Dalam rangka memperingati hari kelahiran (milad) Imam Mohammad Al Baqir as yaitu tanggal 1Rajab, Iqna melakukan wawancara dengan seorang ulama pakar sejarah, yaitu Ayatullah Yusufi Gharawi
dalam wawancaranya beliau menjelaskan, bahwa kira-kira pada usia beliau 4 tahun beliau ikut serta bersama ayah dna kakeknya di Padang Karbala dan pada usia beliau sekitar sepuluh tahun ayah beliau wafat dan beliau pun diangkat menjadi Imam.
Setelah kepemimpinan umat berada di tangannya beliau hidup sezaman dengan lima khalifah Umawi dan tinggal di Madinah, hanya sekali saja melakukan perjalanan ke Syiria atas panggilan raja Hisyam dan kemudian beliau dipenjarakan di sana.
Imam Mohammad Al Baqir menurut beliau, hidup dalam zaman yang lebih khusus dibanding dengan para imam lainnya hingga zaman Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. karena permusuhan para khalifah sebelum Hisyam kepada Imam relatif menurun dibanding zaman pemerintahan Yazid.
Karena itulah Imam Mohammad Al baqir menggunakan kesempatan baik ini untuk memperkenalkan Ahlul Bayt dan ajarannya kepada masyarakat sehingga beliau menjadi Ikon Ahlul Bayt dalam keilmuan dan ajaran Islam.
Pada saat itu Imam juga berusaha untuk mempersepit gerakan munculnya berbagai hadits palsu dan upaya untuk mencabut keamanan dan kebebasan bagi para pengikut Ahlul Bayt as. karena itu pula kita dapatkan banyak hadits Imam yang menyuruh kepada para pengikutnya untuk menggunakan cara taqiyyah dalam banyak hal.
Imam juga menyiapkan kondisi yang kondusif untuk putranya Imam Jakfar Shadiq as, sehingga pada zamannya kemudian Imam Jakfar Shadiq memiliki keleluasaan yang luar bisa dalam menjelaskan ajaran murni Rasulullah saw.
Karena peran penting yang dimainkan oleh Imam Mohammad Al Baqir dan Imam Jakfar Shadiq as di bidang keilmuan di saat itu, maka para penulis biografi ulama khususnya ulama Madinah, akan kita temukan, bahwa beliau berdua adalah ikon yang menjadi rujukan setiap orang dalam hal ajaran agama yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.
Pada saat itu beliau juga mendidik banyak murid yang selanjutnya meriwayatkan hadis-hadis beliau, tak kurang 476 murid yang selalu bersama beliau dalam setiap majlis yang beliau lakukan di mesjid Rasulullah saw di Madinah.
Selain masalah fikih Imam Mohammad Al Baqir juga menjadikan rujukan dalam hal teologi, khususnya yang masalah itu menjadi isu penting dan perdebatan antara kaum asy'ari dan Mu'tazilah yaitu antara keyakinan pada Jabr dan tafwiydh, yakni frewill dan determinisme.
424919