IQNA

Dipublikasikan Bertepatan dengan Haul Ustad Abdul Basit ke-32:
9:42 - December 01, 2020
Berita ID: 3474824
TEHERAN (IQNA) - "Abdul Basit" adalah nama yang akrab dan terkenal bagi setiap Muslim di seluruh dunia. Suaranya yang merdu adalah anugerah surgawi yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya yang saleh dan membuat orang-orang Mesir terus membeli radio, dan siapa pun yang memiliki radio di kota dan desa akan mengeraskannya agar para tetangga dapat memperoleh manfaat juga.

IQNA melaporkan, Ustad Abdul Basit Abdul Samad, duta besar Alquran, qori qiblatain dan pemilik Tenggorokan Emas, lahir pada tahun 1927 di desa Al-Muzaazah di provinsi Qana Mesir dan dalam sebuah keluarga yang semuanya peduli tentang menghafal dan membaca Alquran.

Ayah dan kakeknya memiliki banyak kemampuan dan pengalaman dalam hukum-hukum tajwid dan qiraat Alquran. Oleh karena itu, mensuport Ustad Abdul Basit untuk menimba pelbagai ilmu qiraat Alquran dari Ustad Rafat.

Sejak awal, Ustad Muhammad Rafat memperhatikan kejeniusan dan keterampilan Abdul Basit dan mengatakan kepadanya bahwa sangat sedikit orang seperti dia yang mengeluarkan prinsip-prinsip makharijul huruf, wakf dan ibtida’ dengan benar. Dua saudara laki-laki Abdul Basit lainnya juga merupakan penghafal Alquran, dan Abdul Basit, sebagai anggota terakhir keluarga, mampu menghafal seluruh Alquran pada usia 10 tahun, dan menurutnya, Alquran mengalir seperti aliran yang mengalir di lidahnya.

Usianya 10 tahun ketika Ustad Rifat menyuruhnya belajar ilmu qiraat dari Ustad Salim Hamada. Dia pergi ke Tanta untuk belajar ilmu Alquran dan mengaji dengan Syekh Salim. Usianya tidak lebih dari 12 tahun ketika Abdul Basit diundang untuk menghadiri acara dan peringatan, dan Syekh Salim Hamada selalu menemani Abdul Basit dalam acara tersebut. Suara surgawinya telah memukau banyak ustad.

Ustad Abdul Basit bergabung dengan Radio Alquran Mesir pada tahun 1951 dan menetap di Kairo bersama keluarganya. Setelah Abdul Basit bergabung dengan Radio Quran, banyak orang Mesir yang tertarik membeli radio untuk menikmati suaranya.

Ketenaran Abdul Basit menyebar ke luar perbatasan Mesir sampai-sampai raja Maroko memintanya untuk menjadi qori negara ini dan memberinya kewarganegaraan Maroko, tetapi Abdul Basit menolak permintaannya. Ustad Abdul Basit melakukan perjalanan ke banyak negara Arab dan Islam, termasuk Lebanon, Malaysia, Suriah, Irak, Arab Saudi, Pakistan, dan Indonesia, dan disambut dengan hangat oleh masyarakat dan pejabat negara tersebut.

Presiden Pakistan menyambut dan berjabat tangan dengannya saat dia turun dari pesawat di pintu masuk bandara. Abdul Basit membaca Alquran di banyak masjid di Jakarta, Indonesia, dan menambatkan hati dan jiwa orang-orang di negeri ini dengan Alquran. “Itu membuat saya sangat bahagia karena banyak orang yang masuk Islam setelah mendengar suara saya,” tulisnya dalam sebuah catatan.

Ustad Abdul Basit dalam film The Message, Moustapha al-Akkad mengumandangkan azan dalam peran Bilal Azan. Dia suka bepergian dan bertamasya, tetapi dia etis selama perjalanannya. Abdul Basit menulis dalam memoarnya: “Dalam perjalanan-perjalanan yang saya jalani, hanya ada satu perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan, dan itu adalah perjalanan saya ke Quds al-Syarif pada tahun 1964 dan qiraat di Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam, dan merupakan anugerah Allah untuk berada di sana. Quds Timur diduduki tiga tahun setelah kunjungan ini, dan saya sangat ingin mengunjungi Masjidil Aqsha lagi sepanjang hidup saya.”

Ustad Abdul Basit adalah qori Mesir pertama yang berhasil mentilawah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, dan hal ini terjadi ketika dia dan ayahnya pergi berhaji dan bertemu dengan direktur Radio Jeddah di Mekkah. Dia percaya bahwa para qori Alquran harus terdidik dan akrab dengan musik Alquran, dan bahwa dia harus tahu dari otoritas-otoritas musik dimana para qori kurang memiliki pengetahuan tentang subjek ini.

Akhirnya, diabetesnya memburuk, dan dengan tambahan hepatitis, dia tidak bisa lagi menahan kedua penyakit tersebut. Dia dibawa ke London untuk berobat, tetapi setelah menghabiskan seminggu di sana, dia meminta putranya Tariq, yang bersamanya, untuk kembali ke Mesir, seolah-olah dia merasa hidupnya telah berakhir. Tanggal 30 November 1988, hari wafatnya, bagaikan petir yang menghantam hati jutaan umat Islam di seluruh dunia. Negara-negara dunia hadir di Mesir, dan karena Ustad Abdul Basit adalah penyebab ikatan dan minat di antara banyak orang di berbagai negara, tanggal 30 November setiap tahun diumumkan sebagai hari penghormatan qori agung ini sehingga umat Islam mengingat hari terakhir bulan kesebelas; Hari di mana dari kehidupan dunia ini dia menuju kehidupan kekal. (hry)

3937449

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\