IQNA

14:28 - November 05, 2014
Berita ID: 1470426
JERMAN- Frustasi dan kekecewaan terhadap Modernisme dan misinterpretasi tentang Islam mengakibatkan ketertarikan Barat terhadap kelompok-kelompok ekstrem kawasan dan misinterpretasi ini sangat lebih berbahaya ketimbang ilustrasi media-media Barat Anti-Islam.

Hujjatul Islam Dr. Razavi Rad, Ketua Yayasan Humaniora dan Islam Jerman saat wawancara dengan IQNA, dengan menjelaskan hal ini, mengatakan, “Frustasi dan kekecewaan terhadap Modernisme dan misinterpretasi tentang Islam menyebabkan ketertarikan orang-orang Barat kepada kelompok-kelompok ekstrem kawasan dan misinterpretasi ini sangat lebih berbahaya ketimbang ilustrasi media-media Barat.”
Razavi menambahkan, jika kita berhendak mengkaji permasalahan-permasalahan dunia Islam dengan perspektif patalogis, dapat dikatakan permasalahan kita juga termasuk dalam bagian ini dan ranah-ranah teoritis dikaji dengan sangat membengkak dan melebihi batas. Dengan demikian, sebenarnya jalan yang benar untuk perkembangan dan perluasan pemikiran Islam adalah gerak yang sejalan dengan hasil dan produk-produk yang dapat dibela secara rasional dalam ranah internasional. Dan jika demikian, maka dapat dikatakan, kita telah berhasil.

Perubahan Agama; Hasil Ketidakmampuan Modernisme dan Postmodernisme dalam Menjawab Kebutuhan Spiritual Manusia
Dia mengatakan, pemikiran Modernisme di Eropa hingga tahun 2000 telah menghembuskan nafas-nafas terakhirnya dan meskipun semua kemampuan dan seluruh upaya telah dikerahkan dalam rangka menyiapkan sebuah kehidupan yang ideal dan bertujuan untuk manusia, tidak berhasil secara sempurna, karena definisi dari manusia dan kebutuhan-kebutuhan manusia tidaklah komprehensif dan sempurna serta tidak mengindahkan kebutuhan-kebutuhan spiritual, dengan dalil inilah manusia benar-benar tercukupi, sementara pada hakikatnya masih tetap gelisah dan merasa cemas.
Dengan berakhirnya periode pemikiran Modernisme dan ketidakmampuannya dalam menjawab semua pertanyaan-pertanyaan manusia, memaksa para teoritikus Barat untuk memikirkan pemaparan fase baru dari pemikiran Modernisme, meskipun dalam bentuk yang tidak jelas dan masih kabur, dengan nama Postmodernisme.
“Sekarang ini periode dialog teoritis dan penyampaian teori sudah berakhir. Dan setelah pembentukan tekstur baru, maka tidak lagi meyakini dialog dan substansi serta esensi pemikiran Barat sangat monolog sekali. Barat kurang lebih setelah pertengahan kedua abad kesembilan belas dengan menolak dialog mengintroduksikan bahwa sekarang ini kita harus memamerkan hasil dan produksi-produksi kita,” tambah Razavi.
Begitu juga, di balik layar para pemain lain juga sibuk bermain supaya menghalangi dan mencegah orang-orang Barat untuk berfikir terhadap topik-topik humaniora lainnya, sekarang kondisi dunia Islam dan perpecahan, menimbulkan konflik-konflik interen dan merusuhkan negara-negara stabil, ini adalah salah satu dari peran yang dijalankan dan tujuannya adalah membatasi gelombang Islamisme, yang muncul dari kelemahan pemikiran Barat. Ironisnya, sebagian kaum muslimin yang tidak sadar juga terjerumus dalam jebakan ini, dan banyak dari mereka yang mendapatkan  informasi-informasi yang tidak benar tentang Islam sehingga mengakibatkan mereka menjadi pelaku perkara tersebut. Sekarang ini adalah periode seseorang yang duduk di salah satu sudut meja dan mengatakan pemikiran kami sangatlah indah, akan tetapi perangai dan sikap manusia-manusia yang mengikuti kami yang tidak indah, hal ini tidak dapat diterima, karena jelmaan-jelmaan yang nyata berbicara melebihi segalanya.

Urgensitas Kembali kepada Hakikat Pemikiran Wahyu
Dosen ilmu Islam ini dengan statemen bahwa jalan utama berdiri tegak dihadapan intrik-intrik Barat untuk tidak memaparkan wajah asli Islam mengatakan, “Jika kita mampu mendidik manusia-manusia pengkritik terhadap pemikiran wahyu, maka kita tidak akan terjerumus dalam kubangan para teoritis Barat dan kita tidak akan jatuh dalam kubang konflik. Masa sekarang ini, merupakan investasi yang sangat berharga nan penting bagi bangsa-bangsa. Barat berusaha mencari celah supaya kaum muslimin kehilangan masanya, dan semakin masa itu hilang; jarak dengan pengeluaran-pengeluarannya akan dapat lebih dibela.
Ketua markas ilmu Humaniora dan Islam menambahkan, sejatinya salah satu dari analisa-analisisa priode Postmodernisme dan cabang-cabang Postmodernisme adalah demikian, dan salah satu pondasi dasar-pondasi dasarnya adalah bahwa kita tidak bisa lagi membagi manusia menjadi dua kelompok, Modern dan Postmodern, sekarang, dunia sudah sampai pada tahapan bahwa jika manusia dibiarkan begitu saja sekehendak hatinya, maka tetap akan menjadi manusia modern, bahkan di tempat-tempat yang paling terpencil sekalipun, seperti di desa-desa Afganistan. Dengan demikian, Barat berargumentasi bahwa hanya pada saat kemenangan milik kita dan ketika itu kita mampu mengambil masa dari manusia modern ini dan ironisnya kejadian ini pada sekarang sedang terealisasi di pelbagai titik belahan dunia Islam dan jika tingkat kecerdasan di masyarakat-masyarakat Islam bertambah, maka akan dapat lebih dimanfaatkan dari masa dan produksi-produksi yang dapat dibela akan lebih banyak. Dalam kondisi semacam ini, pembelaan atas ajaran-ajaran Islam akan semakin mudah.

Kesuksesan Republik Islam Iran dalam Memerangi Penyebaran Ekstremisme
Dr. Razavi Rad dalam menjelaskan penyebaran ekstremisme di kawasan dan perbedaan  Iran dengan negara-negara lainnya mengatakan, sejatinya adalah bahwa kapasitas sejarah dan kebudayaan Iran dan potensi-potensinya tidak dapat dibandingkan dengan salah satu dari negara-negara kawasan manapun, bahkan dunia. Salah satu hasil dari potensi ini adalah masyarakat Iran sejarang ini mampu melepaskan dirinya dari cengkeraman Barat dan untungnya para pengelola makro negara dalam pengetahuan Islam dan agama sama sekali bukan dari orang-orang ekstrem dan mereka mampu menerapkan kondisi yang sangat stabil dihadapan serangan besar dari ekstremisme di kawasan yang sedang bergolak. Untuk mendapatkan hasil yang demikian ini telah banyak juga biaya yang dikeluarkan  dan  tokoh seperti Imam Khomeini (ra) dengan segala usaha dan upayanya telah berjuang untuk sampai pada hasil semacam ini dan pembahasan persatuan Islam telah dipaparkan bukan sebagai sebuah pandangan, akan tetapi sebagai sebuah strategi. Jika agama Islam memiliki toleransi yang sedemikian rupa, maka dapat dikatakan, Lakum Dinukum Waliyadin, maka sudah pasti dapat mengatakan, Lakum Mazhabukum, Waliyal Mazhab.
“Sudah pasti setiap kali kaum muslimin semakin dekat dengan peran dan kedudukan sejarahnya di dunia, maka mereka akan memiliki suara yang lebih jernih dan jika semakin jauh dengan pokok ini, maka akan terlihat semakin rusak,” tambahnya.
Contoh riilnya yang dapat kita saksikan adalah di Afganistan, pada masa sebelum terjadi perangan di Afganistan, tidak hanya Syiah dan Sunni, bahkan banyak sekali dari kaum muslimin dan non-muslim saling hidup harmonis, namun sekarang ini perselisihan kelompok dan SARA, dan bahkan terlihat juga dikalangan pelbagai kelompok Syiah, dimana merupakan akibat dari keterjerumusan tersebut.
Ketika sebuah generasi masyarakat terjerumus dalam perangkat politik Barat, tidak hanya dirinya menjadi penyebab masalah untuk selainnya, bahkan telah mendidik satu keturunan secara tidak benar, jika demikian dua keturunan harus membayarnya sehingga mampu meluruskan jalan yang belok ini dan kembali ke tempat semulanya.

Solusi Pemaparan Wajah Islam yang Benar kepada Dunia
Peneliti ilmu Islam ini dalam menjelaskan solusi-solusi pemaparan wajah Islam yang benar kepada dunia menegaskan, sekarang di dunia terdapat dua mimbar; pertama mimbar omongan dan dealektika, yang para audiennya adalah suara yang kondisinya sangat berlebihan, ini adalah satu persen, sedangkan mimbar lainnya dengan tajuk mimbar perilaku dan para audien dalam ranah mimbar perilaku yang mayoritasnya adalah masyarakat dunia. Para audien ini hanya memperhatikan hasil-hasilnya. Oleh karena itu,  Semua upaya kami sekarang ini harus ada pada pengaktifan mimbar kedua, karena tidak akan ada kekuatan dan stategi yang mampu merintangi kesuksesan kami di hadapan hasil-hasil tersebut.
“Orang-orang Barat juga terjerumus dalam sebuah lapisan dari desain-desain para teoritis di balik layar Barat dan diupayakan bahwa orang-orang Barat juga bisa terhalangi dari melihat realita. Hal ini tampak ketika Islam dari perspektif Barat dipaparkan dan diketengahkan kepada kaum muslimin, maka akan terbentuk hasil-hasil yang mengerikan dan Islam terilustrasi dengan bersinonimkan al-Nusra dan al-Qaidah dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dimana sejatinya tidak ada satupun dari mereka yang memiliki hubungan dengan Islam dan kaum muslimin, bahkan kebanyakan dari mereka memiliki akar di Barat itu sendiri,” tambahnya.
Razavi menambahkan, ironisnya dunia Islam dan kaum muslimin juga tidak mampu memperlihatkan dengan baik akan raut sejati Islam dihadapan ilustrasi yang tidak nyata ini. Bahkan dalam kesempatan-kesempatan media terbatas yang dimiliki oleh kaum muslimin, sebagian dari media dan tokoh-tokoh disamping menggunakan uang baitul mal juga membunyikan terompet persengketaan. Dengan demikian, harus lebih banyak berpaya mengokohkan persatuan dengan menggunakan fasilitas yang ada.

Pelemahan Ekstremisme Tidak Akan Terealisasi Kecuali dengan Kembali kepada Rasionalitas
Dia dalam menjawab pertanyaan mengenai perangai kaum muslimin dalam masyarakat-masyarakat non-Islam dan perannya dalam mensterilkan peran-peran Barat mengatakan, kewajiban kaum muslimin sejati di Eropa adalah hal yang sangat sulit dan menurut keyakinan saya, jika kita dapat berbicara di Barat dengan hasil dan produksi-produksi gemilang, maka kita dapat memberi bantuan yang besar kepada Islam. Jika kita tidak membatasi upaya-upaya kita hanya dalam batasan masjid berskala 500 masjid di Eropa dan pada realitasnya kita telah mendidik 500 tokoh dari mazhab Ahlulbait (As). Jika demikian, akan memiliki hasil dan produksi-produksi yang dapat diperjuangkan. Dan sudah pasti ranah pengaruh manusia-manusia sempurna Islam akan lebih banyak dari beberapa masjid.
Dosen Humaniora di Jerman ini dalam menjelaskan sebab tertariknya orang-orang Barat kepada kelompok-kelompok seperti ISIS, mengatakan, “Sungguh benar bahwa orang-orang Barat sangat makmur dalam ranah kebutuhan-kebutuhan materi, namun dalam ranah kebutuhan-kebutuhan spiritual merupakan manusia yang melankolis dan sendu serta benar-benar mencari jaminan kebutuhan-kebutuhan yang tak diketahuinya.”
Orang-orang Eropa yang kecewa dan frustasi terhadap pemikiran Modernisme mencari eksperimen sebuah pemikiran lainnya. Demikian juga, orang-orang yang bergabung dengan kelompok-kelompok ini dengan nama kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, mereka telah salah memahami esensi Islam dan misinterpretasi ini lebih berbahaya ketimbang ilustrasi-ilustrasi Barat terhadap Islam. Dalam sepanjang sejarah, khususnya dalam sejarah Islam, kita banyak merasakan kesakitan dari misinterpretasi ini dan orang-orang inilah dengan perantara-perantara yang sangat terbatas di era awal Islam telah melakukan kesalahan-kesalahan terbesar.
Di akhir kata, dia dengan statemen bahwa kewajiban negara-negara Islam adalah mendapatkan pendidikan kesempurnaan manusia dan pendidikan generasi-generasi mendatang menambahkan, melemahkan ekstremisme tak lain hanya dengan kembali kepada jalan rasionalitas. Dalam Al-Quran juga lebih dari 300 ayat menegaskan tentang urgensitas rasionalitas, dan dengan ibarat Imam Ali (As), “Akal adalah pondasi paling kuat.”
1465408

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: