IQNA - Model pendidikan pesantren dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjawab persoalan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja, mulai dari lemahnya etos kerja, kemampuan berkolaborasi, hingga kepemimpinan.
Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian di negara maju seperti Amerika Serikat.
"Tidak saja di Indonesia, di Amerika pun ada keluhan. Generasi sekarang ini, generasi yang tidak siap mental untuk bekerja. Tidak bisa berkolaborasi. Tidak mempunyai etos kerja. Tidak mempunyai leadership. Tidak mempunyai service orientation," kata Hamid dalam rilisnya, Rabu (19/8/2026).
Menurut Hamid, persoalan tersebut salah satunya berkaitan dengan sistem pendidikan yang belum mengembangkan seluruh aspek manusia secara menyeluruh, mulai dari potensi, keterampilan, cara berpikir, hingga kemampuan yang menjadi bekal kehidupan.
Ia menilai konsep pendidikan yang menyentuh berbagai aspek tersebut justru telah lama diterapkan di lingkungan pesantren.
Sebab, pendidikan santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kehidupan santri selama 24 jam di pesantren juga menjadi bagian dari proses pendidikan, termasuk dalam pembentukan mental, moral, soft skill, etos kerja, dan kepemimpinan.
"Karena santri hidup 24 jam, dan di situ dibentuk mentalnya, moralnya, soft skill-nya, leadership-nya, dan segala macam kemampuan," ujar Hamid.
Menurut dia, sistem tersebut merupakan bentuk pendidikan holistik atau holistic education yang selama ini banyak dibicarakan di dunia pendidikan global.
Hamid bahkan menilai model pendidikan holistik yang diterapkan pesantren modern dapat ditawarkan sebagai alternatif sistem pendidikan kepada masyarakat internasional.
"Holistic education yang ada di dalam pondok pesantren modern ini merupakan alternatif pendidikan yang bisa ditawarkan secara global ke seluruh dunia," kata dia.
Dibawa ke Forum Internasional GIHES 2026
Gagasan mengenai pendidikan holistik pesantren tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang digelar di Jakarta pada 5-6 September 2026.
Forum internasional yang diselenggarakan Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan satu abad Gontor.
GIHES dirancang menjadi ruang pertemuan lembaga pendidikan untuk membahas dan berbagi praktik mengenai pendidikan Islam holistik.
Hamid mengundang pimpinan pondok pesantren modern, Islamic boarding school, serta lembaga pendidikan dari Malaysia, Thailand, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk berpartisipasi.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi praktik pendidikan holistik yang telah diterapkan berbagai lembaga pendidikan Islam di sejumlah negara.
Ajak Pesantren dan Akademisi Terlibat
Ketua Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) KH Zulkifli Muhadli mengatakan, GIHES tidak hanya ditujukan kepada pengelola pesantren.
Pakar pendidikan Islam, rektor, dosen, dan pemerhati pendidikan juga diajak terlibat dalam forum tersebut untuk membicarakan masa depan pendidikan Islam.
"Saya mengajak seluruh pesantren ataupun lembaga pendidikan Islam untuk ikut hadir dan berpartisipasi dalam acara GIHES. Kita perbaiki pendidikan anak didik kita secara bersama," ujar Zulkifli.
Menurut dia, keterlibatan berbagai lembaga dan akademisi diharapkan dapat melahirkan gagasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan generasi mendatang.
"Kita berharap dengan keikutsertaan kita dalam GIHES, menjadi berkah bagi kita sebagai pendidik generasi masa depan bangsa," kata Zulkifli.
Sumber: cahaya.kompas.com