IQNA

16:49 - December 01, 2020
Berita ID: 3474827
TEHERAN (IQNA) - Lembaga keuangan Indonesia berupaya untuk meningkatkan kesadaran tentang ekonomi syariah digital dan layanan berbasis syariah, mengingat kapasitas industri yang tidak terpakai, dengan tujuan memperkenalkan dimensi yang tidak diketahui dari wakaf Islam.

IQNA melaporkan, terlepas dari kapasitas ekonomi Indonesia yang tinggi, jajak pendapat baru-baru ini oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) menunjukkan bahwa setengah dari masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menyadari masalah wakaf.

Imam Saptono, wakil ketua dewan wakaf Indonesia, mengatakan bahwa masyarakat masih belum mengetahui aspek-aspek yang tersembunyi dan kurang diketahui dari masalah wakaf.

“Ini masalah yang harus kami selesaikan, jadi kami berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat tentang wakaf di sekolah-sekolah,” katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia.

Saptono melanjutkan: Masyarakat masih belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang pilihan yang tersedia di wakaf, karena sebagian besar orang Indonesia masih lebih memilih untuk mendedikasikan wakaf mereka hanya untuk tiga; pesantren, kuburan dan mushalla dan masjid karena itu lebih banyak terlihat.

“Begitu masyarakat memahami tren dan manfaat wakaf di sektor manufaktur seperti sukuk digital, mereka mungkin lebih mudah menerima gagasan wakaf melalui sistem cerdas,” katanya.

Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, dan Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan 64,5 juta Muslim berada di kelas menengah, yang merupakan potensi besar untuk mengembangkan layanan keuangan berdasarkan hukum Islam, termasuk wakaf. Kendati demikian, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan data literasi keuangan syariah Indonesia tahun 2019 hanya 8,93%. Selain itu, pangsa pasar keuangan syariah kurang dari 10% dari total industri keuangan Indonesia pada Juli 2019 (Juli dan Agustus). (hry)

 

3938237

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\