IQNA

Masyarakat Dunia Haus pada Al Quran

8:22 - July 31, 2009
Berita ID: 1807695
Imam Ali Khamenei: pengamalan ajaran Al-Qur'an sebagai kunci kemuliaan, kemajuan, ‎keagungan dan ‎persatuan umat Islam
Iqna merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, bahwa beliau ‎‎dalam acara pertemuan dengan para peserta lomba Al-Qur'an Al-Karim tingkat internasional ‎ke-‎‎26 menyebut hal itu dan menekankan keharusan untuk menjaga ‎persatuan di negara ini. Beliau mengatakan, "Rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ‎beberapa hari terakhir jangan ‎sampai menjadi pemicu perselisihan dan perpecahan. Semua ‎pihak harus menjalin kerjasama ‎dalam suasana persaudaraan dan bersama-sama melangkah ‎untuk memajukan negara."‎ Di awal pertemuan, Abul Qasim guru Al-Qur'an dan juri tingkat internasional, Huseini juara ‎‎pertama kategori qiraah, Zuweidat pemenang pertama kategori hifdzul Qur'an, dan Ustadz ‎Abdul ‎Fattah Tharuti juri internasional pada lomba musabaqah Qur'an tingkat internasional ‎ke-26 di ‎Tehran berkesempatan membacakan ayat-ayat suci ilahi. ‎ Rahbar dalam pembicaraannya menyatakan bahwa tujuan penyelenggaraan pertemuan dan ‎‎perlombaan Qur'ani seperti ini adalah untuk membuat kita dekat dengan Al-Qur'an. Beliau ‎‎mengingatkan bahwa faedah yang didapatkan dari Al-Qur'an jangan sampai terbatas pada ‎hadir di ‎majlis Al-Qur'an dan mendengar atau menyimak kalam Ilahi, tetapi bacaan ayat-ayat ‎suci itu ‎harus bisa menyentuh lubuk hati kita. Beliau menambahkan, "Al-Qur'an turun untuk ‎diamalkan, ‎dipahamai dan direnungkan. Seberapa besar pengamalan ajaran Al-Qur'an ‎sebesar itu pulalah ‎kesan yang dihasilkan oleh Al-Qur'an."‎ Ayatollah Al-Udzma Khamenei menegaskan bahwa janji pertolongan Allah kepada kaum ‎mukmin ‎adalah janji yang pasti terpenuhi. "Jika telah mengamalkan syarat-syarat bagi ‎terwujudnya janji ‎ilahi dan menjalankan perintah Al-Qur'an, dalam kehidupan ini kita pasti ‎akan menyaksikan ‎terlaksananya janji Allah," jelas Rahbar. ‎ Beliau juga mengatakan, "Hari ini Dunia Islam merasakan dahaga akan pengamalan ajaran Al-‎Qur'an. ‎Al-Qur'an harus menjadi tolok ukur dan poros bagi makrifat dan tindakan kita."‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung upaya musuh-musuh Islam dan Al-Qur'an ‎dalam ‎menyerang persatuan Islam dan menciptakan sikap saling curiga di tengah umat ‎Muslim. Beliau ‎menandaskan, "Dengan berbagai cara dan tipu daya, musuh mengesankan diri ‎tidak memiliki ‎permusuhan dengan Al-Qur'an. Tetapi di saat yang sama mereka menentang ‎poros dan ‎bimbingan ajaran Al-Qur'an, yang salah satunya adalah pesan persatuan."‎ Persatuan, tegas Rahbar, adalah hal yang urgen bagi bangsa Iran. "Makna persatuan dan ‎‎berpegang teguh pada tali Allah adalah mengikat hati semaksimal mungkin dalam masalah ‎prinsip. ‎Perbedaan pandangan terkait hal-hal yang bersifat parsial tidak akan menghalangi ‎persatuan," ‎kata beliau.‎ Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengimbau semua pihak untuk berhati-hati dalam ‎‎mengucapkan kata-kata dan menghindari segala hal yang dapat menyulut perselisihan. Beliau ‎‎menambahkan, "Menghalau orang lain hanya karena isu-isu sekunder tentu tidak akan ‎‎mendatangkan manfaat. Semua pihak harus bekerjasama dalam suasana persaudaraan untuk ‎‎bersama-sama membangun negara."‎ Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar mengangkat soal peristiwa yang terjadi dalam ‎beberapa ‎hari terakhir, seraya mengatakan, "Masalah ini jangan sampai menimbulkan ‎perselisihan. Selain ‎itu, jangan ada yang sembarangan melontar tudingan kepada orang lain ‎atau menafikan seluruh ‎kelayakannya hanya karena satu masalah."‎ Lebih lanjut beliau menyeru untuk mengedepankan prinsip obyektifitas dan keadilan dalam ‎‎bertindak dan bertutur kata. Seraya menyebutkan firman suci Ilahi dalam Al-Qur'an yang ‎‎memerintahkan agar bersikap obyektif dan adil bahkan dalam memperlakukan musuh, ‎Ayatollah ‎Al-Udzma Khamenei mengatakan, "Di Republik Islam Iran, mereka yang ‎mengumumkan loyalitas ‎kepada prinsip, dapat hidup berdampingan meski berbeda ‎pandangan."‎ Menurut beliau, perbedaan pandangan adalah hal wajar yang ada pada setiap periode. "Jika ‎‎tercemar oleh hawa nafsu, perbedaan pandangan ini akan menjadi buruk. Karena itu harus ‎‎diperhatikan kapan perbedaan pandangan itu tercampur dengan hawa nafsu dan kapan ‎muncul ‎karena rasa tanggung jawab akan kewajiban," kata beliau mengimbau.‎ Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai ketelitian dalam mengamalkan kewajiban dan ‎menjaga ‎taqwa Ilahi, yakni mawas diri dalam melaksanakan kewajiban agama, sebagai hal ‎yang dapat ‎mendatangkan kemurahan dan anugerah Allah. Beliau mengatakan, ‎‎"Alhamdulillah, selama ini ‎Allah selalu memberikan kemurahan dan pertolonganNya kepada ‎bangsa Iran."‎ Pada kesempatan itu, Hojjatul Islam wal Muslimin Moslehi, wakil Wali Faqih dan Kepala ‎Badan ‎Wakaf dan Amal dalam laporan singkatnya mengenai kegiatan Qur'ani mengatakan, ‎‎"Badan ‎Wakaf dalam kinerja pendidikannya telah mengubah status fakultas Ulumul Qur'an ‎menjadi ‎Universitas Ulum dan Maarif Al-Qur'an Al-Karim."‎ Dijelaskannya bahwa dalam lomba atau musabaqah Qur'an kali ini pihak panitia ‎penyelenggara ‎telah menerima kiriman 820 makalah ilmiah seputar Al-Qur'an. "Lomba kali ini ‎diikuti oleh 98 ‎peserta dari 55 negara dan kali ini seorang qari muda teladan Iran terpilih ‎sebagai salah satu ‎anggota dewan juri," imbuhnya 438716
captcha