IQNA

20:05 - February 25, 2021
Berita ID: 3475094
TEHERAN (IQNA) - Ali as adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad saw, imam pertama Syiah dan khalifah keempat dari khulafa al-Rasyidin menurut Ahlusunnah.

Imam Ali as lahir pada hari Jumat 13 Rajab pada tahun 30 tahun Gajah di Makkah di dalam Ka’bah. Riwayat tentang kelahirannya di dalam Ka’bah adalah riwayat yang mutawatir dalam pandangan ulama Syiah seperti Sayid Radhi, Syaikh Mufid, Quthb al-Rawandi, Ibnu Syahr Asyub dan banyak ulama Sunni semisal Hakim Naisyaburi, Hafiz Ganji Syafi'i, Ibnu Jauzi Hanafi, Ibnu Shabbagh Maliki, Halabi, Mas'udi.

Ketika Imam Ali as berusia 6 tahun, di Makkah terjadi kekeringan. Abu Thalib, seorang lelaki paruh baya mengalami kesulitan ekonomi ketika harus menafkahi keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang banyak. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw, Hamzah dan Abbas, kedua paman Nabi, memutuskan untuk menolong Abu Thalib dalam menghadapi masalah ini. Karenanya, Abbas membawa Ja'far dan Hamzah membawa Thalib ke rumahnya. Adapun Nabi Muhammad membawa Ali as ke rumahnya. Begini Imam Ali as mengenang masa itu, "Ketika aku masih kecil, (Nabi Muhammad saw) meletakkanku di sampingnya dan mendekapku ke dadanya dan ia menidurkanku di pembaringannya, menempelkanku ke badannya. Kadang-kadang Nabi Muhammad saw mengunyah makanan kemudian kunyahan itu diberikan kepadaku. Beliau tidak pernah mendengar bicara dusta dariku dan juga tidak pernah melihat kesalahan pada tingkah lakuku. 

Setelah bi'tsah Nabi (13 tahun sebelum hijrah), Ali adalah lelaki pertama dan Khadijah perempuan pertama yang beriman kepada Nabi saw. Ali yang pada saat itu berusia 10 tahun bersama Nabi Muhammad saw melakukan salat secara sembunyi di gunung-gunung sekitar Mekah. Setelah Nabi saw melakukan dakwah secara terang-terangan pada tahun ketiga Bi'tsah, yang dikenal dengan 'peristiwa dakwah pada keluarga terdekat' (Indzar Asyirah) atau 'peristiwa Yaum al-Dar', Ali mendukung Nabi saw dan beliau pun mengapresiasinya dengan sebutan 'saudara, wasi dan pengganti dirinya.

Ali as adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad saw, imam pertama Syiah dan khalifah keempat dari khulafa al-Rasyidin menurut Ahlusunnah.

Ali as adalah seorang dengan perawakan sedang. Matanya hitam dan lebar. Alis matanya melengkung dan menyatu, dan wajahnya tampan berwarna kecoklatan. Jenggotnya tebal dan bahunya lebar. Menurut beberapa sumber, Nabi Muhammad saw memberikan gelar 'Bathin' kepadanya dan atas dasar ini sebagian peneliti mengatakan dia gemuk. Namun demikian, beberapa peneliti meyakini bahwa maksud perkataan Nabi saw dari 'Bathin' adalah 'al-Bathin min al-Ilmi', yakni gemuk dari ilmu. Dipujinya Imam Ali as dengan sifat 'Bathin' dalam beberapa teks ziarah juga membuktikan bahwa maksud perkataan Nabi saw adalah bukan sifat 'gemuk' secara fisik.

Mengenai kekuatan fisik Ali bin Ali Thalib dikatakan bahwa ia tidak melawan siapa pun kecuali lawannya akan tersungkur ke bumi.  Ibnu al-Hadid di dalam Syarh Nahjul Balaghah berkata, "Kemampuan fisik Imam Ali as telah menjadi perlambang kesatria. Ia-lah yang menaklukkan benteng Khaibar, sementara sekelompok orang lain ingin mengembalikannya (atau mengangkatnya), namun gagal. Ia juga yang menurunkan berhala hubal -berhala yang berukuran raksasa- dari atas Ka’bah dan melemparkannya ke bumi. Ia yang memindahkan batu raksasa dari tempat duduknya dengan tangannya pada hari kekhlalifahannya kemudian dari bawah batu itu mengalir air yang mendidih, sementara semua pasukan yang ada tidak mampu untuk melakukan hal itu.

Salam atasmu ya Ali dihari engkau dilahirkan dan dibangkitkan. (hry)

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\