IQNA

19:44 - April 29, 2019
Berita ID: 3473080
IRAN (IQNA) - Para ahli internasional percaya bahwa kebijakan sanksi dan ancaman pemerintah Trump terhadap Iran karena berbagai alasan tidak akan sesuai dengan yang dikehendaki Amerika Serikat dan Amerika Serikat tidak akan dapat membuat produksi minyak Iran menjadi nol.

Menurut laporan IQNA, Analis Washington Post, Jennifer Rubin, percaya bahwa strategi pemerintah Trump pasca keluarnya dia dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) adalah memperlemah ekonomi Iran. Mengakhiri pembebasan impor minyak Iran untuk China, Jepang, India, Korea Selatan dan Turki adalah bagian dari strategi ini, tetapi strategi ini memiliki beberapa masalah serius.

Pertama, tidak jelas bahwa seluruh kelima negara ini mengikuti kebijakan Amerika. Pemerintah trump dengan pencabutan pengecualian, telah mengancam keamanan energi China. Amerika Serikat membutuhkan bantuan dari China untuk mengendalikan pengembangan senjata nuklir Korea Utara.

Aaron David Miller dan Richard Sokolsky, analis urusan internasional, juga yakin Amerika Serikat tidak akan bisa membuat produksi minyak Iran menjadi nol. Dalam pandangan mereka, "Tidak mungkin Arab Saudi dan UEA akan terus mempertahankan penambahan produksi dalam jangka panjang, takut stabilitas di pasar minyak. Di sisi lain, minyak ringan Arab Saudi tidak dapat digantikan oleh minyak berat Iran, yang dibutuhkan banyak negara untuk kilang minyak mereka. Untuk alasan ekonomi dan geopolitik, Turki, China, India, dan mungkin beberapa sekutu Eropa akan menemukan cara untuk berdagang dengan Iran. Iran dapat memangkas produksi minyak dari Teluk Persia. Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz dan dapat melakukan serangan cyber terhadap fasilitas minyak di sisi Teluk Persia."

Selain negara-negara Eropa pihak pengontrak Iran dalam JCPOA, yang mencari mekanisme untuk mempertahankan pertukaran bilateral, beberapa negara lain juga mencari solusi untuk mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran.

Menurut situs www.trtworld.com, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy pada hari Jumat menekankan, pemerintah Turki berusaha untuk membangun mekanisme untuk menjaga tingkat pertukaran antara kedua negara.

Dia mengatakan: “Kami terus percaya bahwa sanksi-sanksi Iran merugikan kerja sama regional dan hubungan perdagangan. Kami telah mengumumkan ke Amerika Serikat bahwa sanksi itu tidak benar dan kami berusaha membujuk Amerika Serikat.”

Trump dan Kebijakan Basi Sanksi/ Apa Kata Para Pakar?

Demikian juga situs CNN, mengutip analis minyak, menulis bahwa kemungkinan membuat produksi minyak Iran menjadi nol sangatlah lemah, karena China telah menolak untuk menghentikan impor minyak dari Iran dan juga memiliki cara untuk menghindari sanksi keuangan AS.

Selain itu, jika tekanan sanksi semakin meningkat, tidak jelas apakah Iran akan kembali ke meja perundingan, atau bahwa Trump akan mencapai kesepakatan yang lebih baik daripada kesepakatan Obama dengan Iran. Selama beberapa dekade, Iran telah berjuang dengan sanksi dan memisahkan Amerika Serikat dari sekutu negosiasinya dan melihat Trump meninggalkan sekutunya di Suriah, tidak ada alasan untuk menyerah dan mengalah dengan Amerika.

Trump dan Kebijakan Basi Sanksi/ Apa Kata Para Pakar?

Seorang analis urusan politik, Suzanne Maloney menulis: “Pandangan lama Trump yang didasarkan pada realita bahwa beckgroundnya dalam sengketa dan tawar-menawar dalam transaksi real estat memungkinkan dia untuk bernegosiasi dengan Iran akan meraup hasil yang lebih baik daripada satu dekade diplomasi dan ancaman para pendahulu Demokrat dan Republiknya, namun apakah Iran akan mengadakan dialog dengan Amerika Serikat atau pejabat lain dalam pemerintahan Trump akan menyambut pendekatan semacam itu adalah hal yang sangat kabur. Trump tampaknya menunggu dilema Iran diselesaikan dengan pergantian rezim, tanpa memiliki rencana yang bijak.”

Miller dan Sokolsky percaya Pompeo dan John Bolton, penasihat keamanan nasional, adalah pahlawan lama pengubah rezim. 12 permintaan yang diminta Pompeo dari Teheran tahun lalu, termasuk permintaan agar Iran menyerah dalam perjanjian nuklir, perubahan sikap regional, hentikan pengujian rudal balistik, dan kinerja-kinerja Iran lainnya yang tidak akan segera dipenuhi. Sementara itu, Iran tidak akan terburu-buru untuk bernegosiasi, Iran lebih memilih untuk menunggu, berharap bahwa Trump akan menjadi presiden satu periode dan pemerintah berikutnya akan kembali ke perjanjian nuklir.

Trump dan Kebijakan Basi Sanksi/ Apa Kata Para Pakar?

Asumsi lama dan keliru, berdasarkan pada keyakinan bahwa Iran hanya bisa diperas oleh tekanan ekonomi, telah menyesatkan presiden kedua belah pihak, terutama Partai Republik. Miller dan Sokolsky percaya bahwa pemerintah Iran masih sah dan kuat menurut pandangan jutaan orang Iran, dan memiliki power yang dahsyat, mendapat dukungan kuat dari China dan Rusia, dan hampir tidak memiliki oposisi yang terorganisir. Aneh bahwa Washington berpikir bisa menyingkirkan pemerintahan seperti itu. Tentu saja, kemungkinan Trump akan hilang sebelum pemerintah Iran pergi.

Analis Washington Post menulis: Jika Amerika benar-benar ingin membawa Iran kembali ke meja perundingan, mereka harus mengambil opsi perundingan dengan serius, yang berarti memberikan poin dan mendapat poin.

 

http://iqnanews.ru/fa/news/3806932

Kunci-kunci: Iran ، Trump ، Kebijakan Basi Sanksi ، Para Pakar
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\