IQNA

Konsep Etika dalam Alquran/ 27

Terburu-buru; Menyulut di Gudang Mesiu!

13:27 - September 19, 2023
Berita ID: 3478946
TEHERAN (IQNA) - Manusia membutuhkan ketenangan pikiran untuk mencapai segala bentuk tujuan material dan spiritual. Kecemasan dan penyesalan merupakan hambatan besar dalam perjalanan menuju ketenangan, diantara sifat akhlak yang menimbulkan kecemasan dan penyesalan adalah tergesa-gesa.

Diantara sifat akhlak yang dikecam dan dicela pada manusia adalah sifat terburu-buru. Setiap pekerjaan memerlukan persiapan, jika persiapan tersebut tidak dilakukan maka akan mengakibatkan hancurnya pekerjaan tersebut. Misalnya salah satu syarat sebuah apel dapat berbuah adalah waktu. Buah menjadi matang dan nikmat. Kualitas akhlak ini ditegaskan Allah dalam Alquran dan mengatakan dalam surah Al-Anbiya ayat 37:

خُلِقَ الْإِنْسانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُريكُمْ آياتي‏ فَلا تَسْتَعْجِلُون‏

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

Ada dua hal yang diperlukan untuk memulai pekerjaan apa pun. Pertama: Kapasitas tubuh dalam kaitannya dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Kedua: Motivasi dan keadaan mental manusia.

Segala sesuatu yang terburu-buru akan menyebabkan kedua kasus tersebut gagal. Terburu-buru dalam bekerja karena merupakan tindakan yang tergesa-gesa tanpa penyelidikan terlebih dahulu menyebabkan terbuangnya tenaga dan waktu manusia. Apa yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil dan merupakan pekerjaan yang sia-sia, ketika seseorang menyia-nyiakan waktunya, suasana hatinya menjadi buruk dan kehilangan motivasi untuk melanjutkan atau memulai lagi.

Oleh karena itu, dengan menyatukan permasalahan-permasalahan di atas, sampai pada kesimpulan bahwa tindakan yang terburu-buru mempunyai dampak yang paling besar bagi diri manusia yaitu menimbulkan penyesalan. Inilah sebabnya Imam Ali (as) mengatakan:

فَكَمْ مِن مُستَعجِلٍ بِما ان ادرَكَهُ وَدَّ انَّهُ لَم يُدرِكْهُ

Berapa banyak orang yang terburu-buru untuk mencapai sesuatu, namun jika mereka mencapainya, mereka (langsung menyesalinya dan) berharap mereka tidak pernah mencapainya. (Nahjul Balaghah, khotbah 150)

Tentu saja persoalan kecepatan tidak boleh disamakan dengan ketergesa-gesaan, mempercepat tidak hanya tidak menimbulkan penyesalan, tetapi juga menimbulkan kedamaian dalam diri manusia; Sebagaimana telah disebutkan, tergesa-gesa artinya mengerjakan suatu pekerjaan sebelum persiapannya dilakukan, sedangkan kecepatan artinya ketika persiapan itu dilakukan, seseorang mempercepat pekerjaan itu dan menyelesaikannya dengan cepat. Jadi keduanya bukanlah hal yang sama . (HRY)

 

captcha