Menurut Iqna mengutip Masrawy, dengan wajah tenang dan suara yang menunjukkan pengaruh puluhan tahun keakrabannya dengan Alquran, ia berdiri di panggung program Dawlat Al-Tilawah pada usia 87 tahun untuk menekankan bahwa menghafal dan mengajarkan Alquran tidak mengenal batasan usia dan bahwa orang-orang yang berpegang pada Alquran akan tetap menjadi sumber teladan dan inspirasi.
Syekh Awad Al-Faradi, dari Abu Homs di Provinsi Bahira, Mesir, menerima penghargaan khusus dari juri selama partisipasinya dalam program tersebut, dan diberi waktu tambahan, memuji penguasaannya terhadap kaidah-kaidah tilawah dan penampilannya yang terampil.
Mereka juga mendorong para peserta untuk mengambil manfaat dari pengalaman qari Mesir tersebut dalam tilawah Alquran, yang mencerminkan kedudukan ilmiahnya dan sejarah panjangnya dalam mengabdi kepada Kitab Allah.
Perjalanan Qurani Syekh Awad tidaklah mudah. Ia tumbuh sebagai yatim piatu dan kondisi hidupnya memaksanya bekerja di bidang pertanian sejak usia muda, yang menunda hafalannya terhadap Alquran. Namun, selama bertahun-tahun, ia membuat keputusan yang mengubah hidupnya. Ia menjadikan Alquran sebagai jalan dan cara hidupnya, serta mendedikasikan dirinya untuk menghafal, membaca, dan merenungkan ayat-ayat suci tersebut.
Pria tua Mesir ini tidak puas hanya dengan menguasai qiraat Alquran; ia juga mempelajari ilmu-ilmu Alquran, kaidah-kaidah Tajwid, dan berbagai cara qiraat Alquran. Ia mencurahkan sekitar enam jam sehari untuk mengulang dan membaca Alquran hingga ia menjadi salah satu guru Alquran terkemuka di Abu Homs.
Syekh Awad membuka madrasah tahfiz Quran untuk anak-anak di lingkungannya dengan biaya yang kecil dan menjabat sebagai imam jamaah di Masjid Tahrir di Abu Homs.
Selama bertahun-tahun, ia berhasil meluluskan generasi penghafal Alquran dan mengajari banyak orang lain untuk membaca dan menulis.
Qari asal Mesir itu menjadi terkenal karena suaranya yang merdu dan penguasaannya terhadap kaidah-kaidah tilawah.
Ia mengatakan bahwa partisipasinya dalam program televisi Dawlat Al Tilawah terjadi setelah dorongan dari muridnya, Syekh Ahmed Amer, yang memberitahunya bahwa pendaftaran untuk berpartisipasi dalam program tersebut telah dibuka.
Syekh Awad menjelaskan bahwa almarhum qari Syekh Mustafa Ismail adalah panutannya di dunia pembacaan Alquran karena gaya unik dan mazhab Alqurannya yang telah memengaruhi berbagai generasi qari.
Patut dicatat bahwa musim kedua program Dawlat Al Tilawa yang dimulai di Mesir beberapa waktu lalu, terus menemukan dan membina qari-qari berbakat dari berbagai provinsi di Mesir. (HRY)