IQNA

12:07 - January 18, 2020
Berita ID: 3473854
SELANDIA BARU (IQNA) - Sejumlah laporan menunjukkan bahwa sekitar sepuluh bulan setelah serangan terhadap dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang merenggut nyawa banyak jamaah, pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan komunitas Muslim tidak lagi ramai.

Menurut laporan IQNA dilansir dari The Guardian, sepuluh bulan setelah serangan teroris mematikan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, satu supermarket yang melayani komunitas Muslim ditutup dan supermarket lainnya kemungkinan akan dijual.

Mereka yang menjalankan toko mengatakan penurunan bisnis adalah karena pembunuhan puluhan keluarga pencari nafkah.

Di antara para korban yang tidak terselamatkan dari serangan teroris Maret lalu di masjid-masjid Selandia Baru adalah Amjad Hamid, seorang ahli jantung dan ayah dari dua anak di Christchurch yang juga menjalankan perusahaan makanan Mediterania yang dikelola keluarga, Mefco.

Sejak kematiannya, saudaranya Iman Hamid dan keponakannya, Noor Hamid, telah mengelolanya di sana. Keluarga Hamid harus menaikkan harga dan mengiklankan tempat untuk dijual karena kurangnya pendapatan.

Menurut Noor Hamid, bisnis telah dikelola dengan kesulitan ekonomi sejak pindah ke lokasi baru di Christchurch, tetapi telah turun drastis setelah serangan terhadap masjid.

Dia berkata, “Kami sebelumnya membuat roti tiga kali lipat dan semuanya terjual. Tetapi kini kami memasak seminggu sekali dan masih ada sisa yang belum terjual.”

Pemerintah Selandia Baru menyediakan paket bantuan keuangan dan saran keuangan untuk bisnis-bisnis yang terkena dampak serangan masjid. Tetapi ini hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di dekat Masjid Linwood yang terpaksa ditutup setelah penembakan dan kemudian mencoba bangkit berdiri di atas kaki mereka.

 

https://iqna.ir/fa/news/3871785

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\