IQNA

12:53 - August 10, 2026
Berita ID: 3484008

Produksi Film Dokumenter "Bangsa Kurdi dan Bahasa Quran" di Irak

IQNA - Film dokumenter Bangsa Kurdi dan Bahasa Quran merupakan proyek baru karya sutradara dan produser asal Irak, Haider Ghani, yang direkam di Kurdistan Irak.

Produksi Film Dokumenter

Menurut Iqna mengutip Al-Mada, film dokumenter ini mengeksplorasi dimensi budaya dan sejarah dari hubungan antara bahasa Kurdi dan bahasa Arab, serta pengaruh Alquran terhadap masyarakat Kurdi. Proyek ini telah menerima dana hibah pemerintah untuk mendukung perfilman sebagai bagian dari Program Dukungan Produksi Film Nasional.

“Film ini tidak berfokus pada bahasa Arab sebagai bahasa nasional atau politik, melainkan sebagai bahasa Alquran dan bagaimana bahasa ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan budaya dan keagamaan sebagian besar masyarakat Kurdi Irak selama berabad-abad, di saat orang-orang Kurdi tetap melestarikan bahasa, identitas, dan tradisi mereka. Harmoni budaya inilah yang memikat saya,” ujar Ghani mengenai film tersebut.

Ia menambahkan: "Irak senantiasa menjadi ruang keberagaman yang menurut saya patut didokumentasikan oleh sinema, bukan sekadar menjadi latar bagi kisah perang dan konflik. Saya berpendapat bahwa film dokumenter sejati tidak menyajikan jawaban yang sudah jadi, melainkan memunculkan pertanyaan serta memberikan ruang bagi penonton untuk merenung. Inilah yang ingin saya wujudkan dalam proyek ini."

Haider Ghani adalah seorang profesor universitas, sutradara, dan sinematografer untuk film dan televisi. Ia juga memiliki keahlian khusus dalam desain pencahayaan dan produksi media. Ia memiliki pengalaman profesional lebih dari 20 tahun dalam produksi film dan dokumenter di bidang media visual. Ia meraih gelar PhD di bidang sinema dari Universitas Baghdad dan pernah bekerja untuk berbagai saluran satelit Irak, Arab, dan internasional. Karya filmnya yang paling terkemuka antara lain "The Tranquility of a Place", "The Occupied", dan "The House".

Saat ditanya mengenai hal yang membuatnya tertarik pada naskah karya penulis skenario Mustafa Hassan, sutradara asal Irak tersebut berkata: “Saya menyadari bahwa gagasan ini tidak semata-mata didasarkan pada informasi, melainkan pada unsur kemanusiaan. Naskah ini memperlakukan para tokoh sebagai pembawa ingatan, bukan sekadar sumber informasi. Hal ini sangat penting bagi saya sebagai seorang sutradara. Daya tarik lainnya adalah naskah ini menghindari gaya pidato dan membiarkan gambar berbicara dengan sendirinya. Bagi saya, sinema dokumenter bukanlah pidato yang direkam, melainkan sebuah bahasa visual yang memiliki ritme dan kualitas puitisnya sendiri.”

Ia menambahkan bahwa naskah tersebut memberinya ruang yang cukup untuk mengembangkan visi penyutradaraannya, yang bertumpu pada aspek visual, suara, keheningan, lingkungan alam, serta detail kehidupan sehari-hari.

Heider Ghani menyatakan bahwa dalam film ini, ia menemukan kesempatan untuk membangun dunia visual yang utuh—bermula dari kota-kota Kurdi beserta sejarahnya, melintasi institusi pendidikan dan keagamaan, hingga menjangkau rumah, pasar, dan percakapan manusia yang sederhana—sehingga penonton merasa seolah-olah sedang menjalani sendiri pengalaman tersebut, bukan sekadar mendengarnya.

“Bagi saya, keberhasilan sebuah film dokumenter bermula dari naskah yang menghargai daya pikir dan kecerdasan penonton, dan saya menemukan hal tersebut dalam naskah ini,” lanjutnya.

Mengenai pendanaan produksi film tersebut, sang sutradara asal Irak mengatakan: "Komite Inisiatif Dukungan Sinema, yang telah berperan dalam mendukung film ini, merupakan langkah penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap produksi film Irak. Dukungan mereka memberikan peluang nyata bagi proyek ini untuk mewujudkan gagasannya. Namun, menurut saya, dukungan semacam ini tidak seharusnya menggantikan sistem pembiayaan film yang komprehensif."

Ghani menekankan sulitnya membuat film semacam itu, terutama karena film tersebut membahas tentang Bahasa. “Tentu saja ada tantangan besar, karena membahas bahasa itu berbeda dengan membahas suatu tempat atau peristiwa sejarah. Bahasa adalah konsep yang tak terlihat, sementara sinema mengandalkan citra visual; di situlah letak kesulitan mendasarnya,” ungkapnya. (HRY)

 

4368782

Kunci-kunci: Produksi ، film ، dokumenter ، irak
captcha