IQNA

Tauhid dalam Ibadah Merupakan Dasar Persatuan

10:50 - July 24, 2008
Berita ID: 1671457
Dasar persatuan menurut pandangan Al Quran adalah mengesakan Tuhan dan penghambaan kepadanya serta memahami ajaran Islam dengan benar.
Iqna: Selain penekanan Imam ALi Khamenei, pemimpin spiritual tertinggi Republik Islam Iran akan keniscayaan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin, pembahasan seputar konsep Persatuan dalam prespektif ayat Al Quran dan Hadits merupakan salah satu pembahasan penting sehingga divisi keilmuan dan pemikiran Iqna dituntut untuk melakukan berbagai wawancara dengan para pakar dan menelaah berbagai sumber. Di bawah ini sebagian dari apa yang telah dilakukan dari berbagai wawancara dengan berbagai pakar agama dan masalah-masalah sosial. Arti Bahasa kata "Wahdah" Dr. Ahmad Ridha Gha ibiy, anggota Senat dan team akademik Universitas Islam menjelaskan makna kata dengan mengambil berbagai pendapat para pakar bahasa Arab, diantara nya Ar Raghib Isgfahani, sang penulis Mufradat Al Quran, dimana ia mengatakan, bahwa kata wahdah memiliki persamaan dengan ata "Infirad" yang bermaknakan "tunggal" karena itu konsekwensinya adalah tidak adanya bagian di dalamnya. beliau juga menyebutkan enam dimensinya yang tentu tidak terbatas pada enam itu saja, bahkan pada apa saja disandingkan di dunia ini, maka iapun akan memiliki makna khususnya. Hal itu karena keluasan dan ketelitian maknanya, maka di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan kita akan menemui makna yang memiliki ciri khasnya masing-masing. seperti dalam ilmu Fisika, Fisalafat dan Irfan. Namun menurutnya bagi kita sudah sangat baik bila memperhatikan makna umum yang dipahami oleh masyarakat dari kata tersebut. Kata Wahdah sebagai sebuah kata akademik Dr. Ghaibiy juga menjelaskan dalam arti inipun kata wahdah memiliki makna yang luas. Namun Al Quran yang kita yakini adalah penjelas segala sesuatu seperti dalam ayat 89 Surah An Nahl, di saat kita memperhatikan berbagai makna yang digunakan dalam berbagai ayat yang berbeda, kita akan dapati bahwa persatuan dan kesatuan adalah ada pada segala sesuatu dengan maknanya sendiri. Menurutnya kata wahdah memiliki makna yang menuntut kita untuk memilah-milah banyak hal yang "bertentangan" dengan hakikat satu itu sendiri yang sangat sederhana dan tidak memiliki bagian. Misalnya Kesatuan Alam Materi, Kesatuan Tumbuhan, Kesatuan Materi, Kesatuan . . . . Tentu yang menjadi konsentrasi kita adalah makna kata persatuan dalam dimensi sosial yang berhubungan dengan masyarakat manusia, masyarakat Islam dan Al Quran. karena itu persatuan dalam pandangan kami adalah persatuan dalam kehidupan kemasyarakatan, pemikiran, akidah, kebangsaan dan . . . . dengan kata lain yang dibutuhkan oleh kita adalah bagaimana menghadapi musuh yang telah melakukan berbagai upaya untuk menghancurkan kita. dan inilah yang juga menjadi konsentrasi banyak ayat Al Quran di saat menggunakan kata "wahdah". Beliau juga menegaskan, bahwa kata wahdah sangat mudah diucapkan, namun susah dalam praktik dan penentuan obyek serta penjelasan berbagai dimensinya dan tentu akan menyisakan banyak pertanyaan yang harus dibahas, didiskusian dan dicarikan solusi terbaik untuknya. Wahdah dalam Prespektif Al Quran Dr Ahmad Ridha berkenaan dengan pandangan Al Quran tentan Wahdah mengatakan, bahwa makna persatuan dalam AL Quran adalah mengisyaratkan pada satu hal yang dituju dengan jelas dan cocok bagi tabiat manusia itu sendiri, walaupun tentunya tidak bisa digeneralkan pada setiap individu. Al Quran juga menganggap bahwa persatuan adalah pesan bersama para Nabi dan Washi serta selaras dengan tabiat, fitrah dan akal, sehingga tidak ada satu agama pun di dunia yang menentang nilai-nilai persatuan sebagai nilai yang universal. Karena itulah bila kita mengklaim sebagai penerus para Nabi dan Washi, maka coba perhatikan Surat Tugas Imam Ali kepada Gubernur Mesir yaitu Malik Al Asytar tentang persatuan, Beliau mengatakan:" Wahai Malik, kamu akan berhadapan dengan orang-orang yang semua itu adalah saudaramu, hanya saja ada yang saudara dengan dalam satu agama dan ada lagi yang saudara denganmu dalam satu penciptaan. Dan kamu berkewajiban untuk memiliki hubungan baik dengan semuanya!" Betapa jauh sekali apa yang beliau Imam Ali sampaikan dan perintahkan dengan sebagian kita yang tidak membeirkan perhatian sedikitpun dengan orang yang tidak seagama atau bahkan se madzhab dengan kita!? Memang Al Quran mengajak manusia kepada persatuan sebagai makhluk yang bebas dan berkehendak, bukan sebagai makhluk yang terbelenggu dan tidak dapat memilih layaknya binatang. karena itulah di antara mereka ada yang mengamini panggilan Al Quran dan menaatinya dan ada yang menolaknya dan mengabaikannya. Di dalam Nahjul Balaghah banyak sekali sabda-sabda Imam Ali tentang persatuan dalam beragama dan bermasyarakat. diantaranya adalah sebagai berikut: - Waspadalah kalian dari berkelompok-kelompok dalam agama Allah, sesungguhnya kebenaran yang engkau benci dari sebuah kelompok adalah lebih baik dari pada kebatilan yang kau cintai, demi Allah tidak pernah memberi kebaikan pada perceraian, baik pada masa terdahulu ataupun akan datang. Maksud dari hadis tersebut adalah di saat kita tidak menyukai satu kelompok namun kita harus bersama dengannya sebab berpisah dan memisahkan diri darinya adalah sebuah kebatilan. Sedangkan Jakfar Bandiy Darya, Seorang penulis dan penerjemah ke bahasa Turki dalam hal ini mengatakan, bahwa Allah SWT dalam Al Quran berfirman: "Dan Berpegangteguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai" dan ayat lain, janganlah kalian bercerai-berai, maka akan hilang kekuatan kalian" Yang harus kita sadari, bahwa musuh Islam tidak lagi akan membedakan permusuhannya dengan kaum muslimin, apakah dia bermadzhab Syafii, Zaidiy dan lainnya. karena itulah semua kaum muslimin haruslah bersatu apapun madzhabnya dan memfokuskan masalah untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina dan membebaskannya dari penjajah. Dalam hal ini Dr. Ghulam Husein A'rabiy, yang juga anggota bagian akdemik Universitas Qom, mengatakan, bahwa hakikat persatuan dalam Al Quran adalah berpegangteguh dengan tali Allah, yakni poros persatuan itu adalah realitas dan dasar yang kuat dan tidak mungkin hanya sekedar kesatuan slogan dan poros-poros lainnya, baik kemanusiaan, golongan ataupun lainnya. Sedangkan Ayatullah Mohammad Mohammadi Rey Syahriy menganggap bahwa satu-satu jalan untuk meraih keharmonisan dan persatuan Islami adalah jihad akbar dan pendidikan jiwa sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Khomeini, bahwa siapa yang menang melawan jihad yang satu ini maka ia akan menang dalam segalanya dan berhasil memperbaiki segala sesuatu Begitu juga Ayatullah Sayyid Mohammad Khamenei meyakini, bahwa cara untuk merealisasikan persatuan itu adalah memperhatikan maslahat umum dan meninggalkan berbagai keinginan dan manfaat yang hanya diperoleh oleh diri sendiri saja. sebab semua problem yang muncul baik, ktidakamanan, perceraiberaian dan permusuhan itu semua karena tidak adanya jiwa dan akal yang mengabaikan kepentingan diri demi terealisasinya kepentingan umum. Pada kesempatan lain, Hojjatul Islam Wal Muslimin Shalihiy, Ketua Persatuan Ulama Afghanistan mengatakan, bahwa persatuan menurut AL Quran adalah kesatuan tujuan dan bukan kesatuan madzhab dan keyakinan. Hojjatul Islam Wal muslimin Mohammad Kadhim Rahman memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Syaikh Shaduq selaku ulama tingkat atas yang telah menulis sebuah buku berjudul "At Tauhid". siapa yang ingin merealisasikan persatuan haruslah berlandaskan kepada apa yang telah ditulis dalam buku tersebut, yaitu keyakinan pada dasar-dasar keyakinan agama, yang berlandaskan Al Quran, Sunnah dan Akal, ujarnya. Kembalilah kepada Al Quran sebagaimana Al Quran sendiri mengatakan, bahwa di saat kalian berbeda pendapat, maka dapatlah jawabannya di dalam Al Quran, tegas Dr. Jakfar Nikonam yang juga anggota senat Universitas Qom. Menurutnya yang menjadikan problema dan perselisihan di dalam tubuh umat Islam adanya kelompok ekstrim dalam dua madzhab besar Ahlussunah dan Syiah 274252
captcha