IQNA

Resistensi dan Perlawanan yang Kokoh adalah Bagian dari Ajaran Islam

3:25 - October 02, 2010
Berita ID: 2004939
Imam Ali Khamenei: Resistensi ini adalah keistimewaan dari dzikir katsir yang didapat dari shalat Jum'at yang meliputi seluruh dimensi internal, sosial, politik dan internasional. Dengan demikian, masyarakat pasti akan menjadi masyarakat yang resisten dan gigih.
IQNA merilis dari situs resmi Pemimpin Spiritual Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, bahwa beliau pada Selasa pagi (28/9) dalam pertemuan yang dihadiri oleh para Imam Jum'at dari berbagai penjuru negeri menyebut shalat Jum'at sebagai moment yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan individu, sosial, politik, keagamaan dan internasional. Beliau mengatakan, "Tugas terpenting yang diemban oleh Imam Jum'at adalah memberikan porsi perhatian lebih besar kepada posisi ini, mengenal realita di tengah masyarakat dan tidak lalai akan konspirasi dan tipu daya musuh, serta menjalin hubungan yang akrab dan hangat dengan para pemuda dan memanfatkan kreativitas dan kemampuan mereka." Seraya menjelaskan kedudukan penting shalat Jum'at dan menyinggung keistimewaan khusus yang ada pada ibadah shalat Jum'at termasuk pengulangannya setiap minggu, beliau menandaskan, "Shalat Jum'at ibarat rambu-rambu yang terpampang setiap hari Jum'at di depan mata masyarakat dan menunjukkan arah jalan yang benar kepada mereka." Dengan menjelaskan sisi hukum fiqih dari shalat Jumat yaitu tergantikannya dua rakaat shalat Dhuhur dengan khotbah Jum'at yang wajib disampaikan oleh Imam Jum'at, Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, "Dalam kedudukannya yang demikian, tentu gerakan, pembicaraan, isyarat bahkan diamnya Imam Jum'at bisa mengilhami jiwa. Karena itu, salah satu tugas penting Imam Jum'at adalah menjaga kehormatan itu dan lebih mawas diri dalam berperilaku." Beliau lebih lanjut menyebut dzikir sebagai satu keistimewaan lagi yang ada pada shalat Jum'at. "Berkah yang terpancar dari shalat Jum'at bukan hanya diperoleh oleh imam dan jamaah shalat tersebut tetapi anugerah Ilahi yang turun berkat shalat Jum'at akan tetap terjaga di tengah masyarakat sepanjang pekan, dan itulah dzikir katsir (yang banyak) yang disebutkan berkenaan dengan shalat Jum'at," tandas beliau. Mengenai dzikir di tengah masyarakat ini Rahbar menjelaskan bahwa salah satu buah yang dihasilkan adalah kokohnya keimanan dan tidak adanya rasa gentar menghadapi lawan. "Mereka yang memperoleh berkah dari dzikir katsir ini tidak akan gentar maupun terkejut menghadapi suara-suara dan gertakan yang datang dari arah musuh. Sebab, kaum zalim dan arogan dengan perangi yang ambisius untuk memonopoli dan menguasai seluruh kekayaan yang dimiliki oleh negara mana saja di dunia, tentu tak akan tenang mendengar pekik suara yang menuntut keadilan, kebebasan manusia dan pembelaan untuk kaum tertindas." Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Tak seperti slogan yang didengungkannya, kaum arogan dan ambisius dunia bernafsu merebut seluruh kekuasaan dan kekayaan untuk orang-orang di sekitar mereka. Contoh yang paling nyata adalah perbandingan antara taraf kehidupan mayoritas warga di Amerika Serikat (AS) dan kehidupan para pemimpin di negara itu." Rahbar menyinggung data mengejutkan yang mengungkap kondisi kesejahteraan mayoritas warga AS. Beliau menandaskan, "Presiden Republik Islam Iran dalam kunjungan terakhir dengan agendanya yang sangat padat ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah mengungkap sebagian dari fakta ini. Salah satu fakta pahit di tengah kehidupan masyarakat AS adalah keberadaan jutaan warga tunawisma di sana sementara puluhan juta lainnya hidup di bawah garis kemiskinan." Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, "Bangsa Iran berdiri tegar dan dengan segenap kekuatan menentang pemikiran ambisius itu yang bernafsu menguasai dunia. Bangsa Iran tidak akan tunduk menyerah kepada tekanan. Bangsa ini secara terbuka mengumumkan pembelaan kepada bangsa-bangsa Muslim dan yang tertindas khususnya bangsa Palestina." Beliau menambahkan, "Kemarahan, ancaman dan aksi mengasah taring yang dilakukan kubu sistem kuasa menghadapi bangsa seperti ini bukan lagi tindakan baru yang di luar kewajaran. Menghadapi sikap itu hanya ada dua langkah yang bisa dilakukan; menyerah atau melawan dengan memperkokoh keimanan dan jalinan hubungan dengan Allah Swt." Islam dan al-Qur'an, imbuh beliau, mengajarkan resistensi dan perlawanan. Resistensi ini adalah keistimewaan dari dzikir katsir yang didapat dari shalat Jum'at yang meliputi seluruh dimensi internal, sosial, politik dan internasional. Dengan demikian, masyarakat pasti akan menjadi masyarakat yang resisten dan gigih. Ayatollah al-Udzma Khamenei mengingatkan tugas lain para imam Jum'at yaitu tanggap dan bijak akan kondisi dan realitas di tengah masyarakat. "Dalam kurun tiga puluh tahun terakhir, kesalahan, kelalaian dan penyimpangan sebagian orang dari jalur yang semestinya terjadi karena ketidaktahuan akan realita yang terjadi," tambah beliau. Rahbar lebih lanjut menyatakan bahwa salah satu tugas Imam Jum'at adalah memperhatikan konspirasi dan tipu daya musuh. "Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pena yang diterjunkan untuk menyingkirkan isu tentang musuh dari benak dan pikiran masyarakat dan bangsa ini. Bahkan dalam banyak kasus, mereka memaparkan hal-hal menyesatkan dengan menyebutkan bahwa pemerintah Iran sengaja mengangkat isu musuh dari luar demi melepaskan diri dari tanggung jawab menyelesaikan kesulitan yang ada," kata beliau. Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Ungkapan seperti itu tidak benar sama sekali. Karena, tidak ada seorang yang bisa memungkiri kesalahan, kelalaian dan ketidakcakapan para pejabat negara yang telah melahirkan banyak masalah dan kesulitan dalam kurun waktu 30 tahun ini. Namun, hal itu bukan lantas membuat kita lupa akan musuh." Seraya menekankan bahwa semua orang harus tanggap dan jeli dalam membaca gerak gerik musuh dan siap untuk melawannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Mengapa sebagian orang tetap bersikeras untuk memungkiri adanya tangan-tangan keji musuh yang terus aktif berbuat makar di balik berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini." Ayatollah al-Udzma Khamenei lebih lanjut mengingatkan bahwa sejak awal revolusi Islam musuh selalu berusaha melemahkan kalangan muda. Beliau menambahkan, "Para pemuda yang merupakan komunitas terbanyak di negara ini menjadi target utama serangan musuh. Sebab, para pemuda adalah motor yang menggerakkan negara ini maju ke depan." Rahbar menandaskan, "Kalangan harus dirangkul, kata-kata mereka harus didengar dan peluang bagi partisipasi mereka di berbagai medan harus dibuka." Beliau mengimbau para imam Jum‘at untuk menyimak pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para pemuda terkait isu-isu agama, sosial dan politik seraya memberikan jawaban yang proporsional kepada mereka. Dalam pertemuan itu, Ketua Dewan Penyusun Kebijakan Imam Jum'at Hojjatul Islam wal Muslimin Taqavi menyampaikan laporan mengenai tujuan penyelenggaraan seminar para imam Shalat Jum ‘at ke-21 seraya mengatakan, "Dalam setahun terakhir, kami telah melaksanakan berbagai program untuk menambah pengetahuan dan kearifan masyarakat, menebar ketenangan di tengah masyarakat, program kerjasama para imam Jum'at dengan lembaga pengajaran dan pendidikan, serta program menjalin hubungan dengan para pemuda." Pertemuan tersebut diakhiri dengan shalat Dhuhur dan Ashar berjamaah yang dipimpin Ayatollah al-Udzma Khamenei. 664874
captcha