IQNA

Film/ Tanah Baratha; Rumah Maryam dan Tempat Kelahiran al-Masih (as)

13:22 - December 28, 2025
Berita ID: 3483197
IQNA - Pentingnya Masjid Baratha bukan hanya karena kehadiran bersejarah pasukan berjumlah 100.000 orang dari Amirul Mukminin Ali (as) dan shalatnya saat kembali dari Perang Khawarij di Baghdad, tetapi juga karena hubungannya yang mendalam dengan akar Alquran tentang kelahiran Isa Al-Masih (as) di tanah suci ini dan rumah Maryam (as).

Menurut Iqna mengutip situs web Masjid Agung Baratha, masjid di pinggiran Baghdad ini lebih dari sekadar tempat suci Syiah; ia merupakan bukti nyata konvergensi mendalam ajaran Islam dan Kristen pada abad-abad awal Islam. Menurut riwayat sejarah yang dapat dipercaya dari Syekh Shaduq dan Syekh Thusi, masjid ini dibangun di tempat Imam Ali (as) melaksanakan shalat setelah pertempuran dengan kaum Khawarij, sebagai penghormatan terhadap tempat suci tersebut. Di tempat ini, seorang rahib Kristen memberi tahu Imam (as) bahwa tanah ini adalah rumah Maryam (as) dan tanah Isa (as) sebagaimana dijanjikan dalam kitab-kitab suci; tempat yang dikonfirmasi sendiri oleh Imam dengan mengungkapkan mata air Maryam (as).

Masjid Baratha di dekat Baghdad selalu dikenal sebagai salah satu pusat spiritual utama di Irak. Pentingnya masjid ini bukan hanya karena kehadiran bersejarah pasukan seratus ribu orang pimpinan Amirul Mukminin Ali (as) dan shalatnya saat kembali dari perang Khawarij, tetapi juga karena hubungannya yang mendalam dengan akar sejarah Isa Al-Masih (as) dan Maryam (as).

Konfirmasi Ilahi tentang Kesucian Tanah

Menurut sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Jabir bin Abdillah Ansari, setelah shalat berjamaah di Baratha, yang sebelumnya merupakan sebuah biara, seorang rahib Kristen turun dari biaranya dan, mengamati keagungan komandan tentara, menanyakan identitas Imam (as). Dengan menekankan temuannya dalam kitab-kitab suci, rahib Kristen itu menyatakan bahwa tempat ini memiliki tempat khusus dan bahwa ia telah membangun biaranya untuk menghormatinya.

Sang rahib kemudian menjelaskan bahwa tempat ini, Baratha, adalah "rumah Maryam (as) dan tanah Isa (as)" di mana para nabi terdahulu telah berjanji bahwa penerus Nabi akan turun. Setelah percakapan ini, Imam Ali (as) memukul tanah, membuka mata air Maryam (as) dan memerintahkan agar digali sedalam tujuh belas hasta hingga muncul batu putih.

Imam (as) menekankan bahwa Maryam (sa) telah meletakkan Isa (as) di tanah di tempat itu dan berdoa. Kemudian Imam (as) shalat di atas batu yang sama dan tinggal di sana selama empat puluh hari.

Arsitektur Masjid dan Kegiatan Budaya

Masjid Baratha, yang dibangun berdasarkan nilai sejarahnya, telah direnovasi berkali-kali, dan renovasi terbaru telah memperluas areanya menjadi sekitar empat ribu meter persegi. Dengan dua menara yang ada saat ini dan atap kayu jati, kompleks ini merupakan simbol perpaduan seni arsitektur Islam dan pelestarian keaslian sejarah.

Salah satu kegiatan terpenting masjid ini adalah menyelenggarakan acara-acara keagamaan, perayaan kelahiran dan acara berkabung para Imam as). Acara nisyfu Sya'ban, ritual Tasu'a dan Asyura Huseini, acara penyambutan bulan suci Ramadhan, dan jamuan maukib-maukib Arbain Huseini juga diselenggarakan di masjid ini. (HRY)

 

4324838

captcha