IQNA

12:27 - October 18, 2020
Berita ID: 3474694
TEHERAN (IQNA) - Pemerintah Prancis telah mengintensifkan Islamofobia yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu dengan menutup puluhan masjid dan pusat-pusat Muslim serta mengusir lebih dari 200 Muslim asing.

Hindustan Times melaporkan, di Prancis, meskipun ada wabah Covid-19, intoleransi terhadap Muslim sedang meningkat, dengan lonjakan mengkhawatirkan dalam Islamofobia sejak Januari 2020, dan 73 masjid, sekolah, dan pusat-pusat milik Muslim telah ditutup.

Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, langkah itu ditujukan untuk memerangi "Islamisme ekstremis", kendati demikian Prancis tampaknya mengikuti Cina dalam melanggar hak budaya dan agama Muslim.

Darmanin baru-baru ini mengklaim pada konferensi pers bahwa pada bulan September, 12 tempat yang merebakkan ekstremisme ditutup, termasuk toko, sekolah ilegal, pusat keagamaan, dll, dan total 73 tempat milik Muslim telah ditutup sejak awal tahun. Sementara itu afiliasi tempat-tempat ini dengan gerakan pro-ekstremis masih dipertanyakan. Masjid yang tidak terdaftar, pusat budaya, sekolah Islam, dan lima toko menjadi sasaran para pejabat Prancis.

Menteri dalam negeri Prancis telah mengklaim bahwa beberapa toko minuman keras telah ditutup karena kaitannya dengan "Islam radikal", sebuah klaim yang tidak berdasar karena alkohol dilarang dalam Islam. Darmanin mengklaim dalam salah satu tweetnya: “Salah satu tugas dasar pemerintah adalah memastikan bahwa sekolah ilegal tidak beroperasi dan tidak menggantikan sekolah formal di negara ini.”

Awal bulan ini, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengumumkan sebuah rencana untuk membela nilai-nilai sekuler Prancis terhadap apa yang disebutnya "radikalisme Islam" dan menggambarkan Islam sebagai agama "dalam krisis" di seluruh dunia.

Ini bukan pertama kalinya tindakan semacam itu diambil untuk mencegah penyebaran Islam di negara yang merupakan agama terbesar kedua di Prancis setelah Kristen itu. Otoritas Prancis sebelumnya telah melanggar hak wanita Muslim untuk memilih dan bebas dengan menerapkan langkah-langkah seperti melarang jilbab untuk siswa di sekolah dan melarang burqa.

Kendati demikian, tidak ada seorang pun di Prancis modern, seperti Macron, yang secara langsung mengkritik Islam sebagai sebuah agama, dan tidak ada pemerintah yang melanggar hak budaya Muslim seperti yang dilakukan oleh pemerintahnya. (hry)

 

3929666

Kunci-kunci: Peningkatan ، Islamofobia ، Prancis
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\