IQNA

Puncak Bulan Rajab Adalah Ayyamul Bidh

7:43 - January 04, 2026
Berita ID: 3483229
IQNA - Ayyamul Bidh yakni hari-hari dengan malam-malam cerah, yang berarti tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah.

Menurut Iqna, Ayyamul Bidh berarti hari-hari dengan malam-malam cerah. Artinya tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah yang memiliki "malam-malam yang diterangi bulan". Ayyamul Bidh atau "hari-hari cerah" adalah bulan-bulan istimewa seperti Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan dan memiliki arti penting khusus bagi umat Islam, terutama Syiah, dan acara khusus diadakan pada hari-hari ini.

Hujjatul Islam wal Muslimin Syekh Abbas Saraf, seorang ahli agama di Husainiyah Hazrat Rubab (sa), berkata: “Potensi tauhid dan spiritual bulan Rajab sangat besar; berbahagialah orang-orang yang memanfaatkan momen-momen di bulan ini”.

“Ayyamul Bidh di bulan Rajab, tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas, adalah saat-saat yang harus dimanfaatkan,” jelas pengajar hauzah ilmiah tersebut.

Abbas Sarraf melanjutkan: Ayyamul Bidh berarti hari-hari yang cerah dan terang, yang berarti bahwa selama hari-hari ini terjadi peralihan dari kegelapan dan kesuraman. Ketika Nabi Adam diturunkan dari surga ke bumi, wajahnya menjadi gelap dan ia menderita karena kegelapan ini untuk waktu yang lama; bagaimana ia beralih dari kegelapan ke terang? Karena Ayyamul Bidh inilah Tuhan menciptakan hari-hari ini agar kita dapat mengabdikan beberapa jam untuk kesendirian dan hanya berbicara kepada Tuhan. Selama Ayyamul Bidh dan iktikaf, kita menyingkirkan ponsel kita dan hanya sibuk bermunajat dan berdoa.

Hujjatul Islam Abbas Sarraf menganggap puncak bulan Rajab adalah Ayyamul Bidh dan menekankan: Salah satu doa terpenting yang harus kita perhatikan selama Ayyamul Bidh adalah doa “Ya Muqil al-Atsaraat”. Yakni, “Ya Allah yang mengurangi kesalahan, Ya Allah yang mengabaikan kesalahan,” dan doa “Ya Mubaddila al-Sayyiat bi al-Hasanat,” Ya Allah yang mengubah yang buruk menjadi yang baik. Marilah kita memohon kepada Allah dengan kalimat ini berulang-ulang.

Di penghujung, pakar agama ini menyatakan bahwa pada malam dan siang tanggal 13 Rajab, bertawassullah kepada Sayyidah Fatimah binti Asad (sa), ibu dari Imam Ali (as). Ia adalah sang penyelesai masalah. (HRY)

 

4326346

captcha