
Menurut Iqna mengutip Sada el-Balad, madrasah tersebut diresmikan di hadapan Nahla Al-Saidi, penasihat Syekh Al-Azhar untuk mahasiswa asing dan kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Asing dan Non-Arab di Al-Azhar, di bekas gedung Madrasah Al-Shabini, yang telah diubah menjadi pusat pengajaran bahasa Arab untuk penutur bahasa non-Arab,.
Cabang ini dibuka sebagai respons terhadap peningkatan jumlah siswa yang terdaftar di Madrasah dan sebagai respons terhadap keinginan mereka untuk bergabung dalam lingkaran hafalan dan qiraat Alquran.
Dr. Nahla Al-Saidi: “Madrasah Imam Tayyib adalah salah satu proyek Al-Azhar yang mempelopori bidang hafalan Alquran, penyebaran ilmu dan ajaran Alquran di kalangan para mahasiswa asing, dan memainkan peran penting dalam memperkuat moderasi Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan, moral, dan perilaku para mahasiswa”.
“Madrasah ini tidak hanya didedikasikan untuk menghafal Alquran; Madrasah ini juga berupaya menguasakan kaidah-kaidah tilawah, merenungkan makna-makna Alquran, dan mengenal ilmu-ilmu Alquran. Madrasah ini mengajarkan kepada para mahasiswa asing berbagai keterampilan dalam mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmunya, serta mempersiapkan mereka untuk menyampaikan pesan global Al-Azhar tentang moderasi ke negara mereka sendiri sehingga mereka dapat menjadi duta moderasi dan kesederhanaan,” imbuhnnya.
Al-Saidi menyatakan: Perluasan cabang-cabang Mazhab Alquran Imam Al-Tayyib berlangsung sejalan dengan bimbingan Ahmad Al-Tayyib, Syekh Al-Azhar, dan penekanannya pada pentingnya mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada para mahasiswa, menghubungkannya dengan Alquran, dan menumbuhkan kepribadian yang kuat yang mampu menghadapi pikiran-pikiran yang salah dan merusak. (HRY)