IQNA

Catatan

Makna Beberapa Lapisan Hujan dalam Alquran

19:08 - December 27, 2025
Berita ID: 3483192
IQNA - Alquran menggunakan sembilan ungkapan berbeda untuk fenomena alam seperti hujan, yang masing-masing ungkapan memiliki makna semantik, emosional, dan fungsionalnya sendiri. Selain menerangi sudut pandang yang berbeda tentang hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, hal ini juga menunjukkan bahwa Alquran memandang fenomena hujan dengan bahasa yang berlapis-lapis dan memiliki tujuan.

Alquran, sebagai kitab petunjuk, mengambil pandangan yang komprehensif dan sederhana tentang fenomena alam. Selain menjelaskan fungsi material hujan dalam siklus kehidupan, seperti menghidupkan kembali bumi, menumbuhkan tanaman, dan menyediakan air minum, teks suci ini menganggapnya sebagai tanda kekuasaan dan berkah ilahi, dan mengajak manusia untuk merenungkannya: 

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen”. (Surah Qaf: 9) Namun, pandangan Alquran tentang hujan tidak terbatas pada aspek-aspek alamiahnya saja.

Tujuan utama Alquran adalah untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan dan pendidikannya. Dari perspektif ini, setiap ayatnya, bahkan ketika membahas fenomena alam, dirancang ke arah ini. Oleh karena itu, ketika Alquran berbicara tentang faktor-faktor yang memengaruhi turunnya hujan, ia tidak membatasi diri pada faktor fisik dan meteorologi; melainkan, terdapat referensi di seluruh ayat yang menginformasikan tentang peran dan pengaruh faktor lain, di luar faktor material, dalam proses ini. Faktor ini dapat dikategorikan dalam judul umum "faktor spiritual"; faktor-faktor yang berakar pada kepercayaan, etika, dan tindakan manusia dan, dari perspektif Alquran, dapat memengaruhi sistem alam, termasuk curah hujan. Dengan demikian, catatan berikut dalam dua edisi menjelaskan faktor-faktor spiritual yang memengaruhi turunnya hujan dari perspektif Alquran.

Ungkapan Alquran tentang Hujan

Alquran, menggunakan literatur yang kaya dan bermakna, telah mengungkapkan fenomena hujan dengan beragam kosakata dan dalam berbagai konteks.

Mathar

Kata "Mathar" adalah istilah Alquran yang paling sering digunakan untuk hujan dan, dari sudut pandang leksikal, digunakan dalam arti umum hujan. Dalam Alquran, kata ini memiliki fungsi ganda; terkadang dalam arti positif dan nikmat, dan lebih sering dalam arti negatif dan sebagai salah satu sarana hukuman ilahi. Misalnya, dalam kisah kaum nabi Nuh, disebutkan:

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ، وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehinggga (meluap menimbulkan) keadaaan (bencana) yang telah ditetapkan”, (QS. Al-Qamar: 11-12) dimana turunnya air adalah pendahuluan dari azab.

Alquran juga menyebutkan tentang hukuman bagi kaum Luth:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

Kami hujani mereka (dengan batu). Betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu”. (QS. Asy-Syuara: 173) Dengan demikian, dualitas dalam ungkapan kata ini menunjukkan bahwa dari perspektif Alquran, satu fenomena alam dapat menjadi manifestasi rahmat atau hukuman, tergantung pada keadaan dan audiensnya.

Ghaits

Sebaliknya, kata "ghaith" hampir selalu membawa konotasi positif dan penuh harapan. Kata ini merupakan nama khusus untuk hujan yang turun setelah kekeringan dan keputusasaan, dan merupakan sumber kelegaan. Misalnya, dalam ayat 28 surah Asy-Syura, hujan disebutkan setelah orang-orang putus asa:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا

Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan (Dia pula yang) menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji”.

Thal (Hujan Gerimis)

Kata ini hanya disebutkan sekali dalam surah Al-Baqarah ayat 265, dimana Allah berfirman:

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka untuk mencari rida Allah dan memperteguh jiwa mereka adalah seperti sebuah kebun di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, lalu ia (kebun itu) menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Wabil

Kata "Wabil" berarti hujan lebat dan deras. Ungkapan ini juga digunakan dua kali dalam bentuk metafora dalam surah Al-Baqarah ayat 264 dan 265.

Wadaq

Kata "Wadaq" disebutkan dua kali dalam Alquran (surah An-Nur ayat 43  dan surah Ar-Rum ayat 48). Terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli bahasa dan penafsir mengenai makna pastinya.

Shaib

Kata “Shabb” muncul satu kali dalam surat Al-Baqarah ayat 19, dimana Allah berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ...

"Atau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit...". Menurut Farahidi, shaib berarti "hujan" atau "awan penghasil hujan".

Ma’un

Kata umum “Ma’un/Air” digunakan lebih dari 20 kali dalam Alquran, dengan mengutip paralel seperti kata kerja “Kami menurunkan” atau konjungsi dengan kata “sama’/langit” yang berarti hujan. Kesamaan ini terlihat jelas dalam beberapa ayat seperti “Kami turunkan dari langit air yang sangat suci” (QS. Al-Furqan: 48) dan “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu” (QS. An-Nahl: 10). Penggunaan ini memperkenalkan hujan sebagai sumber utama dan pemberi kehidupan dari semua air di bumi.

Rizq

Dalam beberapa ayat Alquran, hujan diperkenalkan sebagai “rizq” (rezeki) dari langit. Dalam ayat tersebut, kata rizq digunakan dengan kata kerja “Anzala” atau kata “sama’/langit”, misalnya:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ

Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)”(QS. Ghafir: 13) dan juga ayat “Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Pandangan ini memperkenalkan hujan sebagai saluran penyampai rezeki ilahi di luar fenomena fisik.

Barakat

Beberapa penafsir menganggap makna "Barakat" dalam surah Al-A'raf ayat 96, dimana Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi," sebagai nikmat-nikmat surgawi, termasuk hujan-hujan yang penuh berkah. (HRY)

 

4324570

Kunci-kunci: Catatan ، Hujan ، dalam Alquran
captcha