IQNA

Kebutuhan Utama Manusia pada Ajaran Rasul

10:24 - July 22, 2009
Berita ID: 1804656
Imam Ali Khamenei: Kebutuhan utama manusia dan masyarakat Islam hari ini adalah menjunjung tinggi akal, menjadikan nilai-nilai akhlak sebagai yang koridor kehidupan dan penegakan hukum yang semua itu merupakan misi utama diutusnya Nabi terakhir Muhammad saw.
Iqna merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Spiritual Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei pada tanggal 27 Rajab menyampaikan hal itu dalam acara peringatan hari Mab'ats (Kenabian Rasulullah SAW) yang dihadiri oleh para pejabat tinggi Negara Republik Islam Iran dan berbagai kalangan masyarakat di huseiniyah Imam Khomeini Tehran. Imam Khamenei juga menyebutkan, bahwa pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai moment sejarah umat manusia yang sangat penting. Beliau mengatakan, "Hari ini kebutuhan paling asasi yang ada pada masyarakat Islam adalah pengamalan pesan kenabian dan menyesuaikan segala sesuatu dengan tolok ukur akal dan logika, pengukuhan nilai-nilai suci kemuliaan, serta penegakan prinsip taat hukum di tengah masyarakat. Dalam hal ini para elit masyarakat memikul tanggung jawab yang sangat besar." Seraya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari Mab'ats kepada umat Islam dan rakyat Iran pada khususnya, Ayatollah Al-Udzma Khamenei menekankan soal penempaan akal dan menjelaskan bahwa salah satu pesan penting kenabian Rasul SAW adalah imbauan kepada logika dan perenungan. Beliau menambahkan, "Langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah mengakarkan budaya berlogika di tengah masyarakat. Sebab melatih kemampuan berpikir dan kekuatan logika di tengah masyarakat adalah kunci penyelesaian semua masalah, pengekang hawa nafsu dan pembuka jalan bagi penghambaan manusia [kepada Tuhan]." Beliau menyebut pendidikan moral dan akhlak sebagai pesan kedua kenabian. "Sosialisasi nilai-nilai kemuliaan ibarat hawa sejuk yang membuat kehidupan menjadi sehat serta mencegah manusia dari kerakusan, kebodohan, ambisi duniawi, rasa benci yang subyektif, dan buruk sangka terhadap sesama. Karena itulah, Islam memandang penyucian jiwa dan penempaan akhlak lebih prioritas dibanding pengajaran," imbuh beliau. Pesan ketiga kenabian, kata Rahbar, adalah pendidikan dan prinsip ketaatan kepada hukum dan aturan. Menyinggung keberhasilan yang dicapai Nabi SAW dalam menjalankan hukum dan ajaran Islam, beliau mengatakan, "Semua itu harus dijadikan panutan dan kriteria bagi masyarakat Islam, dan kehidupan ini adalah medan ujian bagi umat manusia." Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut kehormatan bangsa Iran saat ini didapat berkat keberhasilan melewati ujian berat selama 30 tahun sejak kemenangan revolusi Islam. Beliau menekankan, "Allah Swt telah membalas dengan menganugerahkan prestasi besar kepada bangsa Iran, dan kini seluruh rakyat Iran dengan kerja kerasnya sedang melangkah menuju cita-cita luhur Islam. Kegigihan ini menghasilkan rasa bangga akan identitas bangsa pada diri rakyat Iran." Beliau menambahkan, "Kebesaran dan keagungan bangsa, negara dan pemerintah Iran dapat disimpulkan dari pernyataan kaum arogan dunia yang mengangkat slogan permusuhan dengan Republik Islam Iran dan bahwa pemerintahan Islam di Iran adalah ganjalan bagi terwujudnya ambisi mereka khususnya di kawasan Timur Tengah." Keberhasilan ini, menurut beliau, dicapai karena bangsa Iran berjalan sesuai dengan perintah agama. Beliau mengingatkan kembali peran kalangan elit dan tokoh masyarakat serta para pejabat negara yang menjadi panutan umum. "Dalam 30 tahun ini bangsa Iran menunjukkan diri sebagai bangsa yang loyal dan pemaaf. Rentetan peristiwa baru-baru ini yang terjadi pasca pelaksanaan pemilu kembali memperlihatkan ciri khas tersebut." Rahbar menandaskan, "Di tengah bangsa Iran terdapat pemikiran yang beragam dalam kehidupan sosial, dan masing-masing menampakkan pandangannya. Namun ketika merasa bahwa masalah yang sedang terjadi adalah permusuhan melawan pemerintahan Islam dan ada tangan di balik layar yang mengendalikan gerakan untuk melawan pemerintahan Islam, rakyat akan segera memisahkan diri dari gerakan itu meski mendengar slogan yang sama dengan yang mereka suarakan." Rangkaian peristiwa yang baru-baru ini terjadi beliau sebut sebagai pelajaran yang penting dan berharga bagi rakyat Iran dan semakin menambah kekayaan pengalaman bangsa ini. Beliau mengatakan, "Peristiwa ini adalah pengalaman dan pelajaran bagi kita bahwa kita jangan sampai lengah terhadap tipudaya musuh walaupun berhubungan dengan fenomena besar di hadapan kita yang bergulir dengan tenang dan stabil." Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengingatkan, "Semua orang mengakui bahwa pemilu terakhir yang diikuti oleh 40 juta warga ini adalah fenomena yang fantastis sejak kemenangan revolusi Islam dan ini adalah bukti kemampuan negara dalam memobilisasi kekuatan rakyat meski revolusi sudah berjalan 30 tahun. Namun dalam kondisi seperti ini jangan sampai kita lalai akan konspirasi musuh yang bertujuan memukul bangsa ini." Menyinggung ungkapan musuh asing yang mengaku tidak intervensi dalam urusan Iran, beliau menambahkan, "Intervensi musuh khususnya peran yang dimainkan oleh media massa mereka nampak jelas. Akan tetapi mereka tanpa malu mengingkari adanya campur tangan itu." Pemimpin Besar Revolusi Islam mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir beliau kerap kali mengingatkan akan agenda media propaganda dan informasi kubu arogansi dunia untuk menggembosi kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia dan mencegah gerak langkah mereka dalam meraih kebebasan dan martabat yang semestinya. Rahbar mengatakan, "Musuh-musuh bangsa Iran memanfaatkan media-medianya untuk secara terbuka mengajarkan cara-cara menciptakan huru hara, pengerusakan, dan bentrokan kepada kelompok perusuh yang sebenarnya lalai dan bodoh. Tapi di sisi lain mereka mengaku tidak campur tangan dalam urusan internal Iran, padahal mereka melakukan intervensi dalam bentuk yang paling nyata." Seraya menekankan kembali untuk memisahkan antara rakyat dan para perusuh, beliau menegaskan, "Memang, untuk membela para perusuh, media-media asing menyebut para pelaku huru hara sebagai warga Iran. Padahal, rakyat adalah jutaan orang yang langsung memisahkan diri dari kelompok perusuh ketika menyaksikan aksi huru hara terjadi. Rakyat mengecam aksi-aksi anarkis ini." Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan, "Siapa saja dalam jubah apapun dan di posisi apapun jika ingin membawa masyarakat ke arah ketidakamanan, maka ia akan dikecam dan dibenci oleh umumnya rakyat Iran." Kepada para elit bangsa dan tokoh masyarakat beliau berpesan, "Para elit dan tokoh masyarakat harus waspada. Setiap kata, analisa dan tindakan jika mengancam keamanan sosial berarti bertentangan dengan jejak langkah bangsa Iran." Semua orang harus mawas diri dan mewaspadai kata-kata, sikap bahkan kebungkamannya. "Sebab, terkadang sikap bungkam di saat orang harus berbicara sama dengan meninggalkan kewajiban. Sementara mengungkapkan sesuatu yang tidak seharusnya diungkap sama dengan melakukan hal yang bertentangan dengan kewajiban," jelas beliau. Rahbar menandaskan, "Kalangan elit harus bersikap hati-hati, karena mereka menjalani ujian yang besar. Kegagalan dalam menjalani ujian ini bukan hanya kegagalan tetapi juga akan membuat mereka jatuh tersungkur." Jalan keluar satu-satunya, menurut beliau, adalah menjadikan akal sebagai tolok ukur. "Tentunya, yang dimaksudkan dengan akal bukan berpolitik ria seperti yang difahami secara umum. Sebab, permainan politik justeru tertolak belakang dengan akal. Salah, jika ada orang yang menganggap bermain politik sama dengan berlogika," sergah beliau. Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Jalan logika yang benar adalah jalan yang membuka pintu bagi penghambaan kepada Allah dan kriterianya adalah kita sendiri yang harus menghakimi, ‘apakah pernyataan dan tindakan kita dimaksudkan untuk mendapat ridha Allah dan dengan niat ikhlas, ataukah justeru untuk menarik perhatian orang'. Karena itu, jangan sampai kita menipu diri sendiri." Ayatollah Al-Udzma Khamenei lebih lanjut mengimbau untuk memahami pesan-pesan kenabian secara mendalam dan lebih dari sekedar menggelar pesta mengenang peristiwa besar ini. Beliau menjelaskan, "Mab'ats adalah penggalan sejarah yang sangat penting bagi umat manusia. Sebab tak ada satu gerakan pun yang dapat dibandingkan dengan gerakan besar Nabi Muhammad SAW dalam sepuluh tahun pemerintahan beliau dan perubahan besar yang beliau ciptakan dalam sejarah umat manusia." Pada awal pertemuan Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam kata sambutannya mengucapkan selamat atas tibanya hari Mab'ats Rasul SAW. Seraya menyinggung peristiwa tersebut dan perannya dalam menyelamatkan umat manusia dari gulita kebodohan dan kezaliman serta membimbing manusia ke arah cahaya petunjuk, Ahmadinejad mengatakan, "Nabi SAW selalu menjadi orang yang terdepan dalam mengamalkan ajaran Islam. Umat manusia saat ini dililit berbagai masalah karena telah menjauh dari jalan Nabi SAW." Tentang kesabaran, resistensi dan kegigihan bangsa Iran dalam 30 tahun terakhir, Presiden menegaskan, masyarakat Muslim di Iran bangga karena mengikuti jejak Nabi SAW yang bersinar terang, dan dengan meniru langkah Nabi, bangsa ini tak akan pernah mengizinkan musuh kemanusiaan melecehkan hak-hak umat manusia. Ahmadinejad menyinggung penyelenggaraan pemilihan umum presiden tanggal 12 Juni lalu dan mengatakan, "Pelaksanaan pemilu yang paling bebas, paling meriah tanpa ada tandingannya, serta kebutalan tekad bangsa Iran untuk memilih jalan revolusi Islam yang penuh kebanggaan telah memberikan harapan besar akan masa depan cerah bagi bangsa Iran dan bagi umat manusia." 436588
captcha