IQNA

(bagian 1)
14:30 - March 16, 2019
Berita ID: 3472974
IRAN (IQNA) - Khoja adalah pengikut mazhab yang yang berawal sejak 600 tahun yang lalu, mulai menggabungkan keyakinan-keyakinan agama Hindu dengan ajaran mazhab Ismailiyah di India kemudian lambat laun, pengikut kelompok ini terbagi menjadi beberapa kelompok, dan cabang; beberapa dari mereka menerima mazhab Syiah Itsna Asyariyyah dan dengan bermigrasi ke wilayah Afrika Timur, di sana mereka membentuk masyarakat yang koheren dan berpengaruh. Saat ini, jamaah Khoja Itsna Asyariyyah disamping negara-negara Afrika Timur, juga ada di India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru, Eropa Barat dan Amerika Utara. Mereka sangat berpengaruh di negara mereka dalam urusan ekonomi dan komersial, serta kegiatan amal dan keagamaan.

Menurut laporan IQNA, sejarah sebuah kelompok yang dikenal sekarang sebagai Khoja berasal dari 600 tahun yang lalu di India. Saat ini, Khoja dibagi menjadi tiga kelompok; Ismailiyah, Itsna Asyariyyah dan Ahlussunnah. Titik persamaan semua kelompok ini adalah status sosial ekonomi yang tinggi di negara mereka dan terkoordinir.

Pembentukan Pertama

Menurut ensiklopedia Khojapedia, sekitar 600 tahun yang lalu, salah seorang mubalig agama Islam, Pir Sadruddin memasuki kawasan Sindh di India. Dikatakan bahwa dia adalah salah satu dai dari cabang Nizari dari sekte Ismailiyah, beberapa juga menganggapnya sebagai seorang Sufi Iran. Dia menyebarkan ajarannya di tengah-tengah sekelompok orang Hindu, yang dikenal sebagai Lohana, sekelompok orang Hindu yang kaya. Dia membaptis sejumlah besar umat Hindu yang dia sebut jalan yang benar, yang merupakan kombinasi dari keyakinan sufi dengan keyakinan Hindu. Sadruddin menyebut pengikutnya "Khoja", yang dalam bahasa Persia berarti orang yang terhormat.

Periode Koherensi dan Penyebaran

Selama bertahun-tahun dan beberapa abad, beberapa syaikh Sufi lainnya datang ke India untuk mendakwahkan mazhab ini, dan gagasan-gagasan Ismailiyah Nizari menyebar luas di wilayah ini. Proses ini meningkat, terutama setelah kunjungan Agha Khan pertama dari Iran ke India pada bulan Ramadhan 1260 H / September 1844 M. Komunitas religius Khoja disebut Jamaah dan dan rumah-rumah ibadah mereka "Jamatkhana", yang dulu merupakan tempat ibadah dan interaksi sosial mereka dan masih ada.

Sampai saat itu, populasi Khoja telah meningkat di wilayah Koch di Gujarat India. Beberapa dari mereka pergi ke Mumbai dan Muscat. Mereka membayarkan zakat mereka ke Jamatkhana dan sangat selaras dengan komunitas penganut mereka.

Setelah masuknya Agha Khan pertama kali ke India, lebih banyak perhatian difokuskan pada urusan komunitas Khoja. Hal ini menyebabkan munculnya beberapa perselisihan di antara masyarakat, dan sebagai hasilnya, beberapa kelompok terpisah dari Jamatkhana atau diusir. Misalnya, keluarga Habib Ibrahim, sebuah keluarga yang berpengaruh, yang berpisah dari kelompok dengan mengabaikan perintah Agha Khan karena perlunya pemberian aset kepada anggota Jamatkhana. Mereka kemudian memeluk mazhab Ahlussunnah.

Pada tahun-tahun awal abad kesembilan belas, sejumlah Khoja melakukan perjalanan ke Najaf untuk berziarah, di mana mereka bertemu dengan Sheikh Zainal Abidin Mazandarani, mujtahid yang terkenal pada masa itu. Selama pertemuan tersebut, mereka sampai pada kesimpulan bahwa mereka membutuhkan pemimpin agama untuk datang ke India dan memimpin mereka.

Pada tahun 1860 hingga 1870, seorang ulama India bernama "Mulla Qadir Husain" yang tinggal di Karbala untuk menyelesaikan pelajaran agama bertemu dengan sejumlah Khoja Zanzibar dan Bombay di Karbala. Mulla Qadir mengajarkan mereka untuk membaca Alquran, ajaran Islam, dan cara salat yang benar dan berbicara tentang kebesaran Imam Ali (as). Dia mengerti bahwa mereka telah menerima ide-ide yang salah tentang Imam Ali (as) dan menganggap beliau sebagai manifestasi Dewa Wisnu, jadi dia memutuskan untuk mengenalkan mereka dengan keyakinan-keyakinan Syiah. Dia pergi ke Bombay untuk membimbing para Khoja, Mulla Qadir mendirikan sebuah sekolah di Bombay dan mengajar keyakinan-keyakinan mazhab Syiah Itsna Asyariyyah.

 

http://iqna.ir/fa/news/3793880

 

 

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\