IQNA

Wawancara;
8:34 - November 27, 2019
Berita ID: 3473633
PAKISTAN (IQNA) - Mengacu pada ketidakefisienan Organisasi Kerjasama Islam dalam isu-isu seperti krisis Kashmir, masalah Palestina dan Muslim Myanmar, ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan menyebut organisasi tersebut sebagai lembaga yang tidak efektif dan sebuah permainan oleh beberapa penguasa dan menekankan perlunya mendirikan organisasi yang aktif dan berpengaruh di bidang ini.

Ali Nawaz Chohan, seorang pengacara dan ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan, saat wawancara dengan IQNA menyebut tiga masalah terpenting yang dihadapi dunia Muslim; masalah Palestina, Kashmir, dan salah tafsiran tentang Islam.

Masalah Kashmir

Terkait kondisi Muslim Kashmir, pengacara Pakistan ini mengatakan, “Sekitar empat bulan telah berlalu sejak pengumuman  keadaan darurat di Kashmir; selama waktu ini, orang-orang Kashmir telah ditekan dan banyak perempuan dan anak-anak meninggal. Sekarang ada 6.000 tentara India di sana untuk menindas orang-orang Kashmir. Orang-orang Kashmir hanya menginginkan hak untuk menentukan nasib mereka sendiri, yang telah diambil pemerintah India. Pemerintah telah berjanji kepada komunitas internasional untuk mengadakan referendum di sana, tetapi gagal memenuhi janjinya dan menghapus otonomi Kashmir.

"Ini adalah masalah hak asasi manusia dan kami dapat membawa kasus ini ke Pengadilan Kriminal Internasional," katanya tentang langkah-langkah yang dapat diambil secara internasional, terutama oleh negara-negara Islam, untuk menyelesaikan krisis Kashmir. “Inilah yang ingin dilakukan pemerintah Pakistan, tetapi saya tidak tahu mengapa sejauh ini hal itu belum tercapai. Jika negara-negara Muslim bersatu dan mengangkat masalah ini di PBB, akan ada banyak kekuatan untuk mencegah berlanjutnya kekerasan pemerintah India di wilayah tersebut.”

OKI, Permainan di Tangan Sebagian Para Penguasa/ Perlunya Menciptakan Sebuah Organisasi Aktif Islam

Terkait penilaiannya tentang reaksi negara-negara Islam terhadap situasi di Kashmir, ia mengatakan: "Negara-negara Islam sejauh ini hanya membicarakan masalah ini, tetapi belum ada tindakan efektif yang dilakukan. Jika kita tidak mengambil tindakan terhadap berbagai masalah Islam, seperti kasus Palestina, dunia Islam akan sangat menderita."

Masjid Babri

Terkait masjid Babri, Chohan mengatakan, "Mahkamah Agung India dalam hal ini sebagai pengadilan yang tidak memihak seharusnya membela hak-hak semua orang India dari Hindu hingga Muslim, tetapi tidak melakukan tugasnya. Tempat ini telah sejak lama menjadi masjid, dibangun pada masa Mughal dan diambil dari orang-orang Muslim dengan dalih bahwa itu adalah tempat kelahiran salah satu dewa Hindu. Jika pengadilan ingin menjalankan keadilan, maka harus menjaga masjid dengan cara yang sama dan memberikan tanah kepada umat Hindu untuk membangun sebuah kuil. Mereka bahkan belum mengalokasikan ukuran masjid Babri untuk membangun masjid alternatif bagi umat Islam dan ingin memberi mereka sebidang tanah kecil.

Tantangan Dunia Islam

Berbicara tentang tantangan paling penting di dunia Muslim, Chohan mengatakan: “Menurut saya, ada tiga tantangan besar yang dihadapi umat Islam. Salah satu tantangan adalah masalah Kashmir. Tantangan kedua adalah masalah Palestina dan tantangan ketiga adalah interpretasi ideologis, seperti interpretasi Islam yang dibuat sendiri oleh ISIS. Ini adalah ancaman besar bagi Pakistan dan juga Timur Tengah, dan menyebabkan gelombang besar para pencari suaka untuk melarikan diri ke Eropa dan tempat lain. Oleh karena itu, terorisme yang dihasilkan dari tefsiran yang keliru tentang Islam adalah salah satu tantangan utama di dunia Islam. Taliban adalah contoh lain dari ekstremisme yang diciptakan AS dan sekarang ditentang.

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan tentang situasi Muslim Cina mengatakan: Situasi minoritas Muslim Uighur di negara itu sangat menyedihkan. Banyak yang berada di kamp tahanan. Cina berusaha untuk membenarkan ini, tetapi tanggapan dari negara-negara Muslim sangat lemah.

Chohan menekankan: Muslim Rohingya di Myanmar juga sangat menderita dan banyak dari mereka telah terlantar akibat kekerasan tentara dan melarikan diri ke Bangladesh dan negara-negara lain. Pada sebuah konferensi di Nepal, saya menyerukan penyelidikan atas situasi umat Islam di negara itu, tetapi dunia Muslim tetap bungkam tentang masalah ini dan Muslim Myanmar masih menderita. Jika kita tidak bersatu dan tidak menanggapi penderitaan umat Islam, situasi ini akan terus berlanjut.

Pengacara Pakistan ini mengungkapkan, OKI adalah sebuah lembaga yang mati yang tidak mengambil tindakan efektif. Organisasi ini adalah sebuah permainan di tangan beberapa penguasa. Organisasi ini bahkan bisa ikut campur tangan dalam perang Irak - Iran, tetapi tidak melakukan apa-apa.

OKI, Permainan di Tangan Sebagian Para Penguasa/ Perlunya Menciptakan Sebuah Organisasi Aktif Islam

"Kita perlu menciptakan organisasi lain yang aktif dan simpatik, yang berbicara tentang masalah dunia Muslim, meningkatkan kesadaran publik dan menyatukan dunia Islam melawan para penindas," kata ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan. Untuk membentuk organisasi seperti itu, kita harus meningkatkan kesadaran kaum Muslim dan para elit harus bersuara.

Hambatan Solidaritas Islam

Ketika ditanya apa hambatan bagi solidaritas Islam di dunia Muslim, ia mengatakan: Hambatan terpenting adalah bahwa pemerintah yang tidak demokratis ada di beberapa negara Islam. Mereka tidak mengizinkan aturan hukum dan kebebasan berekspresi, seperti yang terjadi pada masa Muammar Gaddafi di Libya atau waktu Hosni Mubarak di Mesir. Masalahnya adalah bahwa di negara-negara ini, bukanlah institusi populer, dan satu orang sebagai pembuat keputusan, dan para penguasa ini sering acuh tak acuh terhadap penderitaan dan masalah umat Islam di dunia.

 

https://iqna.ir/fa/news/3858751

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\