IQNA

Mualaf Jepang:
19:45 - May 21, 2019
Berita ID: 3473133
JEPANG (IQNA) - Atsuko Hoshino, seorang mualaf Jepang, mengatakan tentang kemuslimannya: “14 tahun yang lalu, pada usia 29 tahun, saya menjadi Muslim setelah insiden 11 September.”

Menurut laporan IQNA, Fatimah (Atsuko Hoshino) seorang mualaf Jepang, pada Jumat malam, 17 Mei, adalah tamu khusus di Pameran Alquran Internasional ke-27 di Teheran. Dia berbicara tentang bagaimana kemuslimannya. “14 tahun yang lalu, pada usia 29 tahun, saya menjadi Muslim setelah insiden 11 September. Peristiwa itu mempengaruhi saya, dan saya mulai belajar Islam, yang akhirnya menjadi Muslim,” ucapnya.

Dia menambahkan, setelah insiden 11 September, media mulai menyebarkan anti-Islam, setelah menyelidiki hal ini, saya menyadari bahwa media menyebarkan rumor dan kebohongan. Melalui paman saya yang seorang Kristen, saya sudah mengenal Injil, dan dengan membandingkan Alquran dan Alkitab, saya menyadari bahwa Alquran lebih lengkap.

Tentang respon keluarganya terhadap tendensi Islamnya, Atsuko menambahkan:  “Hampir saja keluarga meninggalkan saya dan mereka sangat menentang dan berusaha mengembalikan saya menjadi penganut Buddha. Salah satu kasus terburuk bagi mereka adalah jilbab yang sangat mereka lawan, tetapi kemudian saya sepakat dengan keluarga saya tentang jilbab, bahwa saya akan memakai topi sebagai ganti dari jilbab.”

Terkait kesulitan jilbab di Jepang, ia mengatakan bahwa menjaga jilbab, dimana Allah telah memberikan kehidupan baru kepada saya adalah hal yang mudah, namun dikarenakan masyarakat tidak memiliki perilaku yang pas dengan saya, maka itu sangatlah sukar.

Terkait hijab pembelenggu kebebasan manusia, ia mengatakan, maksud kebebasan tergantung pada definisinya; jika itu fisik, ketidakberhijaban adalah kebebasan, dan jika itu internal dan spiritual, itu dianggap sebagai kebebasan.

Adapun kenapa dia cenderung memilih Islam ketimbang Kristen, ia mengatakan, “Orang Kristen mengadakan acara Perjamuan Kudus, di mana mereka membagikan roti dan anggur yang mana mereka menganggap roti sebagai lambang tubuh Kristus dan dan anggur sebagai lambang darah, sedangkan saya tidak mempercayainya. Yang hasilnya, saya cenderung ke Islam.”

Pameran Alquran Internasional ke-27 diselenggarakan dengan moto "Alquran; Makna Kehidupan" selama bulan Ramadhan, dari tanggal 11 Mei di Musholla Imam Khomeini (ra) dan berlanjut hingga 25 Mei.

 

http://iqna.ir/fa/news/3812491

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\