IQNA

Mohammad Bayat:

Realisasi Prediksi Pemimpin Revolusi tentang Badai Al-Aqsa dan Perang Gaza

11:45 - June 20, 2024
Berita ID: 3480287
IQNA - Seorang pakar masalah Timur Tengah, dalam sebuah laporan yang meninjau realisasi prediksi Ayatullah Khamenei mengenai kemungkinan operasi badai Al-Aqsa dan perang Gaza, menekankan pemimpin revolusi memperingatkan terhadap ketergantungan beberapa negara Islam pada Amerika dan rezim Zionis.  Dalam pemikiran politiknya, masa depan adalah milik Palestina dan Zionis berada dalam kondisi lemah dan terpuruk meski memiliki manifestasi lahiriah dari kekuatan material.

Menurut Iqna, mengutip basis informasi Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Khamenei, terjadinya operasi badai Al-Aqsa dan runtuhnya mitos tak terkalahkannya tentara Israel menunjukkan bahwa analisis pemimpin revolusi mengenai kegagalan dan keruntuhan rezim Zionis akan terjadi. Dalam laporan yang ditulis oleh Mohammad Bayat, pakar masalah Timur Tengah ini, kami akan meninjau realisasi prediksi Ayatullah Khamenei mengenai kemungkinan operasi badai Al-Aqsa dan perang Gaza.

Berjudi pada kuda yang kalah!

Ayatullah Khamenei, pada tanggal 3 September 2023, dalam pertemuan dengan para pejabat, duta besar negara-negara Islam dan tamu-tamu Konferensi Persatuan, mengatakan: “Pandangan pasti Republik Islam adalah bahwa pemerintah yang menjadikan pertaruhan normalisasi [hubungan] dengan rezim Zionis sebagai contoh dan cara bekerja untuk diri mereka sendiri adalah sebuah kesalahan dan akan kalah; kerugian menanti mereka; seperti yang dikatakan orang-orang Eropa, mereka bertaruh pada kuda yang kalah.  Saat ini, negara rezim Zionis bukanlah negara yang mendorong kedekatan dengannya; mereka seharusnya tidak melakukan kesalahan ini. Rezim perampas kekuasaan akan lenyap. Saat ini, gerakan Palestina menjadi lebih aktif dibandingkan sebelumnya dalam 70/80 tahun ini. Anda dapat melihat bahwa saat ini pemuda Palestina dan gerakan Palestina, gerakan anti-perampasan, anti-tirani, anti-Zionisme lebih energik, lebih segar dan siap dari sebelumnya, dan Insya Allah gerakan ini akan membuahkan hasil,

dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam (qs) tentang rezim perampas ini dengan sebuah "kanker", kanker ini pasti akan diberantas dengan rahmat Allah swt melalui tangan rakyat Palestina dan kekuatan perlawanan di seluruh kawasan.

Hanya beberapa hari setelah menyampaikan pidato bersejarah ini, Mujahidin Gerakan Islam Hamas cabang Ezzedin Qassam memasuki wilayah pendudukan dalam operasi yang mengejutkan dan memberikan pukulan telak terhadap tentara dan struktur intelijen rezim Zionis.

Sementara otoritas Amerika telah mempersiapkan persiapan normalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv, operasi badai petir di Al-Aqsa yang diikuti dengan serangan besar-besaran tentara Israel di jalur Gaza menyebabkan penangguhan dan penundaan proyek strategis ini.

Banyak analis percaya bahwa dengan kesyahidan hampir 40.000 warga Palestina dan meningkatnya sentimen anti-Israel di kalangan opini publik, negara-negara Arab berada dalam situasi “jalan buntu” dan tidak dapat lagi memilih opsi untuk menormalisasi hubungan dengan rezim pendudukan Yerusalem tanpa jawaban nyata terhadap permasalahan Palestina. Dengan kata lain, segala bentuk kompromi apa pun dengan rezim pendudukan terlepas dari situasi Palestina dan Yerusalem akan menyebabkan para pemimpin negara-negara Islam dibenci di depan persatuan bangsa dan opini publik.

Kegagalan janji Netanyahu di rawa Gaza

Tidak terpenuhinya ketentuan kabinet darurat nasional rezim Zionis dalam perang Gaza merupakan prediksi lain pemimpin revolusi mengenai perkembangan terkini di wilayah pendudukan Palestina. Pada tanggal 3 Maret  2024, ketika merangkum enam bulan perang Gaza, beliau berbicara tentang dua kekalahan mendasar Zionis di Jalur Gaza. Dalam hal ini beliau mengatakan: “Kekalahan pertama mereka terjadi pada 7 Oktober dan penyerbuan al-Aqsa, ketika rezim yang mengklaim dominasi intelijen dan militer mengalami kegagalan intelijen yang sangat besar dari kelompok perlawanan dengan sumber daya terbatas, dan kekalahan dan penghinaan terhadap rezim Zionis tidak pernah bisa diperbaiki dan itu tidak akan terjadi." Ayatullah Khamenei menyebut kekalahan kedua Zionis sebagai kegagalan dalam mencapai tujuan yang diumumkan dalam serangan di Gaza.

Beliau mengisyaratkan pada fakta bahwa rezim Zionis menikmati dukungan penuh militer-finansial dan politik dari Amerika, termasuk hak veto terhadap resolusi tersebut dan kebohongan murni dengan menyebut resolusi baru-baru ini tidak mengikat dan menambahkan, “Terlepas dari semua dukungan ini, Zionis bahkan tidak dapat mencapai satu pun tujuan yang mereka nyatakan.”

Pemimpin Revolusi Islam menambahkan: "Mereka ingin menghancurkan perlawanan dan khususnya kelompok Hamas, sementara saat ini Hamas dan Jihad Islam serta kelompok perlawanan Gaza sedang memukul rezim pendudukan dengan menanggung permasalahan."

Bukti kerentanan sarang laba-laba

“Kekalahan yang tidak  dapat diperbaiki” rezim Zionis terhadap perlawanan Palestina adalah kata kunci lainnya, dan dengan kata lain, prediksi Yang Mulia mengenai situasi tentara Israel dalam perang Gaza.

Mempertanyakan mitos “tak terkalahkan” Israel di kawasan Asia Barat telah menyebabkan banyak rencana Amerika untuk mendefinisikan kembali tatanan kawasan dan membentuk satu blok Ibrani-Arab melawan poros perlawanan untuk menghadapi tantangan yang serius ini. Prediksi pemimpin revolusi mengenai “peleburan” rezim Zionis dalam waktu dekat bukanlah sebuah kata-kata yang berdasarkan spekulasi, melainkan sebuah pengumuman publik atas hasil perencanaan, ketekunan, dan upaya bertahun-tahun para anggota poros perlawanan terhadap musuh Zionis di wilayah Mediterania timur.

Dalam pandangan ini, rezim Zionis tidak memiliki tempat di masa depan Asia Barat karena puluhan pendudukan, pembunuhan dan pelanggaran hak-hak negara-negara Islam, dan rezim Zionis harus siap menghadapi babak baru perlawanan dalam rangka pembebasan Palestina dan tempat kiblat pertama bagi umat islam yaitu Quds. (HRY)

 

4222266

captcha