IQNA

Situs Web Amerika:
12:04 - April 19, 2020
Berita ID: 3474142
TEHERAN (IQNA) - Kolumnis situs Amerika The Intercept dalam sebuah catatan menegaskan, penyebaran virus corona di dunia telah menyebabkan sebagian melakukan praktik-praktik terburuk terhadap ras dan agama minoritas, terutama Muslim, dengan alasan palsu; perilaku yang tidak mencerminkan logika.

IQNA melaporkan, salah satu minoritas di berbagai negara, termasuk India, yang telah dianiaya adalah minoritas Muslim setelah penyebaran virus corona, dan corona telah menjadi dalih baru untuk penolakan dan diskriminasi terhadap mereka dalam masyarakat multikultural di berbagai negara. Mehdi Hasan, seorang kolumnis situs Amerika The Intercept, membahas masalah ini dalam sebuah catatan.

Jika anti-Semitisme adalah kebencian tertua di dunia, Islamophobia adalah bentuk kebencian paling aneh. Bagaimana bisa menjelaskan ralita ini dimana pandemi virus baru (corona), yang telah menginfeksi orang di hampir setiap negara dan wilayah di muka bumi ini, telah menjadi senjata bagi sayap kanan untuk menyerang Islam dan Muslim? Pertimbangkan India, tempat wabah virus dijuluki "Jihad Corona" oleh para pendukung pemerintah sayap kanan Baharatiya Janata (BJP). Mereka mengklaim bahwa penyakit pandemi ini adalah konspirasi umat Islam untuk mengotori dan meracuni umat Hindu!

Pemerintah India menganggap sekitar sepertiga kasus corona yang dikonfirmasi di negara itu bermula dari pertemuan kelompok Muslim konservatif Jamaah Tabligh dan seorang menteri India di BJP menyebutnya "Sebuah Kejahatan Taliban."

The Guardian melaporkan bahwa bisnis-bisnis Muslim di seluruh India kini telah diboikot dan poster-poster yang melarang pergerakan Muslim di daerah-daerah tertentu di Delhi, Karnataka, Telangana, dan Madhya Pradesh tampaknya telah dibagikan. Bahkan ada laporan serangan, pemukulan dan hukuman mati tanpa pengadilan (persidangan ilegal dan sewenang-wenang) terhadap Muslim India. Apakah anggota kelompok Jamaah Tabligh ceroboh? Ya. Apakah 200 juta Muslim India bertanggung jawab atas perilaku kelompok ini? Tidak.

Tetapi bukan hanya politisi atau preman nasionalis Hindu yang bertanggung jawab atas tindakan ini, tetapi juga outlet media paling dihormati di negara itu telah bergabung dalam gelombang ini; surat kabar Hindu sayap kiri telah menerbitkan kartun yang menunjukkan dunia disandera oleh virus corona dengan menyamar sebagai karakter yang berkaitan dengan Muslim. Surat kabar tersebut kemudian meminta maaf, dengan menyebutnya "sama sekali tidak disengaja" untuk mencetak gambar dan menghubungkan krisis corona dengan Muslim, dan menggantinya dengan gambar netral.

Virus Corona dan Pameran Kebodohan Islamophobia di Dunia

Tentu saja, bukan hanya di India yang hanya tokoh-tokoh sayap kanan, tetapi juga media arus utama menyalahgunakan penyakit ini untuk mengobarkan api sentimen anti-Muslim.  “Semoga covid-19 hilang; penyebaran Islam radikal bahkan lebih mengejutkan,” tweet majalah Amerika the Economist pada 23 Maret 2020, yang mengisyaratkan sebuah laporan tentang Maladewa.

Majalah itu kemudian menghapus tweet tersebut, tetapi laporan itu masih tetap ada. Sementara itu, wartawan terkenal di Inggris dan Prancis berusaha menggunakan Ramadan untuk menyebarkan Islamophobia di Barat, dengan mengklaim bahwa umat Islam melanggar pedoman social distancing dan menyebarkan virus melalui ritual ibadah mereka.

Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Muslim di Inggris atau Prancis menentang arahan intruksi atau sedang berencana untuk membuka kembali masjid. Di Amerika Serikat, sayap kanan memobilisasi dan mencoba mengeksploitasi virus corona untuk menyebarkan kebencian dan kekerasan terhadap Muslim. Pada bulan Maret, Biro Investigasi Federal (FBI) melukai Timothy Wilson, seorang ekstrimis anti-pemerintah yang berencana untuk mengebom sebuah rumah sakit di Kansas. Rumah sakit saat ini sedang menjalani perawatan primer untuk memerangi virus corona. Tentu saja, Wilson juga sudah merencanakan untuk menyerang pusat-pusat Islam.

Kelompok semacam itu (neo-Nazi) dapat meminta bantuan tokoh-tokoh media konservatif yang terkenal. Sementara para fanatik anti-Islam mencoba menggunakan virus corona untuk mengintimidasi dan menggambarkan Muslim sebagai penjahat, pandemi ini telah mengungkapkan kebodohan mereka (fanatik anti-Muslim).

Pemerintah Prancis dan Austria juga menyetujui larangan penggunaan masker wajah pada 2011 dan 2017, sebagai cara untuk menargetkan dan mengkriminalkan pemakaian niqob oleh Muslim (bagian dari hijab wanita Muslim), sedangkan pada 14 April, akademi Asosiasi Medis Nasional Prancis telah memerintahkan penggunaan masker untuk siapa pun yang meninggalkan rumah mereka, dan pemerintah Austria telah membuat masker wajah wajib bagi siapa pun yang memasuki supermarket atau toko makanan.

Contoh lain adalah bahwa pada tahun 2018, pemerintah Denmark bersikeras bahwa warga negara baru harus berjabat tangan pada acara penghargaan, sebuah langkah yang menurut New York Times adalah "ditujukan pada Muslim yang menolak untuk berjabat tangan dengan lawan jenis karena alasan agama". Sekarang, menurut Times, pemerintah Denmark telah meminta walikota untuk menunda bersalaman dalam acara pemberian kewarganegaraan.

Dengan demikian, kita mungkin bisa mengalahkan virus corona dalam beberapa bulan mendatang, tetapi akan butuh waktu lama untuk mengalahkan "penyakit Islamophobia". (hry)

 

3891878

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\