina sedang dilakukan melalui pembuatan program-program televisi di berbagai perusahaan layanan media seperti Netflix dan HBO.

Kendati penggambaran rasisme terhadap orang Arab dan pujian terhadap Israel dalam industri film dan televisi bukanlah hal baru, namun kami baru-baru ini menyaksikan peningkatan program-program yang mendukung dinas rahasia Israel sementara pada saat yang sama menampilkan Palestina sebagai sebuah ancaman terhadap keamanan global dan berupaya melenyapkan sejarah mereka.

Contoh yang paling menonjol dari ini adalah serial Netflix buatan Israel "Fauda" (Chaos), yang memiliki peringkat pemirsa di seluruh dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serial ini tentang sekelompok pasukan khusus Zionis rahasia yang disebut " Mista'arvim/ mista'aravim" yang menyusup di kota-kota, desa, dan protes Palestina. Mereka khususnya dikenal karena pengaruhnya dalam protes dengan baju pemuda Palestina dan penculikan para demonstran. Fauda telah dikecam keras karena menunjukkan citra tidak manusiawi Palestina dan menghilangkan secara utuh citra pendudukan militer Israel serta tidak menunjukkan infrastruktur yang besar dan terlihat yang dibangun untuk pengepungan ketat warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Serial televisi lainnya butan perusahaan HBO bernama Our Boys, menampilkan peristiwa terkait kematian tiga pemuda pemukim Israel dan setelah itu pembunuhan seorang bocah Palestina, Mohammed Abu Khedir. Banyak yang memuji pertunjukan itu karena mengkritik Israel, terutama setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakannya "anti-Semit." Kendati demikian, serial ini tidak hanya mengkonfirmasi versi Israel dari insiden tersebut, tetapi juga menunjukkan intelijen Israel dan pembela keamanan internal rezim Israel Shabak/GSS) sebagi pembela hukum. Program serupa oleh Netflix, seperti The Spy, juga menggambarkan dinas rahasia rezim Israel sebagai kekuatan yang baik dalam memerangi kejahatan, yang mencakup negara-negara Arab tetangga wilayah pendudukan.

Yang terbaru dari daftar serial televisi yang dibuat untuk mendukung Israel dalam perang propaganda melawan Palestina adalah serial Messiah buatan Netflix. Dalam serial ini, seseorang dengan karakteristik seperti al-Masih dari Timur Tengah menyebabkan kekhawatiran CIA dan Shabak. Dalam episode pertama, ia mengarahkan sekelompok pengungsi Palestina dan Suriah ke perbatasan Suriah utara dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Seorang reporter imajiner CNN melaporkan bahwa mereka, sebagai pengungsi Palestina, sebagai warga negara yang sah mengklaim memiliki hak untuk memasuki Tepi Barat. Kendati demikian, para pengungsi Palestina di Suriah berasal dari wilayah bersejarah Palestina yang sekarang dikenal sebagai Israel, dan mereka tidak ingin menjadi warga Tepi Barat. Sebaliknya, mereka menuntut hak mereka untuk kembali ke desa-desa dan kota-kota tempat mereka mengungsi pada tahun 1948 (hak yang tidak dapat dicabut dan dinyatakan dalam hukum internasional).

Ini adalah penolakan halus dan terus menerus terhadap hak-hak Palestina yang telah menyusup ke norma-norma yang diterima sistem kekuatan dunia. Ini lebih sering ditampilkan dimana serial ini berulang kali menyebut Quds sebagai ibu kota Israel, sementara hukum internasional dan konsensus internasional mengakui kedaulatan Palestina atas kota tersebut.

Program besar ini, yang berfokus pada Israel dan upaya menggambarkannya sebagai kekuatan yang baik, merupakan upaya nyata untuk menang dalam perang mendapatkan legitimasi saat ini. Meskipun ini mungkin merupakan bagian kecil dari perang yang tidak penting, namun keefektifan program televisi semacam itu tidak dapat diremehkan. Narasi dari program-program ini secara bertahap membentuk pandangan global tentang Israel dan Palestina dan segera menjadi bagian dari norma atau fakta hegemonik.

Sejatinya, di dunia sekarang ini, media seperti Netflix dan program televisi favorit mereka adalah sumber utama untuk mendapatkan informasi bagi banyak orang, dan walaupun tidak sesederhana bioskop klasik dan produksi televisi, namun program-program lunak dan menyeramkan ini tidak kalah rasisnya dan bahkan mungkin secara tidak sadar lebih berbahaya.

 

https://iqna.ir/fa/news/3878445

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\